by

Darmansyah: Masyarakat Harus Lebih Cerdas Membaca Isu Klepon

JAKARTA, Deteksionline.com- Pegiat media sosial, Darmansyah menilai menilai isu ‘Kue Klepon Tidak Islami’ yang sedang viral tiga hari ini, tidak lebih dari isu otak kosong.

Menurut dia, substansi isu kue klepon tidak jelas sama sekali dan memang sengaja dimainkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menutupi isu lain yang lebih substansial.

“Memang seharusnya diusut pelaku isu kue klepon ini. Tetapi saya pesimis, karena Abu Janda dan Denny Siregar yang jelas-jelas bikin rusuh dan menghina masih dibiarkan,” ujar Darmansyah dalam rilis, Kamis (23/7/2020).

Kue klepon, katanya,  diduga berhubungan dengan isu Pilkada Kotak Kosong yang dikait-kaitkan dengan keikutsertaan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, di Pilkada Kota Solo.

Isu itu juga sempat mengemuka dan viral karena berbagai dugaan seperti nepotisme dan campur tangan yang dilakukan sang ayah.

“Menurut saya, isu kue klepon sebenarnya bisa head to head dengan Pilkada Otak Kosong. Artinya, isu ini hanya untuk mengalihkan isi kepala banyak orang dari berbagai isu yang lebih penting seperti Pilkada Kotak Kosong, isu nepotisme, isu kritikan terhadap pemerintah dalam menangani pandemi corona virus baru (Covid-19), bahkan kritikan keras dari oposisi sekelas Rocky Gerung,” ujar Darman..

Darman juga menduga, bahwa motif di balik penyebaran meme kue klepon tidak Islami untuk mengalihkan kehebohan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran yang akan melawan kotak kosong di Pilkada Solo.

“Saya berpendapat, bukan tanpa sebab kue klepon tidak Islami dimainkan. Karena isu yang tengah heboh saat ini adalah terkait pencalonan anak dan menantu Jokowi maju di pilkada,” katanya lagi.

Pada kesempatan ini Darmansyah, yang juga wartawan online di ibukota berharap, masyarakat Indonesia lebih cerdas membaca isu-isu seperti ini. Era keterbukaan informasi menjadikan masyarakat jauh lebih kritis meskipun sulit bicara demokrasi di Pilkada yang diikuti oleh keluarga presiden.

“Maka jangan ditanggapi isu kue klepon tidak Islami. Kalau ditanggapi, sama saja kita juga otak kosong,” imbuhnya..

“Saya juga berharap, masyarakat lebih banyak menerima informasi yang sifatnya analisis. Ada kritikan, ada wacana yang diolah. Bukan isu kue klepon yang jelas-jelas membodohi masyarakat,” kilahnya lagi.

Kalau masyarakat kita pintar, ujar Darman, pasti nggak akan pilih nepotisme. Mereka pasti pilih yang programnya bagus dan terbukti. Itu kalau masyarakatnya pintar. Lain cerita kalau masyarakatnya bodoh, patung pun bisa menang Pilkada.

 

 384 total views,  3 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed