Kepada Tuan Jokowi

  • Share
Wahyu Triono KS
Wahyu Triono

Oleh. Wahyu Triono KS
Founder Cinta Indonesia Associate (CIA) dan
Professional Campaign and Politic Consultant

Pada peringatan Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT), 27 September tahun ini saya teringat dengan sastrawan Amerika Selatan bernama Gregorio Lopez Fuentes, menulis karyanya yang termashur dengan judul Surat Kepada Tuhan.

Dalam ceritanya, Gregorio mengisahkan seorang petani miskin bernama Lencho yang mengalami gagal panen akibat cuaca buruk, sehingga keluarga Lencho terancam kelaparan. Di tengah kegelisahan dan kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan bagi keluarganya, Lencho menulis surat pada Tuhan dan di amplop putih ia menulis “Kepada Tuhan”, lalu pergi ke kantor pos dan mengeposkan suratnya ke bus surat.

Singkat cerita, kepala kantor pos yang beberapa tahun lagi pensiun, akhirnya dilapori pegawainya akan keanehan sebuah surat yang tidak mungkin dapat dikirimkan ke alamat yang dituju. Kepala kantor pos yang bijak ini memutuskan untuk membantu Lencho dengan mengumpulkan sumbangan dari semua pegawai kantor pos termasuk dirinya, terkumpullah sebanyak 850 Pesos, kemudian dikirim dan membalas surat Lencho.

Dua minggu setelah surat diposkan, Lencho menerima kiriman uang melalui pos wesel sebagaimana yang ia minta lewat suratnya kepada Tuhan. Namun dia menggerutu dan mengumpat, “Sialan! Tuhan, lain kali kalau mengirim uang lewat pos wesel jangan melalui kantor pos keparat itu. Padahal saya minta 1000 Pesos, masak uang yang saya terima cuman 850 pesos. Tuhan kan tahu kalau para pegawai kantor pos itu terdiri dari para koruptor dan suka minta komisi.”

Cerita ini adalah soal generalisasi (stereotype) yang terlanjur sudah begitu buruk dan negatif terhadap birokrasi yang berprilaku korupsi dan hoby menerima upeti. Melalui cerita ini kita ingin mendiskusikan soal bagaimana generalisasi (stereotype) masyarakat yang terlanjur buruk pada birokrasi dikaitkan dengan harapan (expectation) masyarakat yang begitu tinggi terhadap Presiden RI, Tuan Joko Widodo (Jokowi).

Jawaban Tuan Jokowi
Kita tentu saja tidak memiliki data yang akurat, sudah berapa surat yang dilayangkan dan ditujukan kepada Presiden RI yang terhormat, Tuan Jokwi? Dikirim oleh masyarakat Indonesia, melalui Pos, surat elektronik (e-mail), diantar langsung dan melalui layanan pesan singkat atau Short Message Service (SMS). Kita juga tidak mengerti dan mengetahui apa jawaban dari sejumlah surat yang dilayangkan kepada Tuan Jokowi.

Pidato Presiden Jokowi pada Rakernas Konsolidasi Pemenangan Pilkada 2015 Partai NasDem di JCC Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2015) yang saya tonton dari kejauhan melalui media televisi, hemat saya menjadi jawaban dari Tuan Jokowi terhadap berbagai pertanyaan yang sedang bergelayut di pikiran hampir semua masyarakat Indonesia.

Apa jawaban dari yang terhormat Presiden RI, Tuan Jokowi atas kecemasan, kegalauan, harapan dan pertanyaan hampir semua masyarakat Indonesia. Pertama, Pentingnya ideologi bagi seorang pemimpin. Memimpin harus dengan ideologi, tanpa ideologi kita tidak akan mempunyai sebuah arah, tidak akan mempunyai sebuah panduan. Ideologi kita sama Pancasila, tetapi cara penerapannya berbeda-beda. Sebagai presiden Jokowi juga mempunyai ideologi yang dilaksanakan melalui visi besarnya yaitu: Berdaulat, Berdikari dan Berkepribadian. Tampaknya, ini adalah jawaban atas keraguan sebahagian kalangan soal berkembangnya ideologi komunisme di Indonesia.

Kedua, Presiden Jokowi ingin mengatakan kepada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa tidak mudah mengurus negara yang besar seperti Indonesia, dua pertiga bagiannya adalah air, laut atau samudera dengan 17 ribu lebih pulau, bagaimana managemen negara sebesar Indonesia ini dikelola, jawaban atas perlunya kesabaran dan kebersamaan.

Ketiga, Presiden Jokowi mengakui soal adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sedang dialami oleh Indonesia, akan tetapi Presiden Jokowi dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia tidak sedang dalam krisis ekonomi, menjadi jawaban atas kecemasan masyarakat tentang potensi krisis di Indonesia.

Keempat, bagaimana penekanan Presiden Jokowi terhadap pentingnya kecintaan terhadap produk dalam negeri, dan membuka peluang seluas-luasnya bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan yang tidak tergantung kepada impor sehingga dapat menghindarkan keguncangan neraca perdagangan yang mengakibatkan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap US Dolar, ini jawaban atas kecemasan terhadap nilai tukar rupiah kita.

Kelima, yang terpenting adalah capaian yang sedang dikerjakan oleh pemerintah dalam hal penyelamatan hasil laut Indonesia, pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi, pembangunan ketenaga listrikan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat dan mendukung sektor industri dan UMKM, pembangunan irigasi, dam dan bendungan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan tidak tergantung impor dan distribusi dana ke daeah dan desa yang begitu besar yang menggerakkan perekonomian daerah dan desa semuanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Inilah bentuk bagaimana optimisme Presiden Jokowi dalam membangkitkan masyarakatnya, bahwa tahun 2016 akan terlihat kemajuan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi serta tiga tahun kedepan bila program-program pembangunan itu telah diselesaikan akan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Jangan Lewatkan Kesempatan
Hal terpenting lainnya yang hendak kita diskusikan adalah soal kesempatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk membangun pondasi ekonomi yang kuat namun terlewatkan begitu saja sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Jokowi yaitu ketika bangsa Indonesia mendapatkan kesempatan booming minyak di era tahun 70-an dan 80-an, kemudian booming kayu di era tahun 80-an dan 90-an dan kesempatan terakhir yang tidak boleh terlewatkan bagi Presiden Jokowi adalah kesempatan Minerba kita, meski sebahagian sudah lewat tetapi sebahagian masih kita punyai, inilah yang harus kita gunakan untuk membuat pondasi agar negara kita ini ekonominya kokoh.

Semua jawaban Presiden Jokowi dan kesempatan yang tak boleh terlewatkan itu dapat menumbuhkan optimisme terhadap terwujudnya pertumbuhan ekonomi bila semua kita menurut Presiden Jokowi dapat merubah pola pikir dari pesimisme ke optimisme. Diperlukan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, persatuan, yang terus digalang sehingga kita meyakini bahwa perlambatan ekonomi akan bisa kita kelola dengan baik dan kita harapkan tahun 2016 ekonomi kita bisa tumbuh lebih baik daripada tahun ini. Inilah yang oleh Presiden Jokowi dikenalkan sebagai bagian dari revolusi mental bangsa Indoneia yang menumbuhkan nilai-nilai saling menghormati, kesantunan dan tata krama.

Karena menurut Presiden Jokowi dalam sekian tahun ini kita kehilangan nilai-nilai kita, kalau itu bisa ditumbuhkan lagi kebersamaan, saling menghormati, gotong royong, kesopanan, keramahan dan menjauhkan dari nilai-nilai yang sekarang ini, mulai kelihatan akan berkembang saling mengejek, saling mencemooh, saling menghina tidak ada saling menghormati, itulah yang akan membahayakan negara kita ini.

Hemat saya, lebih penting dari semu jawaban dan kesempatan yang dikemukakan Presiden Jokowi itu, jangan sampai muncul banyak masyarakat Indonesia seperti Lencho, mengirim surat bukan Kepada Tuhan, tetapi Kepada Tuan Jokowi, yang menyampaikan bahwa realita di masyarakat apa yang ideal sebagaimana yang dikemukakan Presiden Jokowi, dalam realitanya dianggap tidak sesuai dengan kenyataan, akibat generalisasi (stereotype) masyarakat yang telah terlanjur menilai buruk atas prilaku birokrasi dan para pembantu Presiden Jokowi. Meski telah berbuat dan bekerja yang terbaik untuk masyarakat, akibat keterbatasan akan selalu dinilai buruk oleh masyarakat.

Penutup
Secara khusus saya musti menyampaikan dengan segala hormat Kepada Tuan Jokowi, perlu kiranya bagi bangsa Indonesia untuk tidak melewatkan suatu kesempatan dalam hitungan statistik kita yang tidak melulu menyoal pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan sumber daya alam saja, akan tetapi penting bagi bangsa Indonesia memanfaatkan kesempatan bonus demografi bagi bangsa Indonesia. Bagaimana upaya revolusi mental bagi kelompok terdidik (sarjana) yang bisa kita siapkan dalam rangka menyambut puncak bonus demografi pada 2020-2030. Bonus Demografi ini memberi peluang terjadinya pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan tertinggi dan penurunan angka kemiskinan.

Kita telah mendiskusikan jawaban Tuan Jokowi atas pertanyaan, kecemasan, kegalauan dan harapan kita, tentang kesempatan yang tak boleh terlewatkan sebagai momentum bagaimana kita memperingati hari-hari penting nasional di akhir bulan september ini, yaitu 24 September, Hari Agraria Nasional/Hari Tani, 26 September, Hari Statistik, 27 September, Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT), 28 September, Hari Kereta Api, 29 September, Hari Sarjana Indonesia, 30 September, Hari Peringatan Pemberontakan G30S/PKI. Kita mendiskusikannya bersama dengan Tuan Jokowi, Presiden RI yang kita cintai.

 576 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *