Terbitkan Berita Tambang, Wartawan RF Diduga Dipukul Preman

  • Share

Pangkalpinang, deteksionline.com- Tindak kekerasan kembali terjadi terhadap wartawan, saat ini terjadi di wilayah hukum Kota Pangkalpinang. 
Oknum masyarakat yang diduga preman berinisial CB dan kawan-kawannya melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap RF salah satunya wartawan Mapikor di Bangka Belitung.

Pasalnya Lantaran diduga tidak menerima aktifitas Tambang Timah jenis Tambang Isap (TI) dan Tambang galian C berupa pasir dan tanah di kawasan RTH Parit Enam diberitakan oleh wartawan.

Dan akibat pemberitaan itu, aktifitas tambang timah tersebut dan juga tambang galian C ditertibkan oleh pihak Polresta Kota Pangkalpinang beberapa hari yang lalu, Sabtu (9/1 ).

Berdasarkan keterangan RF (korban) yang juga merupakan kontributor berita media nasional dan daerah, kejadian tindak pidana penganiayaan terhadap dirinya saat usai melakukan peliputan pencairan dana BLT di kantor kas Bank Sumsel Babel yang bersebelahan di kantor Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di jalan Pulau Pelepas Air Itam Kota Pangkalpinang.

Sesaat ia dan rekannya Angga akan menuju ke mobil, dipanggil NS oleh salah satu kawanan CB agar menghampiri NS, NS ajakan RF berbincang terkait terbitnya pemberitaan aktifitas tambang dikawasan RTH Parit Enam .

Namun d ari arah sebelah kanan tampak CB dengan wajah yang penuh amarah menghampiri RF Dan CB langsung memukul wajah dan kepala RF, dan tak lama kemudian kawanan teman CB yang juga ikut memukul kepala RF, untunglah saat itu Angga dan anggota Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juwanda cepat melerai CB dan kawannya agar tidak melanjutkan penganiayaan terhadap RF.

Atas kejadian tindak pidana penganiayaan terhadap diri RF yang dilakukan CB bersama kawan-kawannya, RF didampingi sejumlah wartawan dan pengurus organisasi pers (PWRI, HPI dan FPII) di Bangka Belitung melaporkan tindak pidana penganiayaan dan intimidasi kekerasan terhadap profesi jurnalistik ke Mapolres Kota Pangkalpinang, dengan surat tanda terima laporan polisi Nomor: STTLP / LP B-8 / I / 2021 / SPKT RES PKP tertanggal 14 Januari 2021, Kamis (14/01/2021).

Akibat dari penganiayaan yang dilakukan CB dan kawan-kawannya katamata pelindung pecah, kepala RF masih terasa pusing dan sempat mengalami muntah-muntah.

Selain itu, intimidasi dalam tekanan psyikis lainnya pernah diterima oleh RF, seperti bodi mobil milik RF pintu sebelah kanan depan sampai ke bodi belakang tak luput menjadi sasaran digores dengan benda tajam sehingga menimbulkan lecet .

Sementara itu, Ketua PWRI Babel Meyrest Kurniawan terkait intimidasi dan kekerasan serta penganiayaan terhadap profesi jurnalis, meminta kepada Kapolres Kota Pangkalpinang AKBP Tris Lesmana Zeviansyah untuk segera menangkap pelaku CB dan kawan-kawannya dan menambah pasal 14 ayat 1 pasal pidananya undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 Tentang Pers.

”Kami berharap Kapolres Pangkalpinang segera menangkap pelaku penganiayaan rekan kami, pasal pidana umum 351 KHUP seyogyanya pelaku juga dijerat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Pasal 18 ayat 1 yang mengatur tentang ancaman pidana yaitu setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau melarang pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan (3) dipidana dengan penjara paling lama dua tahun atau membayar denda banyak 500 juta , ”Ungkap Meyrest.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Jaringan Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Romi Marantika dalam menjelaskannya menyampaikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum CB dan kawan-kawannya merupakan suatu tindakan Murni Pidana, untuk itu Polisi harus segera bertindak untuk menangkap para pelaku.

Lanjut Romi, dalam laporan Polisi jelas telah mengurus tindakan kriminal yang seharusnya polisi harus melakukan upaya penangkapan para pelaku karena sudah sesuai dengan KUHP Pasal 351, ayat 1 & 2, Junto Pasal 170 ayat 3 dan UU 40 Tahun 1999 Pasal 18 ayat 1.

”Jelas tindakan tersebut sudah melanggar KUHP Pasal 351 ayat 1 & 2, Junto Pasal 170 ayat 3 serta UU Pers Pasal 18 ayat,” tegas Romi.

Hal senada, juga disampaikan oleh Sekretaris HPI Babel Abdul Hamid SH, bahwa bukti dan fakta kejadian intimidasi dan kekerasan terhadap profesi seorang jurnalis sudah terjadi karena pelaku dan kawan-kawannya sudah berulang-ulang kali mendatangkan korban (RF) setelah berita terkait aktifitas tambang ilegal yang diback up pelaku dinaikkan oleh wartawan dan salah satu bentuk dari menghalang-halangi dan menghambat tugas jurnalis dalam melaksanakan tugasnya.

”Saya yakin dan percaya pihak Polresta Pangkalpinang segera pelaku pelaku penganiayaan rekan kami,” Pungkas Amek sapaan akrabnya.

(Vina)

 364 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *