Bongkar Kasus Penjual Satwa Liar Dilindungi, Tersangka YI Diciduk Polisi

  • Share

JAKARTA,Deteksionline.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya, berhasil membongkar kasus penjualan hewan liar yang dilindungi secara ilegal.

Dalam mengugkap kasus tersebut, seorang tersangka berinisial YI berhasil diamankan petugas. Warga asal Bekasi itu ditangkap petugas di Sukatani, Bekasi, Jawa Barat, pada 19 Januari 2021 lalu.

Guna melancarkan aksinya, dimana pelaku menyimpan, memelihara, lalu menjualnya di komunitas satwa liar di media sosial Facebook dan WhatsApp grup yang ada.

“Modusnya dengan cara menyimpan dan memelihara, memperniagakan satwa yang dilindungi ini. Kemudian masuk dan menawarkan dalam satu komunitas di medsos dan menawarkan di Facebook dan WA grup,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol, Yusri Yunus, kala menggelar press release di Mapolda Metro Jaya, Kamis (28/01/2021).

Untuk mengelabui petugas, pelaku kata Yusri berkamuflase, dimana pelaku hanya menampilkan hewan-hewan biasa saja.

Sementara hewan yang dilindungi, pelaku sembunyi, sebelum ada yang memesan hewan liar yang dilindungi pemerintah tersebut.

Tak hanya itu saja, aksi kejahatan itu, dijalani pelaku sejak bulan Agustus 2020 lalu, dengan cara menawarkan kepada pencinta satwa liar atau hewan-hewan tersebut. Pelaku meraup keuntungan mulai dari  Rp 1 juta, hingga Rp 10 juta rupiah per hewan setiap kali pemesanannya.

“Setiap binatang dia bisa mengambil keuntungan satu sampai Rp 10 juta. Ini sudah dijalankan Agustus 2020. Ini pengakuan dan kami masih dalami terus,” pungkas Yusri.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan 7 hewan langka. Yusri memerinci, 1 bayi Orangutan, 3 ekor Burung Beo Nias, dan 3 Ekor Burung Latung Jawa.

Direktur Jenderal Badan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno mengaku prihatin lantaran masih maraknya perdagangan hewan dilindungi di Indonesia. Sebab, hewan endemik yang ada di alam saat ini, jumlahnya semakin sedikit.

Bahkan, bayi orangutan yang dijual pelaku di pasar gelap tersebut, diambil dengan cara yang sadis, dimana induk orangutan dibunuh lalu  mengambil bayinya.

“Orangutan ini kan sifatnya kan aboreal di puncak pohon dan daya jelajahnya hingga 5 kilometer. Jadi bayi orangutan yang dijual itu diambil dengan cara membunuh induknya,” ujar Wiratno di Mapolda Metro Jaya, Kamis (28/1/21).

Pasaran harga bayi orangutan, kata Wiratno, cukup murah di Indonesia. Bayi orangutan yang diambil dengan membunuh induknya ini dijual dengan kisaran harga Rp. 35 juta.

“Jadi para mafia ini juga biasanya ada yang menjual bayi orangutan ke luar negeri. Di luar negeri bayi orangutan bisa dijual dengan harga 15 ribu US dolar, atau sekitar Rp. 200 juta,” jelasnya.

Sementara itu, perawatan terhadap bayi orangutan hasil perburuan ini, tidaklah mudah. Karena, sang induk sudah tidak ada, maka harus ada pendampingan sebelum bisa dilepasliarkan kembali ke hutan.

“Jadi dia harus ditempat yang tidak ada teritori orangutan yang lama tinggal di situ, dibiasakan dengan kondisi di hutan dan upaya dia untuk belajar kembali memanjat. Inilah yang saya dorong sebaiknya kita bisa mencegah terjadinya perburuan dan penembakan itu,” katanya.

Wiratno mengakui, penjualan hewan langka yang terungkap merupakan puncak gunung es. Namun jika melihat dari tren yang ada, kasus perburuan semakin tahun semakin menurun.

“Catatannya masih ada mafia ini, yang kedua kemarin kita merepratiasi 11 ekor orangutan, dua dari Thailand, sembilan dari Malaysia. Jadi ini jaringan pasarnya ke sana melalui jalur-jalur tikus pelabuhan-pelabuhan yang tidak terdeteksi ini problemnya,” terangnya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

(Gomes).

 194 total views,  2 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *