Deteksionline.com, Jakarta – Pembunuhan sadis kembali terjadi di hutan halmahera timur. Deretan kasus tersebut dari waktu ke waktu terus berulang.

Tidak hanya di Halmahera timur, namun juga terjadi di hutan halmahera tengah. Pembunuhan tersebut dilakukan dengan pola yang sama, namun sejauh ini motiv pembunuhan tersebut belum diungka oleh pihak kepolisian setempat.

Sehingga kepercayaan public terhadap Polres Halmahera Timur dan Halmahera Timur tergerus akibat dari penanganan kasus pembunuhan yang setengah hati dan tidak pada penyelesaian masalah sebenarnya.

Akibatnya, peristiwa pembunuhan ini seperti satu perayaan tahunan bahwa setiap tahun kemungkinan akan ada yang meniggal dengan cara yang mengenaskan, dibunuh dan dicincang oleh para pelaku yang lebih dari satu orang.

Mereka adalah gerombolan teroris berkedok orang yang tak dikenal (OTK). Meski begitu, status OTK ini masih sebatas pelabelan, padahal ini adalah terror dan ancamana nyata bagi masyarakat setempat.

Kali ini, Pembunuhan sadis kembali terjadi di Halmahera Timur, Maluku Utara. Seorang petani Talib Muid di Desa Gotowasi, Kecamatan Maba Selatan ditemukan meninggal dengan tubuh penuh luka bacok.Almarhum diserang orang tak dikenal di kebunnya pagi tadi, sekira pukul 09.00 WIT.

Menurut cerita warga, peristiwa penyerangan itu bermula saat petani 57 tahun itu bersama istrinya Rabeha Ijo sedang membuat kopra di kebun mereka. Tak lama, pasangan suami istri itu didatangi warga setempat yakni Suraida dan Naima yang mencari rotan di sekitar kebun korban.

Motif pembunuhan sama dengan kasus kali Waci. Tubuh korban dicincang menggunakan parang hingga kepala dan tangan kiri korban nyaris putus. Pelaku pembunuhan belum diketahui.
Sebelumnya, sekitar tahun 2003 atau 2004 seorang warga Desa Gotowasi berjenis kelamin perempuan juga tewas dibunuh di hutan.

Tubuhnya juga dicincang.
Deretan peristiwa ini membuat warga kembali turun ke jalan menggelar aksi di Polres Haltim. Aksi meminta pelaku pembunuh ditangkap, dan Kapolres diganti.

Masih ingat dengan peristiwa berdarah di hutan Kali Waci pada tahun 2013, 2016, dan 2019.

Tujuh warga Waci yang dibunuh secara keji, dan tubuh mereka dicincang (mutilasi). Mereka dibunuh saat berada di hutan. Sejumlah pelaku merupakan warga atau suku yang sudah lama mendiami hutan belantara Halmahera dan memiliki rumah di kampung.

Kematian 7 Warga Desa Waci menyimpan duka sangat dalam. Keluarga, Istri dan anak para korban hanya meratapi kesedihan. Kini duka itu kembali terjadi. Kali ini warga desa Gotowasi. Seorang pria paru baya tewas dibunuh secara sadis oleh orang tak dikenal (OTK).

Kematian pria paru baya bernama Talib Muid (65) ini tanda rendahnya jaminan keamanan kepada warga Kecamatan Maba Selatan.
Tragedi Kali Waci dan Gotowasi menjadi peringatan agar warga harus selalu berhati-hati. Sebab, kematian warga Gotowasi ini motifnya sama dengan kasus pembunuhan di Kali Waci.

DERETAN KASUS PEMBUNUHAN
Berdasarkan pemberitaan media delta.com, terdapat rangkaian peristiwa pembunuhan pada Tahun 1985 seorang warga Waci bernama Kasiruta Kantor meninggal di hutan karena dibunuh.
Tahun 2013 di hutan kali Waci. Sepasang suami istri (pasutri) dibunuh secara keji oleh orang tak dikenal (OTK).

Tubuh kedua pasutri ini dicincang. Korban atas nama Arbae Ahmad dan Adanan Ruba dibunuh saat berada di kebun.

Namun, hingga kini pelakunya belum ditemukan. Kemudian di tahun 2016, kasus serupa kembali terjadi.

Seorang ayah bernama Mashud Matoa dengan anak lelakinya Boni Mashud tewas dibunuh di hutan kali Waci.Motif pembunuhan yang dilakukan pelaku kepada kedua korban sama dengan kasus pembunuhan pasutri di tahun 2013.

Sebelum dibunuh, para pelaku menyerang korban yang saat itu bersama 4 rekan masing-masing Abjan Bakir, Abutalib Bakir, Jabanur Bakir, dan Kifli Djafar menggunakan anak panah dan tombak.
Dalam peristiwa ini, 4 korban selamat. Atas kesaksian ke 4 korban selamat ini pelaku dari kasus pembunuhan berhasil diungkap.

Motif pembunuhan yang dilakukan pelaku kepada kedua korban sama dengan kasus pembunuhan pasutri di tahun 2013.

Sebelum dibunuh, para pelaku menyerang korban yang saat itu bersama 4 rekan masing-masing Abjan Bakir, Abutalib Bakir, Jabanur Bakir, dan Kifli Djafar menggunakan anak panah dan tombak. Dalam peristiwa ini, 4 korban selamat. Atas kesaksian ke 4 korban selamat ini pelaku dari kasus pembunuhan berhasil diungkap.

Dalam kasus pembunuhan ini polisi berhasil menangkap 6 dari 12 pelaku. Para pelaku merupakan warga Haltim atau suku yang kerap mendiami hutan Halmahera.

Hago Baikole, Rinto Tojou, Toduba Hakaru, Ao Gihari , Sabtu Tojou. Sedangkan 8 pelaku lainya berstatus DPO yang hingga kini belum juga ditangkap oleh Polres Haltim.

Oleh karena itu, demi menjaga keamanan dan stabilitas social di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, maka kami mendesak kepada Kapolri dengan tuntutan sebaagai berikut:

1. KAPOLRI SEGERA COPOT KAPOLRES HALTIM DAN HALTENG YANG DIDUGA GAGAL DALAM BEBERAPA KASUS PEMBUNUHAN HALTIM DAN HALTENG

2. KAPOLRI SEGERA BENTUK TIMSUS UNTUK MELAKUKAN PENYISIRAN TERHADAP PELAKU PEMBUNUHAN DI HUTAN HALTIM HALTENG

3. TNI, POLRI PEMKAB HALTIM, PEKBAB HALTENG, GUBERNUR, MENGHADIRKAN POS KEAMANAN DI TITIK-TITIK RAWAN HUTAN HALMAHERA

4. PRESIDEN RI SEGERA MENJADIKAN KASUS PEMBUNUHAN INI SEBAGAI PERHATIAN KHUSUS NEGARA TERHADAP DAERAH

5. KAPOLRI MENGINSTRUKSIKAN KAPOLDA MALUKU UTARA AGAR KASUS PEMBUNUHAN INI DIJADIKAN SEBAGAI PENANGANAN HUKUM PRIORITAS DI MALUKU UTARA.

JIKA TUNTUTAN INI TIDAK DIINDAHKAN, MAKAKAMI AKAN MELAKUKAN MOSI TIDAK PERCAYA KEPADSA TNI POLRI DAN KEMBALI DENGAN MASA YANG LEBIH BESAR LAGI.

SUDIONO HI. DIKIR