AMPMT Gelar Aksi Di DPRD Malra desak Bentuk Pansus Covid-19

  • Share

MALRA, deteksionline.com- Aliansi Masyarakat Peduli Maluku Tenggara (AMPMT) resmi menggelar Aksi di depan gedung DPRD kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, senin (15/3/2021). dan Mendesak pihak DPRD segera bentuk Pansus Covid-19.

Penanggung jawab Aksi Fransiskus Safsafubun yang sering disapa dengan sapaan Bung Ephen dalam Orasinya meminta pihak DPRD Malra segera membentuk Pansus Covid-19 guna bertujuan untuk menggungkap dugaan penyalagunaan dana Covid-19 yang tidak sesuai peruntukannya.

Seusai Orasinya, Fransiskus Safsafubun selaku Penanggung jawab Aksi dengan resmi menyerahkan Dokumen Pernyataan sikap kepada Ketua DPRD Malra, Minduchri Kudubun bersama dengan lima anggota menerima pernyataan sikap AMPMT diruang kerjanya.

Lima legislator yang mendampingi, yakni Adolf Markus Teniwut, Ali Arsyad Ohoiulun, Cristo Beruatwarin, Paskalina Elmas, dan Eva Crisye Putnarubun.

Penyerahan dokumen Pernyataan sikap tersebut oleh penanggung jawab Aksi Fransiskus (Ephen) Safsafubun dan didampingi Gerry Lerebulan dan Barken Rahayaan setelah melakukan aksi demonstrasi di depan gedung wakil rakyat.

Ada tujuh Poin pernyataan sikap AMPMT tersebut yakni meliputi ;

Pertama, Anggaran pokok pikiran yang dihilangkan secara sepihak oleh pemerintah daerah dalam APBD tahun 2021 adalah perbuatan penghianatan terhadap lembaga legislatif, sehingga perlu dilakukan langkah lanjutan sesuai kewenangan DPRD.

Kedua, Refokusing dan realokasi yang menjadi pintu masuk ditetapkannya Rp 52 miliar dalam rangka pencegahan dan pemberantasan Covid-19 di Kabupaten Maluku Tenggara yang dalam implementasinya jauh dari publikasi, sehingga patut diduga terdapat praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Ketiga, Kepada pimpinan dan anggota DPRD, AMPMT mempertanyakan berapa jumlah dana yang terkumpul dari rasionalisasi belanja pegawai, rasionalisasi belanja barang/jasa, dan rasionalisasi belanja modal.

Keempat, AMPMT juga mempertanyakan mengapa sudah berada dalam bulan ketiga tahun 2021, (a) pemerintah daerah tidak pernah menyerahkan dokumen rincian dana yang terkumpul dari belanja yang dirasionalisasi untuk kepentingan pemberantasan Covid-19 kepada DPRD, dan (b) atas dasar apa pemerintah daerah tidak pernah menyerahkan dokumen rincian belanja dari dana Covid-19 kepada DPRD. Padahal dokumen APBD perubahan tahun 2020 dan penjabarannya menunjukkan belanja Rp 52 miliar tidak habis terpakai alias masih banyak dana Covid-19 di Maluku Tenggara yang belum diketahui rimbanya.

Kelima, AMPMT juga mempertanyakan dari Rp 52 miliar dana Covid-19 Maluku Tenggara, (a) berapa banyak yang dipakai untuk pencegahan dan pemberantasan Covid-19, dan (b) berapa banyak dana yang dipakai tidak sesuai peruntukannya.

Keenam, Bahwa selisih belanja untuk pencegahan dan pemberantasan Covid-19 dan penguatan ekonomi masyarakat serta belanja dana Covid-19 yang tidak sesuai peruntukannya tetap berada di kas daerah ka atau dititipkan di rekening lain.

Ketujuh, Pemotongan dana transfer ke daerah, dana desa, serta biaya operasional kesehatan (BOK) yang dilakukan pemerintah dengan merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 35/PMK.07/2020 adalah bukti dari adanya gagal paham dan kuatnya motivasi dalam diri untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan tanpa peduli terhadap ketentuan hukum dan perundang-undangan.

Berdasarkan tujuh tuntutan pernyataan sikap, maka dari itu AMPMT mendesak DPRD Malra untuk segera membentuk panitia khusus (Pansus) guna menghimpun, mengkaji dan menganalisis untuk upaya formal berikutnya.

Usai pertemuan, Ketua DPRD Malra Minduchri Kudubun menyampaikan kepada media komentar secara singkat. “Intinya semua laporan yang masuk di DPRD malra, kami siap menindaklanjuti,” ujar Minduchri.

(Jecko)

 182 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *