Deteksionline.com, Jakarta – Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman mengatakan bahwa kemacetan yang terjadi di Jakarta kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19.

Hal tersebut, berdasarkan persentase indeks kemacetan yang terjadi di Ibu Kota DKI Jakarta.

“Pada 2019, Jakarta indeks kemacetannya sudah di angka 53 persen. Kalau sudah di angka 50 persen itu sangat mengkhawatirkan, apalagi angka 40 persen, berarti sudah tidak nyaman,” kata Latif, melalui pesan tertulisnya, Rabu, (25/1/2023).

Menurut Latif, pada tahun 2020, indeks kemacetan Jakarta berada di angka 36 persen. Penurunan indeks kemacetan lalin tersebut terjadi, lantaran mobilitas masyarakat kala itu dibatasi ketika saat pandemi.

Tak hanya itu saja, penurunan indeks kemacetan itu terus mengalami penurunan di tahun 2021 ke angka 34 persen. Kemudian di kuartal pertama 2022, indeks kemacetan Ibu Kota mengalami peningkatan hampir 48 persen atau hampir 50 persen. Namun hingga akhir 2022, Latif mengaku belum mendapatkan data indeks kemacetan Jakarta.

“Tahun 2017 kita pernah menempati peringkat kemacetan ranking empat dunia. Kemarin di 2021 kita di ranking 46 karena pandemi, dan di 2022 ini perkiraan saya sudah 50 persen ke atas,” jelas Latif.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, selama tahun 2022 tercatat sudah ada 22 juta pergerakan kendaraan dengan asumsi jumlah penduduk 10,7 orang.

“Akibat kemacetan ini, pengendara diperkirakan mengalami kerugian sekitar 30 menit dalam perjalanannya dan negara dirugikan lebih dari Rp 70 triliun,”tutupnya.