Ahmad Basarah: Pancasila Puncak Kebudayaan Indonesia

  • Share
“Dengan kata lain, pembangunan kebudayaan Indonesia artinya, menurut istilah Bung Karno,  sebagai nation and character building,” kata Basarah yang juga Ketua Umum DPP PA GMNI ketika membuka webinar  prakongres bertema ‘Tantangan dan Strategi Kebudayaan dalam Memperkokoh Kepribadian Bangsa’, di Jakarta,  Kamis (22/4/2021).Acara ini merupakan rangkaian  menuju Kongres IV PA GMNI yang dijadwalkan berlangsung19-21 Juni mendatang di Bandung, Jawa Barat. Pembicara dalam webinar kedua ini itu antara lain Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid, mantan Wakil Menteri Pendidikan Wiendu Nuryanti, akademisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ibnu Maryanto, Budayawan Erros Djarot, Soetanto Soephiadhy dari Universitas Airlangga, dan Wayan Sudarmaja sebagai penyantun Rumah Budaya Bedahulu Ubud Bali.

Basarah mengatakan webinar seri kebudayaan dilakukan sejalan dengan amanat pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1966 yang isinya antara lain menyebutkan,  pembangunan suatu bangsa harus disandarkan pada jiwa yang besar. Tidak akan mungkin tujuan pembangunan bisa tercapai manakala pembangunan tidak disandarkan pada pembangunan karakter. “Sekali lagi, mutlak perlunya nation and character building,” kata Basarah

Doktor hukum lulusan Universitas Diponegoro melanjutkan, Pancasila sebagai ekspresi dari cipta, rasa, dan karsa bangsa Indonesia yang dirumuskan dan disepakati oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya adalah puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah cita-cita peradaban tertinggi bangsa Indonesia.

“Pancasila sebagai puncak kebudayaan nasional juga bukanlah ideologi utopia, tapi Pancasila sebagai ideologi yang dinamis dan dapat bekerja di tengah masyarakatnya,” tegasnya.

Ia mengambil contoh di masa pandemi Covid-19 ada kewajiban dalam setiap agama untuk membantu kesulitan sesama umat manusia. Dalam Islam disebut zakat, di agama Katolik ada ajaran amal kasih, di agama Kristen ada ajaran persepuluhan dan persembahan. Di agama Hindu ada ajaran Dana dan Danapunya. Begitu juga dalam agama Budha ada ajaran Anisa Dana. Hal tersebut, ujar Basarah, adalah implementasi dari sila Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menekankan pentingnya pengembangan kebudayaan tradisional.  Menurutnya, budaya nasional berakar pada tradisi dan kebudayaan tradisional. Pengembangan kebudayaan menjadi salah satu strategi dari Kemendikbud.

“Saat ini banyak orang yang tidak lagi bersentuhan dengan tradisi masa lampau. Kita juga sudah lakukan perluasan kegiatan seni, pertunjukan festival, dan lain-lain. Tujuannya adalah membangun interaksi masyarakat lebih luas. Intinya adalah membuka ruang interaksi luas dengan masyarakat, dan hasilnya bagus. Yang jelas kebudayaan nasional tumbuh di dalam kerangka aksi. Kepribadian nasional tak bisa tumbuh dalam ceramah, pidato dan lain-lain,  Ia harus dikerjakan dalam bentuk nyata,” kata Wimar.

Sementara itu, Wiendu Nuryanti menekankan pentingnya menggarap generasi milenial sebagai kekuatan penopang kebudayaan. Maka strategi kebudayaan yang harus dilakukan adalah dengan menciptakan milenial sebagai agen pencipta. Hal lain yang juga disampaikan adalah pentingnya diplomasi kebudayaan.

Duta Besar RI untuk Austria Darmansyah Djumala dalam tanggapannya  menekankan pentingnya membuat narasi baru tentang diplomasi kebudayaan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Diplomasi budaya tidak hanya menampilkan produk kultural saja, melainkan menyuguhkan narasi baru, yaitu proyeksi terhadap nilai-nilai yang akan diproyeksikan ke luar negeri.

“Berpikir dan bersikap moderat dan toleran adalah jatidiri bangsa kita. Inilah yang saya sebut dengan proyeksi nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam diplomasi kebudayaan,” katanya.

Sementara itu,  Budayawan Eros Djarot menguraikan pentingnya memahami budaya bangsa dengan utuh. Pemahaman ini menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi terkini. Bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara saat ini tidak perlu melakukan invasi militer, melainkan cukup dengan melakukan invasi budaya.

“Kenyataan inilah yang harus kita pahami. Intinya kita harus kembali kepada hal mendasar. Kembali kepada jati diri, nation and character building. Pembukaan UUD tahun 1945 sebagai hasil kebudayaan bangsa Indonesia harus dijadikan pedoman dalam membangun dan mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia dari derasnya arus globalisasi,” tegasna (KE)

 203 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *