Akhmad Elvian : Goresan Pigment Warna Merah di Bukit Batoe Poelai Desa Gudang

  • Share

Memperkaya Aset Pra Sejarah di Babel

Pangkalpinang, deteksionline.com – Temuan terhadap objek yang diduga cagar budaya yang ada di Bukit Batu Kepale Desa Gudang Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan terus mendapatkan perhatian dari para ahli sejarah Babel, Dinas Pariwisata Provinsi Babel, Dinas Pariwisata Bangka Selatan termasuk Balai Arkeologi Palembang dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Pihak ini pun juga sudah melakukan kunjungan langsung ke lokasi penemuan objek yang diduga cagar budaya di Bukit Batu Kepale Desa Gudang tersebut.

Kunjungan langsung ini sekaligus untuk melihat secara singkat apakah objek yang diduga cagar budaya di Bukit Batu Kepale Desa Gudang atau yang dalam peta-peta Belanda disebut Bukit Batu Poelai tersebut.

”Tim sudah datang untuk melihat apa ini memang hasil karya manusia atau hasil karya alam,” ujar Ahli Sejarah & Budayawan Babel, Akhmad Elvian yang juga ikut mendampingi saat tinjauan lapangan tersebut.

Akhmad Elvian melanjutkan, bahwa setelah dilakukan tinjauan singkat tersebut, diduga bahwa goresan-goresan yang menggunakan pigment warna merah di Ceruk Granit di Bukit Batu Kepale Atau Batu Poelai tersebut diduga adalah hasil karya budaya manusia masa lampau.

”Jadi bentuknya itu memang non piguratif yang artinya tidak secara natural digambarkan bentuk goresan atau lukisan tersebut apa , namun bentuk lukisan atau goresan itu lebih mengarah kepada semacam ekspresi dari para manusia yang mungkin singgah di ceruk tersebut atau diceruk granit tersebut”, ungkapnya, Jum’at (25/9/2020) di Pangkalpinang.

” Dan kita juga menemukan sedikitnya 4 ceruk granit di bukit Batu Kepale, oleh karenanya itu perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, kita siap mendukung dan membantu apalagi kepala Balai Purbakala Jambi ingin melakukan penelitian yang melibatkan interdisipliner ilmu. silahkan dilakukan oleh Balai Pelestrian Cagar Budaya dan Balai Arkeologi Palembang, karena mereka memiliki tenaga-tenaga Arkeologi dan Purbakala yang mumpuni,” tambah Elvian lagi.

Elvian mengatakan, dengan adanya berbagai penemuan situs bersejarah di Bangka Belitung, seperti halnya juga Peninggalan berbagai artefak di kawasan Cagar Budaya Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka, ditambah dengan temuan objek yang diduga cagar budaya berupa goresan-goresan yang menggunakan pigment warna merah di Ceruk Granit di Bukit Kepale Atau Batu Poelai, Desa Gudang tersebut tentu akan semakin memperkaya aset pra sejarah di pulau Bangka.

Disebutkannya, bahwa selama ini telah dikenal bahwa ada peninggalan Purbakala di Kota Kapur, Mendobarat yang diketahui sudah ada sejak abad ke-IV dan ke-V M dan tergolong pada masa pra sejarah Bangka.

“Ini artinya masa pra sejarah pulau Bangka itu bukan ruang kosong , tetapi sudah ada ruang setelah ditemukannya berbagai tinggalan purbakala di Kota kapur sebelum ditemukan prasasti Kotakapur yang berangka Tahun 608 Saka atau 686 Masehi atau sebelum abad ke-7 Mesehi , sudah ada tinggalan-tinggalan purbakala di pulau Bangka yang diperkirakan mewakili masa gaya pada abad ke-IV, dan ke-V Masehi”, kata Elvian lagi.

Kemudian Ia melanjutkan, Tinggalan purbakala di kawasan Kota kapur seperti tinggalan-tinggalan candi yang sudah tidak utuh lagi, arca-arca Wisnu berlengan 4 , ada juga benteng tanah, sisa-sisa dermaga dan papan-papan sisa perahu dengan teknologi ikat, atau kupingan pengikat.

”Jadi tidak ada sebenarnya yang namanya ruang kosong dalam masa purbakala atau masa prasejarah pulau Bangka. Masa prasejarah di Pulau Bangka itu ada, hanya saja para ahli belum mau mengungkapkan dan menulisnya secara komprehensif, makanya nanti kalau temuan terkait dengan lukisan atau goresan di Bukit Batu Poelai Desa Gudang tadi sebagai produk karya budaya masyarakat Bangka masa lampau, maka temuan ini tentu akan semakin memperkaya aset-aset pra sejarah sekaligus objek wisata sejarah di Bangka,” tambah Elvian lagi.

Ia menegaskan, bahwa dengan adanya penemuan-penemuan pra sejarah di Bangka tersebut, menandakan bahwa tidak ada ruang kosong dalam masa pra sejarah Bangka , hanya saja mungkin selama ini belum terekspos, tidak ditulis, tidak direkam dan disampaikan ke publik dengan baik.

“Nah kalau objek yang diduga cagar budaya di Batu Poelai atau Bukit Batu Kepala tadi setelah di teliti memang dari budaya manusia masa purbakala atau masa prasejarah , maka tentu ini harus segera dilindungi, sebab walaupun dia baru diduga sebagai cagar budaya sebagai produk manusia masa lampau , tetap harus dilindungi sama halnya dengan perlakuan, perlindungannya seperti cagar budaya lainnya,” dorong Elvian lagi.

Penulis ; Liya

 343 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *