by

Peringati Haul Bung Karno ke 50, DPP GPP ; Relevansi Ajaran dan Pemikiran Sukarno Dalam Upaya Mencegah dan Menangkal Deideologisasi Bumi Nusantara

Ketua Umum DPP GPP, Anton Manurung

JAKARTA,deteksionline.com-Peringatan hari wafat (atau sering disebut ‘Haul’) Bung Karno tahun ini melempar kita sesaat pada kenangan 50 tahun yang silam. Kenangan itu membangkitkan ingatan kuat kita dan menyentak kalbu sebagian besar anak bangsa pada hari-hari terakhir Putra Sang Fajar, Penggali Pancasila.

Mengenang kembali Sukarno Pemimpin Besar Revolusi, merupakan suatu bentuk kecintaan kepada pencetus ideologi bangsa dan negara Indonesia, yang tentunya menggelorakan semangat baru dalam pembumian Pancasila.

Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) memperingati Haul ke 50 proklamator tercinta, 21 Juni 2020, dengan menyelenggarakan serangkaian acara sejak hari Jumat, 19 Juni 2020, berupa Refleksi Kebangsaan bagi anggota pengurus inti DPD dan DPP GPP, yang dilanjutkan dengan pendidikan ideologi pada keesokan harinya.

Pendidikan Ideologi mengadopsi model “Nation Character Building” yang dipidatokan oleh Bung Karno pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1966, yang selanjutnya menginspirasi terbentuknya ” Nation and Personal Character Building” sebagai program unggulan GPP bagi generasi muda bangsa.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh DPD Banten dan diikuti oleh sekitar 50 orang muda calon-calon pemimpin bangsa yang berasal dari 8 kota di Banten, serta dihadiri oleh puluhan perwakilan DPD GPP.

Bertindak sebagai instruktur adalah Dr. Anton Manurung, M.Si (trainer utama), Dr. Bondan Kanumoyoso (sejarawan) dan Alexander Widjanarko (psikolog).

Puncak acara peringatan 50 tahun Haul Bung Karno DPP GPP tahun ini yang diawali dengan Maklumat Seruan Moral & Pernyataan Ideologi dalam Musyawarah Kebangsaan, yang diikuti oleh sebelas Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Sumatera hingga Papua.

Sekjen DPP GPP, Bondan Kanumoyoso

Nara sumber pertama, Ketua Umum DPP GPP, Anton Manurung, memberikan gambaran permasalahan deideologisasi di Indonesia pada zaman ini sebagai pemantik api semangat pada peserta dalam melawan deideologisasi tersebut.

“Anton Manurung menegaskan bahwa semakin luas wawasan seseorang tentang Pancasila maka akan semakin besar toleransinya, sehingga memperkokoh persatuan menuju Indonesia maju,”tegasnya.

Sebaliknya semakin sempit wawasan seseorang, akan semakin menguatkan egonya yang dapat meruntuhkan persatuan.

Adapun nara sumber kedua, Ahmad Nurcolis, MA , penulis buku, Ketua V Bidang Riset, Inovasi dan Publikasi serta sebagai Deputi Direktur Indonesian Conference on Religion & Peace, memberikan gambaran dan contoh pengaplikasian ajaran Sukarno dan relevansinya di jaman moderen dalam kehidupan sehari-hari.

Tampil juga Toto Suryawan Sukarnoputra, SIP, putra Bung Karno yang mengemukakan kembali ke pemikiran Sukarno untuk membumikan Pancasila sebagai Ideologi, Spiritualitas Bangsa, dan Dasar Negara. Revitalisasi Ajaran Sukarno adalah strategi kunci pembumian Pancasila.

“Sekjen GPP, Bondan Kanumoyoso, menjelaskan bahwa dalam setahun setelah GPP dideklarasikan bertepatan pada hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2019, GPP telah mengembangkan diri terus menerus untuk dapat menjangkau lebih banyak orang dalam upaya pembumian Pancasila, terutama pada generasi muda Indonesia. Diharapkan peserta kegiatan dapat merasakan energi baru untuk dapat membumikan Pancasila dengan berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari,tandas Bondan dalam keterangan tertulisnya yang diterima deteksionline.com Minggu(21/6/20).

Di bawah kepak sayap garuda dengan kebhinekaannya, negara sejahtera adil makmur tentulah akan tercapai….

(Budi.S)

 42 total views,  1 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed