Bongkar Kasus Prositusi Online, Subdit Reknata PMJ Ciduk Artis CA

  • Share

JAKARTA,Deteksionline.com Bongkar kasus prositusi online yang melibatkan anak dibawah umur di Hotel Kreo, Tangerang, tiga tersangka diamankan Polda Metro Jaya. Tiga orang tersangka yang berhasil diamankan polisi tersebut, antara lain berinisial, DA sebagai Mucikari, AA sebagai pengelola hotel, dan CA yang tak lain adalah artis tanah air sekaligus pemilik hotel Alona Kreo.

Kabid Humas Pol, Yusri Yunus mengatakan, alasan penetapan publik figur Cynthiara Alona (AA) itu sebagai tersangka dalam kasus ini, lantaran artis AA mengetahui kegiatan prositusi online yang menjadikan hotelnya sebagai tempat pemuas lelaki hidung belang ini.

“Dia artis Cynthiara Alona ini, tahu dan membiarkan hotelnya dijadikan sebagai tempat prostitusi,” kata Yusri saat menggelar press release di Mapolda Metro Jaya, Jumat, (19/03/2021).

Selain tiga tersangka, Subdit Renakta pimpina AKBP H. Pujiyarto ini juga mengamankan 15 orang anak di bawah umur yang menjadi korban prostitusi online di Hotel yang dimiliki oleh Artis seksi Cynthiara Alona itu.

“Korban ada 15 orang, semua anak di bawah umur. Rata-rata umur 14 sampai 16 tahun, dan mereka sekarang dititipkan ke rumah Handayani. Nanti mereka mendapat trauma healing,” terangnya.

Yusri menyebutkan pengelola hotel, memang sengaja menyediakan tempat untuk prostitusi anak di bawah umur. Bahkan para tamu tak perlu menyerahkan identitas apapun seperti umumnya hotel lainnya.

“Manajemen hotel baik itu pemilik dan pengelolanya menyediakan tempat. Mereka bahkan mengetahui bahwa anak-anak yang menginap di sana nggak perlu kasih KTP, dengan harapan jumlah tamu bisa dipertahankan,” tambahnya.

Kepada polisi, Cynthia mengaku jika dirinya membiarkan hotelnya dibuat lokasi prostitusi selama masa pandemi Covid-19. Karena seperti diketahui, selama masa pandemi pendapatan hotel menurun jauh.

“Dengan menerima kasus-kasus untuk melakukn perbuatan cabul di hotelnya. Sehingga biaya operasional hotel bisa berjalan, ini motif menurut tersangka,” katanya.

Saat menjalankan aksinya, sambung Yusri, muncikari menawarkan anak di bawah umur melalui aplikasi MiChat. Untuk menjerat korban, para muncikari ini pura-pura menawarkan pekerjaan atau memacarinya.

“Tarifnya untuk sekali kencan Rp. 400 ribu hingga Rp. 1 juta. Nanti uang itu joki dapat, dan sebagian untuk korban,” terangnya

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto angkat bicara, terkait kasus prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di hotel itu.

Menurutnya, kasus eksploitasi anak marak terjadi di perhotelan. Sehingga atas dasar itu, Susanto berharap kasus prostitusi menjadi perhatian khusus oleh Kementerian Pariwisata.

Sebab, di Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 12 Tahun 2019 tentang Standar Usaha Hotel.

“Kasus eksploitasi di perhotelan tentu kami berharap dapat mendapatkan perhatian khusus dari kementerian pariwisata,” timpal Susanto.

Susanto berharap, Kemenparekraf bisa memaksimalkan aspek perlindungan anak dengan aturan yang ada, berkaca dengan maraknya kasus prostitusi belakangan ini.

Tujuannya, kata Susanto untuk mencegah anak menjadi korban dalam bisnis prostitusi tersebut.

“Semangatnya adalah untuk memperketat hotel bisa tumbuh, tetapi anak tidak boleh jadi korban kepentingan operasional,” tutup.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 76 I Jo Pasal 88 UU RI No 17 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 2 ayat (1) UU RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan atau Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 UU RI No 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 296 KUHP dan atau Pasal 506 KUHP. (Gomes).

 189 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *