Ini Sikap LPMP Babel Terhadap SKB4 Menteri

  • Share

Foto : Kepala LPMP Babel Hendri Gunawan

PANGKALPINANG, deteksionline.com –  Mendikbud Nadiem Makarim sudah mengizinkan adanya tatap muka di sekolah atau relaksasi kepada daerah-daerah yang sudah berstatus zona kuning dan zona hijau secara bertahap.

Tidak lanjut dari pernyataan Mendikbud tersebut pun sudah di tuangkan ke dalam Surat Keputusan Bersama ( SKB) 4 menteri. Tentang Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi sudah mulai dilakukan di daerah-daerah.

Keluarnya SKB 4 menteri ini juga cukup beralasan, sebab perlu di pahami bersama, bahwa pandemi ini  adalah masalah seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) bahkan memperkirakan  covid-19 akan terus ada,  oleh karenanya masyarakat tidak mungkin terus menerus tidak melakukan aktivitas.

“Jadi kalau pandeminya misalnya 10 tahun, apa iya anak-anak kita juga bakal tidak sekolah selama itu. Sehingga salah satu jalan keluarnya adalah harus beradaptasi dengan kebiasaan baru yakni melaksanakan relaksi proses KBM di daerah zona kuning dan zona hijau,”ujar Kepala LPMP Babel, Hendri Gunawan saat ditemui wartawan.

Lanjutnya, meskipun sudah ada pernyataan Mendikbud bahkan keluar SKB 4 menteri, tetap perlu ditinjau lagi oleh tim gugus tugas penanganan covid-19 di daerah masing-masing.Sebab yang tau kondisi daerah adalah gugus tugas dan kepala daerah.

Sedangkan SKB 4 menteri ini akan turun ke walikota/ bupati dan gubernur untuk ditindaklanjuti lebih lanjut dengan surat keputusan daerah bahwa daerahnya dipastikan aman untuk proses KBM secara bertahap.

Setelah adanya keputusan dari gubernur/ walikota dan bupati, maka Kadiknas di daerah tersebut akan membuat juknis terkait pembukaan sekolah dengan sistem tatap muka. Hendri mengaku yakin kalau sudah ada dasar hukum dan surat-surat juga sudah, maka akan ada 1 komponen lagi yang juga harus dipikirkan  yakni persetujuan orang tua.

“Waktu saya jadi narsumber di SMAN 3 kemarin, hal semacam ini juga sudah saya sampaikan bahwa sekolah harus bijak, artinya ketika tatap muka di perbolehkan bukan berarti misalnya semua anak juga boleh masuk melainkan harus mendapatkan izin orang tua.

Karenanya saya sarankan sebaiknya di sekolah ada 2 kurikulum  yakni kurikulum tatap muka  dan 1 lagi kurikulum pembelajaran jarak jauh (PJJ),”tambahnya.

Intinya ketika si anak tidak bisa datang ke sekolah , maka tetap bisa mengkikuti KBM dengan jarak jauh. Yang namanya khawatir juga tidak bisa hanya di rasakan orang tua tetapi juga guru juga sama.

“Makanya kita juga musti fair, sebab guru-guru ini juga harus diperhatikan untuk perangkat kesehatannya seperti masker, fasilitas pencuci tangan , sabun , sanitizer,”tambahnya.

Hendri juga menyayangkan karena selama ini sekolah juga sering jadi “tersangka” seperti kasus di Banyuwangi ada siswanya yang positif covid tetapi yang disalahkan adalah sekolah, tetapi ternyata setelah di tracing sang siswa tertular dari sang ayah yang baru pulang dari tugas luar daerah.

Tetapi di sekolah tidak tertular karena protokol covidnya ketat. Makanya ini perlu kita di edukasi ke masyarakat, jangan sampai kalau ada apa-apa sekolah yang harus tanggungjawab.

Padahal di sekolah guru juga khawatir tertular.”Jadi kesimpulan untuk tatap muka musti harus ada prosedur hukumnya, juknisnya,izin dari orang tua, dan sekolah juga tidak bisa memaksakan pada anak-anak yang masih ingin belajar dengan sistem PJJ,”sebutnya.

KBM tatap muka juga tetap memperhatikan protokol kesehatan sekolah.Termasuk kapasitas lingkungan atau ruang kelas tidak boleh melebihi 50 persen. Bagi anak-anak yang naik angkot umum sebaiknya juga tidak usah bersekolah dulu  kecuali diantar para orang tua  guna menghindari dari penularan covid-19 selama perjalanan.

“Saya yakin kalau ini dipenuhi maka saya yakin tidak akan jadi masalah. Dan orang tua juga harus bijak kalau anaknya kurang sehat dalam melakukan kegiatan KBM di sekolah ,maka jangan sekolah dulu.Termasuk kebijakan sekolah juga harus fleksibel ,sebab di masa pandemi ini semua harus disesuaikan dan mampu beradaptasi sehingga hak anak belajar terpenuhi tetapi mereka juga terlindungi”, imbuhnya.

Penulis : Liya
Editor    : Herman

 295 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *