Deteksionline.com, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengaku jadi korban yang dirugikan atas kasus kredit fiktif yang dikeluarkan oleh anak buahnya.

Kepala Cabang Bank BRI Tanah Abang, Arry Sabdo Ananto mengatakan, pihaknya sudah memproses kasus tersebut secara hukum bersama dengan penegak hukum.

“BRI yang juga menjadi korban telah melaporkan dan memproses kasus tersebut secara hukum sejak tahun 2016 dan bersama pihak berwajib telah melakukan langkah-langkah hukum serta memproses kasus tersebut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku,” Kata Arry Sabdo Ananto dalam keterangan tertulisnya, Selasa, (26/7/2022).

Ia mengungkapkan kasus tersebut telah selesai diproses dan para terdakwa sudah dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

“Saat ini kasus tersebut telah selesai dan diputus oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dimana Pihak-pihak yang terlibat dengan tindak pidana tersebut juga telah dijatuhi sanksi dan hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” Ungkapnya.

Arry Sabdo Ananto mengaku BRI berkomitmen untuk menjunjung nilai-nilai Good Corporate Governance (GCG) dengan mengedepankan prinsip prudential banking dalam setiap menjalankan operasional bisnisnya.

Sebelumnya, enam terdakwa kasus kredit fiktif Bank BRI Cabang Tanah Abang dengan PT Jasmina Asri Kreasi (JAK) atas nama terdakwa Dinni Nurdiana (Manajer Pemasaran pada Bank BRI Kantor Cabang Tanah Abang), Shinta Dewi Kusumawardhany (Relationship Manager pada Bank BRI Kantor Cabang Tanah Abang), Jasmina Julie Fatima (Direktur Utama PT JAK) Max Julisar Indra (Komisaris PT JAK), Annatasia Rany Nur (pegawai PT JAK) dan Sunarya alias Ryan (pegawai PT JAK) dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana Korupsi yang merugikan Negara sebesar Rp 95.404.225.425.

Para terdak atas nama Dinni Nurdiana dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan membayar uang pengganti sebesar Rp1.150.000.000, Shinta Dewi Kusumawardhany dijatuhi hukuman 7 tahun penjara dan membayar uang pengganti sejumlah sebesar Rp 5.625.000.000, Jasmina Julie Fatima dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan membayar uang pengganti sejumlah Rp 57.395.954.036, Max Julisar Indra dijatuhi hukuman 6 tahun penjara dan membayar uang  pengganti sejumlah Rp.22.090.306.639, Annatasia Rany Nur dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan membayar uang pengganti sejumlah Rp1.544.603.750, dan terdakwa Sunarya alias Ryan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan membayar uang pengganti sejumlah Rp 7.598.361.000.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kasi Pidsus Kejari Jakpus), Yon Yuviarso mengatakan, saat ini kasus tersebut masih dalam proses ditingkat banding.

“Masih proses, kemarin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah putus. Sekarang masih proses lagi. Ada yang banding ada yang kasasi,” Ungkap Yon Yuviarso saat dikonfirmasi, Rabu (27/7/2022).

Sementara itu, Deputi Direktur Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dody Ardiansyah, bungkam saat dikonfirmasi terkait dengan upaya yang dilakukan oleh OJK terkait kasus tersebut dalam melakukan perlindungan konsumen dalam bentuk pencegahan kerugian Konsumen dan masyarakat, pelayanan pengaduan konsumen, dan pembelaan hukum terhadap para korban.(Dom).