by

Hj Endang Maria Astuti,Srikandi Golkar yang Peduli Persoalan Masyarakat

JAKARTA, deteksionline.com-Hj Endang Maria Astuti, S.Ag, SH, MH, anggota DPR RI daerah Pemilihan, Jawa Tengah dari Partai Golkar ini dikenal sebagai wanita pekerja keras yang sangat peduli dengan kepentingan masyarakat.

Tak heran begitu terjun ke dunia politik, wanita kelahiran 16 April 1966 di Wonogiri, Jawa Tengah.ini langsung melenggang ke Senayan, karena namanya memang sudah begitu familiar di kalangan masyarakat.

Terutama dapil Jateng IV meliputi Wonogiri, Karanganyar dan Sragen. Hj Endang memeroleh  memperoleh 76.723 suara, yang mengantarnya ke Senayan. Ini, untuk kedua kalinya maju ke Senayan setelah periode pertama 2014-2019.

Hj Endang bergabung di Partai Golkar tahun 2008, kemudiasn menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Golkar Wonogiri dan Wakil Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Tengah periode 2009-2014.

Pada dua periode ini, Endang Maria bertugas di tempat yang sama, yakni  di Komisi VIII yang membidangi pemberdayaan perempuan, agama dan sosial.

Kegiatan sosial yang baru-baru ini dilaksanakannya adalah mengajak masyarakat untuk peduli Coivd-19.dengan membagikan sembako untuk para narapidana, Sabtu (9/5/2020) lalu.

Kali ini, dia mengajak mahasiswa STAIMAS Wonogiri. Dalamkesempatan ini, Hj Endang bukan saja membagikan sembako, tetapi menyerap aspirasi masyarakat yangmengeluh tentang banyakhal, Misalnya, beban  biaya listrik, dan air. jika pas kondisi dalam keadaan sakit, uang hasil gaji PNS tidak mencukupi untuk beli lauk yang bergizi karena bukan dari peserta BPJS. dan aturanya yang rumit membuat para pensiunan sedih dan menjerit.

Di masa reses, wanita bersahaja ini selalu turun ke masyarakat untuk menyerap aspirasi. Seperti contohnya soal BPJS.  “Soal BPJS ini, harus diperhatikan masyarakat kalangan bawah, yang sulit membayar iuran.Kita memberikan apresiasibuat Mahkamah Agung yang membatalkan kenaikan BPJS,” katanya. “Pihak rumah sakit juga tidak boleh membedakan antara pasien BPJS dan umum. Jangan remehkan psien BPJS,” imbuhnya.

Wanita lulusan S2, Ilmu Hukum Universitas Surakarta tahun 2014 ini juga tergolong paling sering melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Beberapa daerah di dapilnya telah didatangi untuk menyapaikan pentingnya emoat pilar tersebut, Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika.

Disinggung tentang kegiatannya tersebut, Hj Endang tersenyum lalu memaparkan bahwa amanat  Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) menugaskan setiap Anggota MPR RI. untuk melakukan sosialisasi di daerah pemilihan. “Kita wajib melaksanakan kegiatan ini dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai-nilai yang terkandung didalam Empat Pilar tersebut,” ucapnya.

Generasi muda,katanya harus mampu menerapkan empat pilar dalam kehidupan keseharian agar dikemudian hari  mampu melindungi, merawat dan mempertahankan negaranya.

“Pilar-pilar berbangsa dan  bernegara harus bisa difahami oleh segenap bangsa kita. sehingga tidak mudah rapuh dan hancur oleh, Narkoba dan Pornografi pada Perkembangan zaman,”tuturnya.

Soal kepedulian terhadap masyarakat, sepak terjangHj Endang tak perlu diragukan lagi. Dia begitu mudah terharu ketika melihat kesusahan orang lain. Contohnya, ketika melihat kehidupan Ibu Sami di sebuah rumah yang sudah reot tak layak huni ditambah lagi tidak tersedianya MCK. Tragisnya lagi bahwa rumah yang ditinggali bu Sami juga bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain.

Politikus ini langsung mendatanginya dan memberikan bantuan. “Keadaanya memang sangat memprihatinkan. Negara kita kaya namun masih ada warga yang hidup dibawah garis kemiskinan bahkan kalau saya bilang kondisinya sangat miskin,” ujar Hj. Endang Maria Astuti kepada wartawan, Kamis (16/11/2017).

Hj. Endang Maria Astuti mengungkapkan jika Nek Sami tersebut jarang makan, ia bisa makan ada tetangganya yang mengantar makanan. “Sampai makanpun dia menunggu dari belas kasihan tetangga,” pungkasnya.

Soal Radikalisme

Ketika melakukan sosialisasi, ada beberapa pertanyaan yang menarik dari peserta, misalnya soal radikaliesme. 

HJ Endang menjelaskan, semestinya kelompok-kelompok yang dianggap radikalisme diberi pembinaan jangan hanya baru perkiraan mereka sudah ditangkap.

Pemerintah harus lebih peka terhadap masyarakat, dan masyarakat. yang peka terhadap lingkungan sekitar. “Disini peran pemerintah sangat penting selain pembinaan, karena paham radikalisme banyak diikuti oleh  anak-anak muda. Bahkan ada yang usia belasan tahun, itu karena usia  anak-anak yang mencari identitas diri. Mereka sedang melalui proses pencarian jati diri.Dimana eksistensinya dihargai maka mereka akan nyaman di lingkungannya atau komunitas nya,”tegas wanita bersahajah.

Lebih lanjut ditegaskan,sebenarnya seorang anak tidak akan mudah terpengaruh radikalisme jika disaat dalam keluarga dia mendapatkan pondasi yang kokoh mengenai kemanusiaan sejak dini.

“Ketika anak diajarkan kemanusiaan bagi kehidupan bersama di ruang sosial di masyarakat, keluarga memiliki peran dan tanggung jawab yang penuh dalam mengajarkan  nilai-nilai kebaikan dalam hidup selain keluarga negara dan pemerintah  juga ikut andil dalam menangkal paham radikalisme di masyarakat,” ujar HJ Endang sambil menambahkan bahwa ada banyak hal yang bisa diajarkan sebagai nilai dalam kehidupan bernegara dan paling dekat adalah mengambil dari nilai yang terkandung dalam Pancasila, dan UUD 1945.

Pada intinya, katanya, keluarga dan negara juga memberi kontribusi dalam memberi keteladan kepada masyarakat dengan menggali nilai-nilai budaya bangsa akan sedikit banyak membantu menegakkan karakter anak bangsa, dalam pencarian identitas diri.

Dengan begitu ada kesinambungan ketika nilai-nilai, kemanusiaan. yang diteladani dari rumah tentang pola pikir,dan pola perilaku. yang langsung bisa dilihat dan disaksikan anak,  sehingga anak akan mendapat kan nilai-nilai positif, yang tidak hanya dalam bentuk teori saja tapi keteladan dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. “Maka secara otomatis ketika anak  pada lingkungan sosial yang luas anak akan mampu membentengi diri dari paham-paham yang tidak sejalan dengan UUD 1945 dan Pancasila,” tutup Hj  Endang Maria Astuti. (budi setiawan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 323 total views,  1 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed