Sidang Mark Up Harga Tanah, Junaidi Dituntut Empat Tahun

  • Share

JAKARTA, Deteksionline.com-Sidang virtual perkara mark-up harga jual tanah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang berlangsung Senin (28/9/2020) mengagendakan pembacaan tuntutan  Jaksa terhadap terdakwa Junaidi.

Dalam tuntutannya,  Jaksa menuntut terdakwa Junaidi dengan vonis 4 tahun penjara dikurangi masa tahanan. Jaksa penuntut Guntur membacakan tuntutan berdasarkan keterangan dari saksi-saksi yang terperiksa atas perkara mark-up jual beli tanah yang terletak di Kel. Cisarua, Kec. Cisarua, Kabupaten Bogor, oleh Prof Lucky (PT Jakarta Medika) dari pemilik Leonova Marlius pada tahun 2019.

Atas laporan Prof Dr Lucky Aziza tentang tindak pidana menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik, dan pemalsuan surat dan pengelapan dalam jabatan dan penipuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 266 KUHP dan pasal 263 KUHP dan pasal 374 KUHP dan pasal 378 KUHP sesuai Polisi Nomor : 7846/XII/2019/PMJ/Dit Reskrimum, tanggal 03 Desember 2019. Terlapor dalam kasus ini adalah Fikri Salim dan Junaidi.Dalam sidang terdakwa Junaidi, saksi-saksi mengakui ada dua akta pengikatan untuk jual beli dengan angka yang berbeda, yakni Rp1,1 juta dan Rp2 juta per meter. Akta tersebut diketik ulang oleh terdakwa Junaidi.Terdakwa membuat/mengetik kembali Akta Pengikatan Untuk Jual Beli yang dibuat oleh Notaris Arfiana Purbohadi, SH yang belum ada nomor tersebut dengan mengubah harga menjadi Rp2.000.000 permeter. Sehingga harga objek tanah Sertipikat Hak Milik No 525/Cisarua tersebut menjadi Rp1.440.000.000.

Atas mark-up tersebut, harga tanah yang yang terletak di Kel. Cisarua Kec. Cisarua Kab Bogor, Jawa Barat, yang tadinya harga sebesar Rp792.000.000 menjadi Rp1.440.000.000.

Sidang yang dipimpin oleh Hakim Tuty dengan hakim anggota Bambang dan Yusuf. Pemimpin sidang bertanya kepada terdakwa Junaidi atas putusan Jaksa. Terdakwa Junaidi mengucapkan meminta keringan hukuman atas tuntutan Jaksa tersebut.

Selanjutnya, atas sidang yang sama kasus mark-up jual beli tanah dengan terdakwa Fikri Salim mendengarkan dua keterangan saksi atas nama Toni dan Dila di PN Jakarta Pusat, Senin (28/9/2020).

Saksi Toni ditanya Jaksa soal akta pengikatan untuk jual beli tanah dengan angka berapa, saksi menjawab yakni Rp1,1 juta permeter. Jaksa bertanya kepada saksi mendapat komisi berapa dari jual beli tanah tersebut. Saksi Toni mendapat transfer dari ibu Nina Rp30 juta.

Sedangkan pada saksi Dila, Jaksa bertanya mengenai pembayaran. Saksi menjawab bahwa pembayaran dilakukan Fiksi Salim kepada adik Dila. Pembayaran sudah dibayar lunas dan ada kelebihan juga sudah dikembalikan oleh adik Dila.

Sementara itu, atas laporan Prof Dr Lucky Aziza terhadap Fikri Salim yang sudah divonis di Pengadilan Cibinong selama 6 tahun penjara mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Namun, Pengadilan Tinggi Jawa Barat menolak banding Fikri Salim dan menetapkan putusan selama 6 tahun penjara.

seperti diketahui, Pengadilan Negeri Cibinong mengadili perkara 281/Pid.B/2020/PN Cbi, Jumat 17 Juli 2020, menyatakan terdakwa Fikri Salim alias Kiki terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana “turut serta melakukan tindak pidana membuat surat palsu” sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua.

Pada sistem informasi penelusuran pengadilan tingkat banding, nomor perkara 289/PID/2020/PT BDG, pengajuan banding Fikri Salim ditolak. (mus)

 305 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *