Menteri Rini Soemarno Dilaporkan Ke KPK Terkait Pengemplangan Uang Negara Rp 1,3 Triliun

  • Share
IMG_20160126_115517
Aksi Demo ratusan Massa KURI di depan Kantor KPK (Foto:Yori)

JAKARTA,DOL – Lembaga Swadaya Masyarakat Kawal Uang Rakyat (LSM KURI), Selasa (26/1) lalu, mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna melaporkan dugaan tindak pidana korupsi, pengemplangan uang negara oleh salah satu perusahaan milik negara dan perusahaan swasta.

KURI melaporkan bahwa adanya Dugaan Tindak pidana Korupsi pemberian kredit dari PT. (Persero) PANN pembiayaan Maritime kepada PT.Meranti Maritime dan PT.Meranti Bahari dengan total kerugian Negara sekitar Rp 1,3 Triliun.

Dalam tuntutannya, KURI Mendesak KPK segera menangkap Direksi PT. PANN,yakni Suhardono (Presiden Direktur), Herry S. Soewandi (Direktur Keuangan), dan  Libra Widiarto (Direktur Operasional) dimana Ketiganya paling bertanggung jawab dalam pemberian kredit dan dana talangan, serta Direktur Utama PT. Meranti Maritim & PT. Meranti Bahari, Henry Djuhari. Selain itu Menteri BUMN,Rini Soemarno diduga kuat terlibat dalam kasus ini dan layak dimintai pertanggungjawaban.

Dihubungi secara terpisah Direktur Komunikasi KURI, Bobby Aquino menjelaskan bahwa, kasus ini menvcuat kepermukaan setelah adanya perkara Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT. Meranti Maritime dan PT. Meranti Bahari di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Kedua perusahaan itu kini dalam keadaan kesulitan keuangan dan terancam bangkrut. Ternyata, hutang tersebesar kedua perusahaan tersebut adalah kepada perusahaan Negara, PT. PANN Pembiayaan Maritime. Total hutang PT. Meranti Maritime dan PT. Meranti Bahari kepada perusahaan plat merah itu Rp 1,3 triliun lebih yang kini menjadi kredit macet,”jelas Bobby.

Dari penelusuran KURI serta dokumen-dokumen yang diperoleh, kredit macet  PT. Meranti Maritime dan PT. Meranti Bahari kepada PT. PANN Pembiayaan Maritime bukanlah kredit macat biasa. Sejarah pemberian kredit pembiayaan kepada perusahaan tersebut ‘sangat istimewa’ yang akhirnya bermasalah.

“Terdapat persekongkolan yang sangat sistematis dalam melakukan pengemplangan uang negara dengan modus pemberian fasilitas pembiayaan pengadaan kapal oleh PT. (Persero) PANN Pembiayaan Maritime kepada dua perusahaan Meranti Group milik Henry Djuhari yakni PT. Meranti Maritime dan PT. Meranti Bahari sebesar Rp 1.345.134.441.040,” ungkap Bobby.

Awalnya, Februari 2011 ketika masih bernama PT. PANN Multi Finance, PT. PANN Multi Finance mengucurkan kredit kepada perusahaan Group PT. Meranti Matime untuk pengadaan kapal Kapal KM Kayu Putih. PT. Meranti Maritime tidak benar mengoperasikan kapal KM Kayu Putih sehingga kreditnya macet atau sengaja dimacetkan. Lalu PT. Meranti Maritime mengembalikan kapal KM Kayu Putih kepada PT.PANN Pembiayaan Maritime dalam kedaan tidak baik. Pada saat pengembalian kapal kepada PT. PANN Pembiayaan Maritime tercatat hutang PT. Meranti Maritime atas cicilan yang belum dibayar kepada PT. PANN Pembiayaan Maritime adalah sebesar USD 18.183.446,21 dan Rp. 21.660.000.

Sementara PT. Meranti Bahari, Group dari PT. Meranti Maritime juga mendapat kucuran kredit dari PT. PANN Pembiayaan Maritime untuk membiayai pengadaan kapal KM Kayu Ramin USD 27.858.168,47 dan Kapal KM Kayu Eboni sebesar USD 27.850.407,98. Sejak dikucurkan tahun 2010 sampai sekarang kredit tersebut macet.

Anehnya, jaminan atas hutang hanya kapal yang dibiayai tersebut dimana kondisinya sudah sangat menurun dan kurang baik, padahal PT. Meranti Bahari memiliki aset yang sangat potensial di Jalan Talang Betutu dan Jalan Tanjung Karang di Jakarta Pusat, namun tidak dijadikan sebagai jaminan.

Lebih lanjut dijelaskan Bobby, dengan keadaan sudah macet dan tidak dilakukan upaya penagihan, PT. PANN Pembiayaan Maritime malah mengucurkan kembali kredit baru kepada PT. Meranti Bahari sebesar  USD 9.187.461,71 untuk eks pengadaan kapal eks kayu putih yang sudah dikembalikan PT. Meranti Maritime.

“Setelah kapal Kayu Putih dikembalikan oleh PT. Meranti Maritime kepada PT. PANN Pembiayaan Maritime dengan menyisakan hutang sebesar USD 18.183.446,21 dan Rp. 21.660.000,00, PT.PANN Pembiayaan Maritime malah mengucurkan lagi kredit kepada PT. Meranti Bahari untuk pengadaan kapal KM Kayu Putih  yang dikembalikan oleh PT. Meranti Maritime tersebut sebesar  USD 9.187.461,71,” katanya.

Dan langkah yang paling fatal, lanjut Bobby, dalam keadaan kredit super macet PT. (Persero) PANN Pembiayaan Maritime kembali mengucurkan dana talangan tunai sebesar USD 4.000.000 untuk operasional PT. Meranti Maritime. “Sangat aneh, kapal yang dioperasikan oleh PT. Meranti Maritime sudah tidak ada, sudah dikembalikan ke PT. (Persero) PANN Pembiayaan Maritime dan selanjutnya kapal bekas itu diberikan lagi kucuran kredit untuk disewa beli oleh PT. Meranti Bahari,” ungkapnya.

Oleh : Yori

 1,681 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *