Kapolres Tubaba Lampung Janji Tinjau Kasus Dugaan Pelaporan Palsu

  • Share

Foto // Bantang Singkong yang dituduhkan hilang itu ternyata masih ada

Lampung,deteksionline.com-Kisruh di tanah Umbul (dukuhan) atau tanah ulayat, tanah adat semakin memanas hingga ke ranah hukum dan menimbulkan korban laporan palsu.

Pengacara Zainal, S.H, dalam menanggapi kasus tanah umbul mengatakan, Profesionalisme Polres Tubaba dipertaruhkan, jika penyidik tidak profesional dan netral maka korban laporan palsu akan terus bertambah, persoalan adat harus dikembalikan kepada adat karena adat merupakan hukum tak tertulis di sebuah daerah namun memiliki kekuatan dan kepercayaan tinggi di kalangan masyarakat tertentu hukum adat bisa jadi sebuah terobosan didalam menyelesaikan masalah dalam bentuk restoratif justice.

Menurut ahli waris dari Sutan Kemala Jagat (Bahdarsyah) Madrus Selasa 13/07/2021 tanah adat yang terletak di Tiyuh (Ds)Pagar Dewa seluas kurang lebih 100 hektar peninggalan Sutan Kemala Jagat yang merupakan tetua, buyut atau datuk nya kini diakui oleh Aswari yang notabene keturunan (ahli waris) dari Sutan Raja Terus dari garis keturunan dan suku yang berbeda seperti yang tertulis dalam surat keterangan yang diketahui oleh Kepala Desa Sutan Tulin TH 1991 kala itu.

Lebih jauh Madrus menjelaskan didalam keterangan ahli waris tersebut terdapat nama saya (Madrus) selaku ahli waris tanah dengan bagian 2 hektar dan pada TH 1991seluruh ahli waris dari keturunan Sutan Raja Terus dan Sutan Kemala Jagat (Bahdarsyah) sepakat melepas haknya tak terkecuali paman Aswari kepada PT. Arya Dwipantara (ADP) dengan alas hak sertifikat HGU selama 30 Th dan TH 2021 HGU ADP habis namun sebelum 2021 yakni TH 2000 ADP tidak lagi menggarap tanah tersebut sehingga tanah itu jadi terlantar (lahan tidur).

Jelasnya, Aswari punya hak adat berupa tanah 11 hektar dari garis keturunan Sutan Raja terus sedangkan Madrus punya hak adat berupa tanah 100 hektar dari garis keturunan Sutan Kemala jagat (Bahdarsyah) atau Ibrahim Manobatin dengan titik atau locus yang berbeda.

Masih menurut Madrus, karena tanah tidak lagi diurus oleh ADP dan menjadi lahan tidur maka para ahli waris dari dua keturunan berbeda Madrus dan Aswari memanfaatkan tanah peninggalan datuk – datuk dan tetua kampung tersebut dengan menanam kelapa sawit hal ini juga dipicu dengan kejatuhan Presiden Soeharto TH 1998 dimana seluruh masyarakat serempak memanfatkan lahan – lahan tidur sesuai anjuran pemerintahan era reformasi saat itu.

“jadi alasan saya menggarap tanah umbul karena itu sudah ditinggalkan oleh ADP dan HGU nya sudah habis sehingga tanah itu kembali lagi kepada ahli waris dari Sutan Raja terus diwakili Aswari dan Sutan Kemala jagat, Bahdarsyah atau Ibrahim Manobatin diwakili saya (Madrus) jadi dimana letak menyerobotnya? kita memanfaatkan lahan peninggalan buyut kita masing – masing, yang saya tidak terima adalah saya difitnah dituduh menyerobot tanah Aswari padahal saya menggarap tanah yang memang menjadi bagian saya yaitu 2 hektar saja sedangkan tanah bagian Aswari dari pamannya masih dalam garapannya Aswari dan tidak saya sentuh,” ucap Madrus kesal.

Kalau dibilang saya menyerobot tanah milik Aswari tanah yang mana karena baik Aswari maupun Saya sama sama memanfaatkan lahan tidur milik ADP atau yang kemudian dialihkan ke PTVN VII.

“Saya menilai penyidik Polres Tubaba tidak profesional dalam menerima laporan tuduhan penyerobotan tanah dan pencurian batang singkong  yang dilakukan Aswari karena 1. Aswari tidak memiliki alas hak tanah umbul (adat) 2. Locus tanah yang dilaporkan tidak sesui dengan yang saya garap 3. Aswari tidak punya bukti, saksi, petunjuk pelaku pencuri batang singkong kok bisa laporan itu diterima,” ungkap Madrus.

Lanjut Madrus, karena tidak terima dituduh, difitnah mencuri batang singkong, saya pada senin 12/07/21 melaporkan Aswari (Pelapor) dengan pasal 220 KUHP dan 317 KUHP terkait laporan palsu, fitnah, yang membuat nama saya tercoreng dengan bukti kuitansi pembelian batang singkong dan saksi saksi namun Ridwan Penyidik (Tubaba menolak laporan kami, ada apa?,”

Keterangan Madrus terkait riwayat tanah terkonfirmasi oleh keterangan dari salah satu warga Ds Pagar Dewa Juanda, “yang sekarang meributkan tanah adat itu ( Madrus dan Aswari) sama-sama memiliki hak terhadap tanah tersebut namun dengan lokasi yang berbeda. Selasa 13/07/21 dikantor Ds. Pagar Dewa.

Sementara keterangan Juanda dikuatkan oleh Kepala Desa Pagar Dewa Hasanudin dirumahnya, “sebenarnya mereka itu punya hak masing – masing dari keturunan masing – masing, saya akan coba mencari solusi untuk mempertemukan kedua belah pihak, tanah umbul Bembang itu sebenarnya sudah dibagi – bagi oleh tetua atau datuk – datuk mereka terdahulu dan Aswari ini tidak tahu sejarah sehingga terjadi kisruh begini, ungkapnya.

Sementara itu penyidik Polres Tubaba Hendri Manalu mengatakan,” laporan Aswari belum kami terima karena tidak punya alas hak tanah, percayalah kami profesional dan kami merah putih,”

Senada dengan Hendri Kapolres Tubaba AKBP Hadi Saepul Rahman, S.I.K, melalui saluran whatssapnya berjanji akan mengcroschek perkara yang sedang ditangani anggotanya tersebut,

“Saya akan cek kronologis kasusnya dan segera menggelar perkara kasus dugaan pelaporan palsu demi kepastian hukum, percayalah kami akan bekerja secara profesional dan sesuai perintah Kapolri Yakni bertugas sebagai Polri yang “Presisi” yaitu prediktif, responsibility dan transparansi berkeadilan, tegasnya Rabu 14/07/21…(Darsani)

 255 total views,  5 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *