Pemkab Mentawai Akan Menambah Luas Tanaman Sagu

  • Share

Mentawai, Deteksionoine.com-Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat, akan menambah luas lahan perkebunan sagu. Saat ini luas lahan sagu baru sekitar 1.224 hektar, dan pemanfaatannya juga baru sekitar 5 persen, sagu banyak terbuang percuma, sementara potensi lahan sagu tersedia 10.000 hektar baik di lahan rawa, tepi sungai maupun lahan kering yang masih dimungkinkan sagu untuk dbudidayakan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepulauan Mentawai Naslindo Sirait, pada acara Seminar Sagu, di Tuapejat baru-baru ini.

Naslindo mengatakan tujuan perlu adanya penambahan lahan perkebunan sagu karena ingin menjadikan perkebunan sagu di Kepualaun Mentawai berorientasi industri.

Selama ini sagu baru di manfaatkan untuk pangan lokal, sementara sagu selain untuk pangan juga punya peluang bisnis yang strategis.Tepung sagu dapat digunakan untuk banyak produk turunan selain untuk tepung sebagai sumber berbagai variasi makanan, sagu juga bisa digunakan untuk gula, energi juga untuk pupuk.

“Apabila kita bisa memanfaatkan sagu dengan membangun end product nya maka diperlukan luasan tanaman sagu yang cukup untuk sebuah industri sagu yang berkelanjutan.Karena itu kita akan budidayakan sagu dengan menambah luasan saat ini mulai tahun 2021, sehingga pada tahun 2025 kita sudah mulai industrialisasi sagu” katanya (21/10/2020).

Dia memperkirakan dari lahan sagu seluas 1 hektar saja bisa menghasilkan kurang lebih 20 ton sagu. Dan harga tepung sagu saat ini bisa di beli di harga Rp.19.000, Rp.24.000 dan Rp.30.000 per kilogramnya. Artinya keberadaan sagu sangatlah potensial untuk dikembangkan di Kepulauan Mentawai ini.

Apabila masing- masing petani memiliki 2 hektar kebun sagu, maka dipastikan pendapatan petani akan meningkat luar biasa dari hasil menjual sagu, dan kebun sagu terutama di lahan kering maupun lahan rawa bisa dilakukan dengan metode tumpang sari, menunggu sagu bisa di panen, bisa ditanami jagung, sayuran, atau tumpang sari perikanan seperti budidaya ikan lele, maupun tumpang sari peternakan misalnya memelihara itik.

“Potensi ekonomi industri perkebunan sagu sangat besar. Selama ini, penjualan sagu masih berupa tepung sagu basah nilainya secara ekonomi sangat rendah. Seharusnya diolah dulu menjadi tepung pati sagu yang kering,” ujar Naslindo kembali.

Menurut dia pati sagu berkualitas tinggi adalah pati yang putih, bersih, kering, dan tidak berbau. Untuk itu, pemerintah akan melakukan tiga intervensi yakni pada sektor agronomi/penanaman, pengolahan, dan pemasaran.

Pemasaran sekarang sudah mudah selain pasar ekspor yang terbuka peluang, pasar juga bisa dimasuki melalui platform yang ada semisal tokopedia, shopee atau jenis e-commerce lainnya yang bisa di ajak kerjasama”

“Kita coba memulai menanam bibit sagu saat ini, sambil juga kita akan meneliti varietas unggul. Kemudian, pemanfaatan teknologi atau mesin dalam pengolahan,” ucapnya.

Dengan demikian, Naslindo akan medorong dinas dinas terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar mulai merencanakan pengembangan dan pemanfaatan sagu di tahun 2021 dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat, melakukan berbagi pelatihan dan pengembangan keterampilan SDM baik dengan dana pemerintah ataupun melibatkan dana CSR.Di bagian hilir akan di dorong industri rumah tangga atau Perusda untuk membangun pabrik sagu dan menciptakan kewirausahaan di bidang sagu.

Sementara itu pada acara seminar sagu ini, Wakil Bupati Kepulauan Mentawai Kortanius Sabeleake mengatakan pengembangan perkebunan sagu itu juga sesuai dengan amanat rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2020-2024.

Dimana pemerintah berencana mengembangkan industri berbasis perkebunan sagu. Hal ini dikarenakan sagu sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Kepualaun Mentawai sejak dahulu kala dari ujung pucuk hingga akarnya.

“Kehidupan masyarakat di Kepulauan Mentawai tidak lepas dari keberadaan komoditas pangan sagu yang juga bagian dari budaya dan ada filosofinya,” sebut dia.

Dia menekankan bahwa sagu tidak hanya ditargetkan sebagai bahan pangan nasional namun merambah ke kancah internasional, memasuki pasar pangan dunia.

Untuk itu dikatakannya agar sagu di Kepulauan Mentawai bisa Go Nasional dan Internasional tentunya perlu ditingkatkan teknologi pertanian dalam pengolahannya.

“Jadi sagu ini selain menjadi sumber ketahanan pangan, ternyata sagu mengandung antioksidan dan baik untuk mencegah risiko penyakit jantung. Artinya sagu menyehatkan bila dikonsumsi dengan baik,” ungkap wabup.

Penulis ; Delau

 784 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *