Tak Mampu Biayai Rs, Baru Dicesar Langsung Dibui

  • Share

JAKARTA, DOL – Malang nian nasib pasangan miskin Rani Sutika (18 th)  dan Dedy Junaedi (20) yang keseharian hanya buruh serabutan dan tinggal di rumah petak di bilangan Kampung Pesing – Cilincing Jakarta Utara. Rani yang baru tiga hari melahirkan secara cesar dijebloskan ke bui begitu pula sang suami dengan tuduhan menjual bayi.

Namun banyak keanehan terjadi dibalik kasus iditangkapni  termasuk diantaranya penjagaan super ketat yang dilakukan untuk Rani. “ Perempuan lemah yang belum pulih dari operasi cesar tersebut harusnya mendapat perawatan medis di RS Polri Kramat Jati , nyatanya malah ditahan di sel dan dijaga Provost, layaknya teroris. Bayinya pun yang awalnya di bawa di penjara kini ditempatkan dipanti, alasan polisi pernikahan keduanya tidak sah sehingga anak tersebut harus diserahkan ke panti sosial sebagai anak negara.  Pada saat dijemput polisi ( 12/9 ) pun tanpa ada surat pemanggilan terlebih dahulu, surat tersebut ditandatangani klien kami dikantor polisi setelah di BAP,” tutur  Handy Wira  Utama, SH yang bersama Bona Wahyunta  Afriand, SE,SH, menjadi pengacaranya.

Baik Rani maupun Dedy menolak dituding menjual bayi. Penderitaan pasangan miskin yang menikah siri ini dimulai ketika kondisi kehamilan Rani tak memungkinkannya melahirkan secara normal di RS Ibu dan Anak Cahaya Medika. RS itu pun menarik  biaya 7 juta, jumlah yang fantastis untuk pasangan ini. Bayi mereka pun tak bisa dibawa jika belum melunasi. Merasa takkan mampu membayarnya Dedy meminta bantuan ke beberapa pihak,  bahkan menyatakan rela bayinya dipelihara orang asalkan dirawat baik, dicukupi pendidikan dan kesehatannya serta mereka tetap diberi izin jika ingin melihat anaknya kelak..

Salah satu orang yang dimintai tolong adalah X , seorang istri anggota polisi pasangan suami istri. Wanita itu merasa kasihan pada Rani dan ingat ada salah satu familinya tidak punya anak selama 8 tahun dan ingin mengadopsi. Maka diajaklah sang famili bertemu dengan Dedy di Asrama Brimob Cilincing. Perempuan itu ( sebut saja Y) menyanggupi membantu Dedy dan memberikan uang sebesar Rp 2  juta untuk  pembayaran RS, sisanya akan disusulkan, ia juga memberikan Rp 300 rb untuk membeli susu dan perlengkaan si bayi. “ Mereka juga sepakat akan mengadopsi anak tersebut secarai resmi setelah melakukan serangkaian test kesehatan terhadap si anak. Mereka merencanakan akan mengurus surat adopsinya pada hari senin  (14 /9), karena waktu itu sudah Jum’at malam dan tidak ada dokter yang bertugas kondisi kantor sudah tutup.sehingga diputuskan akan diadakan pemeriksaan medis pada hari sabtu.  Namun belum terlaksana, Dedy dan Rani ditangkap polisi pada hari Sabtunya,” papar Handi.

Di lain pihak, karena memang mereka meminta bantuan pada beberapa orang, ada  orang yang tinggal tak begitu jauh dari pemukiman mereka yang selama ini memperlakukan keduanya seperti anak sendiri juga merasa iba terhadap pasangan ini. Orang tersebut  tidak tega melihat anak Rani masih tertahan di RS karena belum tertebus. Iapun melunasi pembayaran RS dalam bentuk pinjaman. Maka ketika mendapat Rp 2 jt dari Y, Dedy dan Rani memberikan uang itu pada orang tersebut untuk mengurangi jumlah pinjaman.

“ Dilihat dari kronologis tersebut tipis kemungkinan pasangan ini memperdagangkan bayinya. Karena tidak ada unsur mencari keuntungan disitu, mereka hanya mengupayakan agar RS terbayar dan bayinya bisa diambil. Kalaupun mereka merelakan bayinya dipelihara orang itu karena terpaksa, tak punya pilihan dari pada sang bayi tidak bisa diambil dan oleh RS, maka dikirim kepanti sosial yang ada di bilangan cipayung Jakarta timur, jatuh ketangan tak jelas dimana mereka tak bisa melihatnya lagi. Kemiskinan dan keterbatasan merekalah yang mendorong itu, “ ujar Dwi Sugih Handoyo SH yang bersama Adi Praja SH, jadi pengacara Dedy..

Baik pengacara Rani maupun Dedy, menyayangkan proses penangkapan keduanya yang dinilai tak didahului kepastian hukum dulu baru masuk penyidikan. Kapolres Jakarta Utara, Kombes Susetio Cahyadi, dinilai memaksakan tuduhan penjualan bayi, “ Jika memang ada penjualan bayi seharusnya ada dua pihak, penjual dan pembeli dan ada keuntungan dari kedua belah fihak. Ini kenapa yang ditangkap hanya pasangan Rani dan Dedy, kenapa ‘pembeli’nya tidak ?! Apakah karena masih kerabat polisi  dan pasangan Rani – Dedy cuma orang miskin dan buta hukum. Kan tidak mungkin pihak yang satu dianggap menjual sementara pihak yang lain hanya orang yang merasa kasihan dan  mau membantu. Lantas penangkapan ini dasarnya apa ?!,” ujar Dwi Sugih Handoyo.

Pada dasarnya keadilan harus ditegakkan, janganlah orang miskin dikriminalisasi karena kemiskinannya. Upaya memisahklan bayi merah yang masih menyusui dari sang ibu yang masih di tahanan dan dibawa ke panti sosial pun sangat tidak manusiawi, bahkan penyidikpun mengaku  merasa tak tega.” Alasan Kapolres Jakarta Utara, perkawinan keduanya tidak sah ( hanya siri ) sehingga anak tersebut harus dipelihara negara , kami nilai sangat mengada-ada . Berapa banyak warga Indonesia yang kawin siri, apa mereka juga harus dipisahkan dari anaknya untuk dipelihara Negara ?. Kami ingin keadilan ditegakkan, pasangan ini bisa dibebaskan dari tuduhan penjualan anak sebagaimana tercantum pada pasal 83 dan bayi mereka dapat dikembalikan. Toh sampai sekarang penyidik masih bingung dengan kepastian hukum mereka, mau dikaitkan dengan pelanggaran pasal apa, karena tak ada alat bukti pengaduannya, kalau  pasal penjualan bayi, ada penjual tak ada pembeli lalu bagaimana kelanjutannya. Janganlah memaksakan kriminalisasi warga miskin,  ” pungka Handy, pengacara Rani. (Tim)

 3,215 total views,  7 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *