Ini Kunci Keberhasilan Polda Metro Dalam Mengungkap Kasus

  • Share
Jakarta, deteksionline.com – Kasus perampokan di rumah Ir Dodi Triono di Jalan Pulomas Utara nomor 7 A, Jakarta Timur, hanya membutuhkan waktu 18 jam untuk mengungkapnya. Dalam perampokan itu, telah menewaskan enam orang setelah di sekap di dalam kamar mandi berukuran 1,5 meter X 1,5 Meter.
‎Satu orang dari empat pelaku bernama Ramlan Butar-butar harus ditindak tegas hingga dengan timah panas setelah mencoba melakukan perlawanan saat hendak di tangkap di kawasan Bekasai, Jawa Barat.
Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rudy Heriyanto Agus Nugroho mengatakan, bahwa peristiwa itu merupakan kasus perampokan murni.
‎Meski pada awalnya publik ragu, mengapa keempat pelaku yang merupakan spesialis perampok itu harus menewaskan enam orang dengan hasil rampokan tak seberapa. 
 
 
Isu-isu miring tentang motif yang dikait-kaitkan dengan latar belakang korban pun beredar luas di masyarakat. Tetapi sebelum kabur burung itu menjadi bola api, Ditreskrimum menuntaskan kasus tersebut dengan waktu yang singkat.
 
“Biasanya  kelompok ini mengumpulkan dan menyekap korban di kamar tidur. Mereka hanya menakutnakuti korban dan sebisa mungkin menghindari penganiayaan apalagi pembunuhan terhadap korban. Karena korban menyadari kalau tindakan itu dilakukan pasti akan membuat mereka lebih lama di bui,” katanya Jumat (6/1) siang.
 
Meski sudah berusaha untuk tidak membunuh, tapi peristiwa di rumah Dodi di nilai apes bagi para pelaku. Kata Rudy, perampokan di rumah Dodi sudah menjadi satu paket dengan perampokan di Jonggol, dan Bogor dengan mobil sewaan bertarif Rp 2,5 juta sehari. 
 
“Paket perampokan di tiga lokasi ini terencana cermat baik dari aspek teknis lapangannya, arus uang yang diharapkan, maupun perhitungan waktunya,” terangnya.
Namun pada kejadian itu, para pelaku tak menyangka, rumah sebesar itu di lantai bawah tidak ada kamar tidur. Sehingga para pelaku pun memilih kamar mandi untuk menampung sebelah korban dan di kunci dari luar.
‎Kendati Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap dalam waktu 18 jam, namun ada saja komentar yang tak sedap menerpa dengan menyatakan ‘Kasus ini menjadi mudah karena ada Close Circuit Television (CCTV).
Hal itu tentu saja di Bantah oleh Rudy, karena keberhasilan Ditreskrimum Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus itu dengan singkat ada pada gelar perkara.
“Kuncinya pada gelar perkara yang berbasis pembiayaan, sumber daya manusia (SDM) dan metoda,” tuturnya.
Pengaturan uang yang baik untuk membiayai setiap perkara, lanjut Rudy, tercermin dari tingkat penyerapan anggaran. Pembiayaan setiap perkara ini sudah termasuk untuk memelihara ganjaran (reward) dalam mekanisme reward & punishment.
“Kalau kasus cepat terungkap dengan berkas sempurna, pimpinan sebaiknya memberi insentif kepada anggotanya. Sebaliknya, jika lamban, tentukan sanksi yang layak dan mendidik agar lebih baik,” ucapnya.
Unsur kedua kata Mantan Kapolres Jakarta Barat ini yaitu mengenai SDM. Pasalnya, Seorang reserse tidak hanya dituntut fisik sehat dengan ketrampilan lapangan memadai, tetapi juga membuat gelar perkara yang layak serta mampu menggunakan perangkat teknologi informasi yang sudah disediakan Polri.
 “Buat saya, gelar perkara adalah aspek paling penting bagi setiap pimpinan reserse. Karena lewat gelar perkara ini, seorang Kasubdit misalnya, mengonstruksikan kasus yang hendak ia tangani berikut metodanya, dikaitkan dengan pemenuhan unsur dan jeratan pasalnya,” ujar Rudy.
Selain itu, lanjutnya, dalam gelar perkara, anggota yang sudah mengemban jabatan sebagai Kasubdit juga harus merancang pembiayaan perkara, pemeliharaan kesehatan fisik dan psikis serta keselamatan timnya di lapangan.‎ Hal itu pun yang membuat dirinya selalu mewajibkan seorang Kasubdit memaparkan gelar perkara kepadanya. Setelah itu, ia akan memberi catatan. Jika dinilai pantas, selanjutnya Kasubdit yang bersangkutan memaparkan gelar perkaranya di hadapan para Kasubdit, Propam, dan personil Mabes Polri yang terakit.
“Kasubdit yang memaparkan gelar perkara harus mempertanggungjawabkan gagasannya lewat satu perdebatan dan diskusi kelompok. Lebih baik Kasubdit yang bersangkutan ‘berdarah darah’ di internal kami dari pada ‘berdarah darah’ di pengadilan,” tandasnya.
Menurutnya, apabila dalam pra peradilan ataupun dipengadilan polisi kalah, itu merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan, yang lebih memalukan lagi jika Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) bolak-balik dikembalikan oleh Jaksa (P-19). Maka, ia pun menyatakan dirinya tidak segan-segan mengganti Kasubdit untuk menangani kasus tertentu jika dalam Hearing gelar perkara yang bersangkutan “dibantai habis” oleh kelompok (floor). 
 
“Saya memberi kesempatan pada setiap Kasubdit menangani kasus, dengan catatan, lulus gelar perkara. Saya tidak membatasi Kasubdit tersebut harus dari Jatanras (Kejahatan dengan kekerasan) atau Resmob (Reserse mobil), Kasubdit Ranmor (Kendaraan Bermotor. Menangani kasus kasus pencurian, penggelapan Ramor) atau Renakta (Remaja Anak Anak dan Wanita) mampu, kenapa tidak?” tutup perwira menengah yang sudah bergelar Doktor Pidana ini.

 427 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *