LPPOM MUI Cium Modus Serangan Produk Luar Masuk Babel Saat Produk Lokal, Stop Produksi Akibat Covid

  • Share

Foto : Nardi Pratomo Direktur LPPOM MUI Babel

PANGKALPINANG, deteksionline.com- Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan & Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Republik Indonesia yang seyogyanya akan kembali mempercayakan penyelenggaraan event tahunan Halal Internasional Submit di Provinsi Bangka Belitung pada Oktober 2020 mendatang.

Tetapi kini sudah meresecudjle agenda tersebut dikarenakan pandemi covid19.Hal ini sebagaimana disampaikan Direktur LPPOM MUI Babel, Nardi Pratomo bahwa agenda tersebut seharusnya juga sekaligus akan membawa beberapa kepala negara dari negara tetangga ke Pulau Belitung.

Disamping pembatalan agenda tersebut beberapa kabupaten kota yang juga sudah menganggarkan dana untuk sertifikasi halal UKM di wilayahnya, tetapi ternyata harus realokasi dana guna penanggulangan covid.

Dan ada juga yang tetap menganggarkan, antara lain seperti Pemprov Babel untuk 220 UMKM, Pemkab Bangka 170 umkm dan Belitung. Kota Pangkalpinang pun sebagai ibukota Provinsi Bangka Belitung kita targetkan ke depan akan menjadi the real halal destinations tourism atau kota tujuan destinasi halal yang nyata.

Tetapi sebenarnya di tengah pandemi ini sertfikasi halal tetap harus dijalankan. Sehingga konsumen akan bisa mendapatkan perlindungan kehalalan dan sisi kesehatan yang sangat penting saat ini. Nardi.

“Sebenarnya kalau produk sudah di sertifikasi halal berati juga sudah mengikuti sistem jaminan halal, yang otomatis masalah kebersihan dan kesuciannya juga akan lebih terjaga dibandingkan produk yang belum disertfikasi halal,” sebut Nardi

Menurut Nardi, Babel ini sudah jadi lirikan nasional dan internasional, sebab sejumlah event besar pun akan siap dilaksanakan di Babel , salah satunya adalah kongres halal internasional 2022.

Ia berharap sertifikasi halal tetap menjadi perhatian walaupun di tengah covid. Apalagi Babel juga harus menjaga dari serangan produk-produk dari luar.

Auditor halal Babel juga sudah menemukan langsung banyak produk-produk dari Tiongkok yang belum bersertfikat halal yang mengandung bahan-bahan non halal masuk ke Babel.

Terlebih lagi produk-produk itu masuk di tengah kurangnya perhatian terhadap produk lokal, sehingga hal ini membuat ” gampang” produk luar masuk melalui warung-warung, mini market dan sebagainya.

“Jadi sistemnya yang masuk adalah yang produk yang terdaftar halal, tetapi justru pada saat distribusi yang non halal juga ikut , termasuk makanan-makanan kalengan. Praktek ini pun seakan juga memanfaatkan kondisi covid-19. Jadi yang sakit itu otomatis produk lokal, terpaksa stop produksi tetapi produk luar terus masuk,” ujarnya menyayangkan.

Penulis : Liya
Editor : Herman

 250 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *