Oknum Petugas Vaksinasi Covid-19 RSUD Tamansari Tidak Profesional dan Mengecewakan

  • Share

JAKARTA, Dereksionline.com: . Oknum petugas Vaksinasi Covid-19 RSUD Taman Sari berinitial AN (wanita) tidak professional dan mengecewakan bahkan terkesan menyepelekan.

Perpres No. 14 Tahun 2021 Tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 99 Tahun 2020 Tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinsinasi dalam rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), Pasal 13A ayat (1) Kementrian Kesehatan melakukan pendataan dan menetapkan sasaran penerima Vaksin COVID-19. Ayat (2) Setiap orang yang telah ditetapkan sebagai sasaran penerima Vaksin COVID-19 berdasarkan pendataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti COVID-19.

Khronologis.

Pendaftaran melalui website www.kemenkes.go.id, Ketua RT. 004, RW.03 Kel. Glodok membantu warganya mendaftarkan ke situs tersebut.

Output dari pendaftaran tersebut, tanggal 08 Maret 2021 warga mendapat mendapat sms dari RSUD Taman Sari yang menyatakan bahwa nama tersebut akan menerima vaksinasi Covid-19 di RSUD Taman Sari esok hari setelah membalas sms yang menyatakan bersedia untuk divaksin.

Keesokan harinya, Selasa (09/03/2021), dengan diantar oleh keluarganya, datanglah ke RSUD Taman Sari yang berada di Jalan Madu No. 10. Kec. Taman Sari Jakarta Barat.

Pengambilan nomor antrean melalui Satpam, dengan nomor antrean 78. Di meja no. 1, Petugas Vaksinasi Covid-19, menanyakan darimana asal pendaftaran. Warga menjawab, dari sms. Petugas tersebut berinitial AN meminta KTP untuk didaftarkan di Kemenkes sebagai peserta penerima Vaksin COVID-19. Terdaftarlah warga tersebut, yang dibuktikan dengan Formulir Pernyataan Regitrasi Sasaran Vaksinasi Covid-19 Nomor. P-73G7HXS8. Lengap data diri dan nomor HP, dengan kelompok penerima : Lansia, dan Profesi Lansia. Petugas tersebut meminta untuk memotret hasil pendaftaran yang tertera di Laptop petugas, seperti yang disarankan melalui sms agar membawa HP yang berkamera. Petugas juga memberikan bukti kepada warga bahwa namanya telah siap divaksin di RSUD Taman Sari berikut Vaksinasi Ke-2 tertanggal 8 April 2021.

Setelah menunggu panggilan, di Meja no. 2, diperiksa tensi darah dan persyaratan medis  lainnya. Saat akan divaksin, doktr bertanya, apakah dua minggu terakhgir ini menderita batuk/pilek..? Warga tersebutpun menjawab, ada. Karena tugas di lapangan yang kadang juga membantu menjaga keamanan wilayah. Dokter menyarankan agar mengobati terlebih dahulu batuk/pileknya, dikhawatirkan adalah gejala Covid-19.  “Dua minggu lagi, datang kembali, setelah batuk/pileknya sembuh. Tolong bapak ke meja no. 1, agar didata kembali nanti dua minggu lagi untuk vaksinasi pertama”, dokter tersebut menegaskan.

Petugas meja no.1 pun memberikan catatan di kertas bukti pendaftaran , bahwa vaksin pertama tidak dilakukan karena ada batuk/pilek, dan menyarankan agar datang kembali dua minggu kemudian. Petugas itupun mengatakan “Bapak nanti langsung aja datang dan ambil nomor di sekuriti dengan membawa kertas ini. Gak perlu daftar lagi d sms”.

Sesuai dengan jadwal, 23 Maret 2021, warga pun datang ke RSUD Taman Sari untuk memperoleh vaksinasi pertama yang ditangguhkan karena pilek yang dideritanya. Setelah memberikan data, sekuriti meberikan nomor antrian 47B.

Saat dipanggil ke meja no.1, petugas agak terkejut dengan nomor antrean yang diberikan. “Pak. Bapak kan vaksin pertama. Nomor ini untuk antrean Vaksin kedua.”, katanya. Wargapun menjawab “Saya tidak tahu bu, nomor ini diberikan oleh sekuriti”. Petugas itupun memanggil sekuriti untuk mengganti nomor urut antrian. Akibatnya, warga tersebutpun menunggu panggilan berikutnya.

Ketika dipanggil kembali, petugas pun menanyakan nomor antrean, KTP dan bukti pemberian vaksin yang dikeluarkan oleh RSUD Taman Sari. Dengan senyum petugas tersebut mengatakan “Pak, bapak belum usia 60 tahun, jadi tidak bisa divaksin”.

Warga tersebutpun terkejut mendengar hal ini dan mengatakan “Kenapa baru sekarang diberitahu bahwa tidak boleh divaksin. Saat pendaftaran pertama, saya di data oleh ibu yang itu”, sambil menunjuk kea rah petugas yang mendaftarkan diri pertama.

“Saya didata dengan KTP. Andaikan saya tidak boleh kenapa waktu itu tidak diktakan bahwa saya tidak boleh divaksin karena usia saya belum 60 tahun. Dan saya juga idaftarkan oleh Ketua RT saya dan mendapat sms yang menyatakan bahwa saya laik divaksin,” katanya.

.Petugas itupun mengelak dengan mengatakan “Pak, pendaftaran online tidak melihat usia. Setelah masuk, maka dipanggil lewat sms. Jadi kalau bapak mau memperoleh vaksin, ya menunggu beberapa bulan lagi, sesuai dengan tanggal lahir bapak.”

Warga pun kesal dan mengatakan kepada Petugas tersebut sambil menunjuk kembali kepada petugas AN yang mendaftarkan pertama saat mau divaksin “Kenapa waktu itu ibu tidak mengatakan saya tidak boleh divaksin. Saya sudah membuang waktu, transport dan meninggalkan aktivitas saya hari ini, karena akan divaksin. Ternyata setelah sampai disini, malah ditolak.? Koq se-enaknya aja bicara sepertini ini.?”

Petugas tersebut yang juga wanita hanya mengatakan “Mohon maaf pak. Kami tidak bisa mevaksinasi bapak. Tunggu saja nanti setelah tanggal lahir bapak”.

Seperti itukah petugas pelaksana vaksinasi Covid-19 di lapangan.? Tidak professional, tidak melihat juklak dan juknis lapangan. Menerima mentah-mentah data, menginputnya yang akhirnya menelantarkan penerima vaksin. Tidak memikirkan akibatnya.

Sebaiknya petugas tersebut tidak lagi bertugas sebagai pelaksana lapangan, mungkin lebih baik di belakang meja saja, karena merugikan masyarakat.

Penulis: bams 212

 1,382 total views,  2 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *