Mengapa Nabi Muhammad dan Keluarganya Haram Terima Sedekah

  • Share

Nabi Muhammad dan keluarga haram menerima sedekah

Jakarta, deteksionline.com -Siapa pun yang bukan dari keluarga Nabi Muhammad SAW, diizinkan menerima sedekah. Adapun orang yang tidak memilih dan tidak mempercayai Nabi, maka tidak boleh mengambil sedekah. Lantas, apakah Nabi sendiri menerima dan menerima sedekah?

Dilansir di  Islamweb,  Sabtu (20/2), Nabi bersabda: لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أو كراع لَقَبِلْت

“Hukum du’itu ila dziraa’in, aw kuraa’in la-ajabtu walaw uhdiya ila dziraa’un aw kuraa’un laqabiltu.”.

Yang artinya: “Jikalau aku diundang (makan) lengan kambing atau betisnya (kikil), sungguh aku akan menghadirinya. Dan jikalau aku diberi hadiah (kedua hal itu) pasti akan aku terima. ” Sedangkan dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, dia berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ُا أُتِيَ بطعام سأل عنه: أهديّة صدق صدق صدق  “Kaana Rasulullah SAW idza utiya bitha-amin sala anhu: ahadiyatun am shadaqatun?”.  Yang artinya: “Rasulullah SAW ketika diberikan makanan akan selalu bertanya: apakah ini hadiah ataukah ini sedekah?”

فإن قيل: صدقة لأصحابه: كلوا ولم يأكل ، وإن قيل: هديّة ضرب بيده صلى الله عليه كلوا ولم يأكل ، وإن قيل: هديّة ضرب بيده صلى الله عليه كلوسلم فأكل معunu qihala Wa in qila hadiyyatun dharaba biyadihi SAW fa-akala ma’ahum. ” 

Yang artinya: “Apabila makanan itu dikatakan sedekah, maka Nabi akan memerintahkan sahabatnya untuk memakan bagi yang belum makan, namun syarat makanan itu dijawab sebagai hadiah, maka Nabi menerimanya dan memakannya secara bersama-sama.”

Hadits-hadits ini secara umum tidak ada perbedaan …

Hadits-hadits ini secara umum tidak ada perbedaan antara sedekah yang sifatnya fardhu dan umum. Dan dari beraneka ragam hal yang diharamkan kepada Rasulullah SAW, yang sedang dipersiapkan Imam Ibnu Hajar bahwa kesepakatan tentang itu juga bisnis lebih dari satu ulama, termasuk Imam Al-Khattabi.

Partisipasi juga oleh sebagian ulama tentang hukum yang diharamkan sedekah atas Nabi dan keluarga beliau. Di sana ada kehormatan kenabian dan dan tinggi mulianya Nabi dibandingkan makhluk Allah.

Oleh karena itu Allah SWT melarang Nabi dan keluarganya dari sedekah umat. Hal ini ntuk menjaga posisi kemuliaan Nabi dari ketinggian seseorang di bawahnya dengan sedekah atau zakat. Hal ini ditegaskan dalam Alquran surat As-Syura ayat 23, Allah berfirman:

قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى “Qul laa as-alukum alaihi ajran illalmawaddata fil-qurba.”

Yang artinya: “Katakanlah: aku tidak meminta kepadamu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”

Dan menurut pendapat Imam Ibnu Hajar As-Syaukani, jikapun Allah menghalalkan bagi Nabi dan keluarganya sedekah kaum musyrikin yang akan ditentang, maka Allah menutup pintu atas hal itu, Yakni melarang sedekah atas dirinya dan keluarganya.

Dijelaskan juga bahwa zakat dan sedekah berbeda dengan hadiah (persembahan). Sebab zakat yang dikeluarkan oleh umat Muslim sebagai maksud untuk mensucikan harta, jalan firman Allah dalam Alquran surat At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِها “Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahiruhum wa tuzakkihim biha.” Yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagaian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Sedangkan hadiah yang diberikan sebagai reward, penghargaan atas bentuk kecintaan atau penghormatan seseorang. Sedangkan zakat dikeluarkan sebagai bagian dari kewajiban umat Muslim atas hartanya, dengan membayarkan untuk memenuhi kewajiban syariat. Adapun hadiah tidak diwajibkan bagi seorang Muslim, sebab sifatnya yang sukarela.

Sumber: web islam

 200 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *