As’ad Said Ali : Pelaku Peledakan Bom Gereja Katedral Makasar Diduga Kelompok ISIS

  • Share

Jakarta,deteksionline.com- Pelaku bunuh diri di depan Gereja Katedral Makasar, Minggu (28/3/2021) diduga dilakukan oleh kelompok Islamic State Of Iraq and Syiria (ISIS).

As’ad Said Ali mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional (Waka BIN)
diera Presiden Gusdur, Megawati, dan Susilo Bambang Yudoyono, ini menyimpulkan perbuatan yang tidak berprikemanusiaan.

“Berdasarkan indikasi yang dikumpulkan pelakunya mengarah ke ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), dalam hal ini kemungkinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT),” jelasnya saat ditemui Deteksi Online dikediamannya di Jakarta, Minggu Sore (28/3/2021).

Lanjutnya, aksi itu dilatar belakangi dendam selama konflik Poso beberapa tahun lalu. Umumnya mereka kehilangan anggota keluarga dan merasa diperlakukan tidak adil terutama ketika berada dalam tahanan.

“Aksi mereka itu mendapat apresiasi langsung dari pimpinan ISIS dalam situs mereka yang didahului dengan mengumandangkan nasid atau lagu lagu perjuangan,” katanya.

“Suatu cara atau metode yang digunakan oleh pimpinan ISIS untuk membina semangat juang dan mengendalikan pendukung pendukungnya dimanapun mereka berada,”.tambahnya.

Mantan Waka BIN ini menyebutkan dalam perkembangannya kemudian pada 12 desember 2020 muncul rilis resmi An Naba, ISIS mengeluarkan suatu perintah yang berbunyi “ couldly kill them with hate and rage “ (bunuh mereka dengan kebencian dan penuh amarah).

Kalimat  ISIS itu bisa dimaknai sebagai perintah dari pimpinan ISIS atas nama Abu Abdullah Asy Syami. Pelaku terorisme, bukan kebetulan, memilih momen hari minggu kebaktian yang masih dalam rangkaian  hari Paskah (Kebangkitan).

“Tepatnya hari ini ( 28/03/2021) dilakukan ritual Palma sesuai dengan keyakinan umat Katholik,” terang As’ad Ali.

Perkembangan diatas sebaiknya disikap secara jernih, Kepala dingin dan cerdas.

Pertama ; Peran propaganda jihad global sangat berpengaruh terhadap perkembangan kelompok radikal / ekstrim di Indonesia khususnya kelompok pro ISIS.

Kedua : Bukan mustahil akan ada kelompok ekstrim baru sejalan meningkatnya propaganda terorisme global dan kondisi politik internal, sehingga perlu pemetaan teror yang tepat.

Ketiga ; jangan ada kebijakan yang tidak cerdas, menggolongkan ormas Islam yang dianggap radikal kedalam Kelompok Teroris.Perlu dicermati , radikal dalam “retorika “atau “ radikal / ekstrim dalam ideologi ( Jihadi ) dan dalam aksi ( istishadah/ bom bunuh diri.

“Terngiang dalam otak saya, pesan tokoh  besar intelijen nasional, Ali Murtopo “ Indonesia akan aman damai, kalau kamu bisa menjadikan mereka yang ekstrim menjadi radikal dan kemudian menjadikan menjadi moderat”. Insya Allah,” ungkap As’ad Ali.

“Sebagai pengamat bisa saja ,analisa diatas salah, tetapi saya tulis dengan niat tulus untuk membantu pihak yang berkepentingan secara cepat, pungkanya,” tutupnya..(Budi s)

 232 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *