Dipertanyakan, Polres Jakpus Belum Juga Tangkap DYS Tersangka KDRT

  • Share
Korban saat dirawat di RS Islam Jakarta

JAKARTA, DETEKSIONLINE.COM: Hingga Rabu (7/11) polisi belum juga menangkap DYS (23), tersangka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang kasusnya dilaporkan sejak Kamis (8/3/2018) lalu.

Padayhal, Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang dikirim penyidik kepada pelapor Novi Nurmahmuda (23) pada  Jumat (7/9) menyebut DYS ditetapkan sebagai tersangka, bahkan dalam surat itu disebutkan penyidik akan memanggil terlapor sebagai tersangka.

Korban Novi yang dihubungi kemarin, mengaku  awalnya merasa bersyukur atas perubahan status DYS, suami yang sudah diceraikannya itu, tapi Novi dan keluarganya mempertanyakan mengapa kasus ini begitu lamban penangannya.

“Saya heran kok lama sekali penanganannya,” kata Novi  yang sempat pendarahan di bagian otak dan sempat masuk rumah sakit akibat hajaran sang suami yang kini sudah diceraikannya.

Seperti disebutkan sebelumnya, Novi, ibu dari satu anak ini melaporkan DYS, ke Polres Jakarta Pusat pada Kamis (8/3/2018) dan diterima dengan nomor LP 364/K/III/2018/RestroJakpus karena sering dianiaya.

Terparah terjadi pada 25 Pebruari 2018 di RW 01 Suka Mulia Kelurahan Harapan Mulia, Cempaka Putih Jakarta Pusat. Akibat dihajar oleh DYS, Novi mengalami luka cukup parah, pendarahan pada bagian otak dan harus dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

Kronologi kejadian seperti tertera dalam LP disebutkan bahwa hari itu, sekitar pukul 02.00 WIB Novi sedang tertidur didatangi oleh suaminya DYS yang meminta uang Rp 100 ribu ditolak Novi sehingga terjadi aksi kekerasan.

DYS kemudian memukul bagian wajah dan menendang hingga mengenai dada bagian kiri. Akibatnya korban Novi harus dilarikan ke RS Islam Jakarta dan dokter memutuskan untuk dilakukan perawatan.

Aksi kekerasan ini sempat didamaikan oleh pihak RW. Kemudian DYS membuat surat peryataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Perjanjian tersebut ditulis dan dibubuhi materai, tanpa disaksikan korban yang saat itu masih dirawat.

Beberapa hari kemudian, setelah Novi keluar dari rumah sakit, kejadian serupa terulang lagi sehingga Novi melaporkan DYS ke Polres Jakarta Pusat. “Saya teraniaya, dan tak kuat lagi,” ujar Novi.

Dalam proses laporan tersebut Novi pun menggugat cerai DYS ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Pengabulkan gugatan Novi. “Sekarang kami sudah resmi bercerai,” tegas Novi.

Dalam SP2HP disebutkan beberapa pihak telah diperiksa di antaranya korban sendiri, Dahlan bin Usa, Mahmudin, Titin Rohayatin dan saksi ahli dokter Aji Prabowo.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga ini sempat mendapat sorotan dari Badan Peneliti Indenden (BPI). Humas BPI Budi Setiawan SH berkoordinasi dengan penyidik agar kasus yang merupakan penganiyaan berat ini mendapat perhatian serius, karena sebelumnya pihak terlapor sesumbar polisi tidak akan menangkapnya.

Terlebih lagi diduga ada semacam perlindungan dari seorang aparat kepolisian yang ditugaskan di kelurahan tersebut.

“Kasus itu merupakan anirat dan sudah sewajarnya bila penyidik menetapkannya sebagai tersangka,” kata Budi Setiawan. “Kalau ada anggota kepolisian yang ikut melindungi kami akan teruskan ke Propam Polri. Kami punya hubungan harmonis dengan Propam,” ujar Budi.

Budi Setiawan begitu kaget mendapat kabar bahwa tersangka masih belum ditahan atau kasusnya masih belum P-21. “Jika begini kinerja penyidik Polres Jakarta Pusat perlu dipertanyakan ada apa sebenarnya,” kata Budi yang mengaku prihatin melihat kondisi korban dan berharap tersangka segera ditahan dan disidangkan. (mus)

 

 861 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *