by

Selamatkan Manggrove Babel, Fordas : Pemerintah Mesti Tegas Atasi Kerusakan Mangrove

PANGKALPINANG, deteksionline.com – Ketua Forum Daerah Aliran Sungai ( Fordas) Provinsi Bangka Belitung, Fadilah Sabri saat ditemui Selasa (28/7) menyebutkan kondisi manggrove di Bangka Belitung saat ini sangat serba dilematis.

Disatu sisi Bangka Belitung merupakan salah satu ” pemilik” hutan manggrove terluas di Indonesia, tetapi kini keadaannya bertolak belakang dengan kerusakan hutan manggrove di Babel yang juga tak kalah serius dan semakin terus bertambah, akibat dari berubahnya alih fungsi lahan manggrove menjadi lahan tambang .

Fadilah Sabri mengatakan, meskipun tetap ada aksi penanaman manggrove oleh berbagai organisasi masyarakat dan perusahaan lewat CSRnya, tetapi upaya penyelamatan semacam ini nyatanya masih tidak sebanding, karena terkesan Seremonial dan akibatnya cenderung tidak terawat.

” Lahan kritis di Babel dalam catatan kami semakin bertambah, bahkan berdasarkan data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia ( BLHK RI) terdapat 20 ribu hektar lahan di Babel kondisinya sangat kritis dan 1000 hektar lainnya dalam kondisi kritis”, Ujarnya.

Ia menilai, jika pun setiap tahun dapat dilakukan setiap 1000 hektar penghijauan manggrove, berati Babel tetap saja butuh waktu 20 tahun guna menyelamatkan hutan termasuk manggrove.

“Jadi betapa waktunya perlu sangat panjang dan harus benar-benar komit, fokus dalam mengambil langkah reklamasi dengan cara yang benar dan tepat”, kata Fadilah Sabri.

Kemudian berdasarkan investigasinya, sejumlah hutan manggrove seperti di hulu Sungai Baturusa Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka yang kini dirusak oleh pelaku penambangan ilegal.

Selain itu ditemui juga, kawasan hutan mangrove di Sungai Perimping yang juga sudah lebih dulu luluh lantah akibat penambangan ilegal dan masih banyak kawasan hutan manggrive dan DAS di Babel yang telah menjadi korban.

Padahal fungsi hutan bakau atau manggrove adalah tempat hidup biota sungai, sumber air, penahan abrasi dan multi fungsi lainnya.

“Karenanya kalau saya kemarin berharapnya pak presiden Jokowi bisa hadir dan supaya tau dan melihat langsung kondisi kerusakan manggrove di Babel seperti apa, supaya beliau juga bisa buat kebijakan untuk penyelamatan manggrove di Babel,”ujarnya pada momentum peringatan manggrove yang jatuh pada 26 Juli 2020 lalu.

Ia berharap dapat dijadikan sebagai momentum saling membangun kesadaran dan keteladanan dalam menjaga kelestarian hutan dan manggrove di Babel.

“Sebab pengerusakan hutan manggrove terlebih di badan sungai jelas tidak boleh dan melanggar undang-undang. Perlu komitmen serius untuk stop pengerusakan manggrove di Babel”, imbuh Dosen Tehnik pada Universitas Bangka Belitung ini.

Fadilah mengingatkan, Jadikan peringatan hari manggrove guna mengubah prilaku kita sebagai masyarakat agar jangan lagi merusak manggrove demi masa anak cucu di masa mendatang.

” Semesta ini adalah titipan atau amanah Alloh SWT kepada kita sebagai khalifah di muka bumi ini termasuk menjaga ekosistem lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan manggrove atau Bakau”, terangnya.

Sebab, menurut Fadilah itu perlu tindakan nyata hingga ketegasan dari pemerintah, aparat penegak hukum dan dukungan seluruh masyarakat untuk menindak perbuatan dari para pelaku pengerusakan.

” Perlu tindakan nyata dari Pemerintah, sehingga upaya kita selama ini lewat kampanye penyelamatan manggrove maupun aksi penghijauan manggrove kembali juga tidak sekedar seremonial dan sia-sia,” harapnya lagi..( liya)

 154 total views,  1 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed