Benarkah Nabi Muhammad SAW Perintah Bunuh Non-Muslim Sampai Beriman?

  • Share

Ada salah memahami hadits

Jakarta, deteksionline.com– Ada sejumlah hadits yang disalahpahami sejumlah orang. Salah satunya hadits tentang mengatur non-Muslim sampai mereka mengatur Islam. Rasulullah SAW bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله

“Aku memerintahkan manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu maka telah terpelihara bagi mereka yang darah dan harta mereka kecuali hal Islam, lalu perhitungan atas mereka (masalah amal-amal mereka) dilakukan Allah SWT. ” (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain).

Jika membaca sekilas hadits tersebut akan membawa seseorang kepada seseorang yang ditugaskan kepada Allah SWT untuk mengubah seluruh manusia sampai mereka menerapkan Islam.

Namun, makna tersebut bertentangan dengan beberapa ayat Alquran yang memberikan kebebasan pada setiap orang untuk menganut dan mengamalkan agamanya. Misal, dalam surat al-Baqarah ayat 256:

لآ اكراه فى الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها والله سميع عليم

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sebenarnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Mahamendengar, Mahamengetahui. ”

Prof Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya “Islam yang Disalahpahami”, makna dari non-Muslim tersebut lahir dari kesalahan memahami hadits. Salah satu kesalahan kata an-nas (manusia) yang diimplementasikan seluruh arti manusia kapan pun dan di mana pun.

Namun, tidak semua kata an-nas topi seluruh manusia.

Selain itu, qital memang berarti peperangan yang melibatkan dua pihak. Namun, itu berbeda dengan kata qatl yang berarti membunuh.

Hadits di atas menggunakan kata  qatilu  bukan  uqtulu …

Hadits di atas menggunakan kata  qatilu  bukan  uqtulu . Ini berarti peperangan tidak harus menumpahkan darah. Jadi, hadits di atas tidak wajar diimplementasikan membunuh.

Akan lebih tepat jika diterapkan sebagai tindakan tegas yang menghalangi mereka dalam mencapai tujuan mereka.

Perlu diingat, banyak hadits yang melarang membunuh non-Muslim yang hidup damai di negeri kaum Muslim sehingga mereka mendapatkan jaminan keamanan.

Dalam konteks ini, Rasulullah bersabda sebagaiman yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA:

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما, عن النبي ﷺ قال: من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة, وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما

“Siapa yang membunuh (non-Muslim) yang telah terjamin keamanannya maka dia tidak akan menghirup aroma surga, padahal aromanya tercium dalam jarak perjalanan selama 40 tahun.” (HR Bukhari).

Bahkan, Allah secara tegas memerintahkan untuk mengizinkan non-Muslim menganut kepercayaannya. Allah juga memerintahkan untuk bekerja sama dalam meningkatkan tempat peribadatan non-Muslim. Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 40:

الذين اخرجوا من ديارهم بغير حق الآ ان يقولوا ربنا الله ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لهدمت صوامع وبيع وصلوت ومسجد يذكر فيها اسم الله كثيرا ولينصرن الله من ينصره ان الله لقوي عزيز

“(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka menyatakan,

“Tuhan kami artinya Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. “

Dapat dilihat, sasaran yang diperangi menurut hadits di atas adalah kaum musyrik yang mengatur kaum Muslim dan kala itu bermukim di Jazirah Arab.

Yang perlu disoroti, yakni memeranginya bukan tujuan mereka, menerapkan aturan mereka yang menghalangi Muslim melaksanakan tuntunan agamanya.

Jadi, perang yang dimaksud tidak harus sampai tingkat pembunuhan tapi dalam batas tegaknya kebebasan beragama .. (rplik)

 789 total views,  4 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *