Soal Lahan Pujako Pangkalpinang, PT Timah Digugat Lagi ke Pengadilan

  • Share

Pangkalpinang,Babel,deteksionline.com – Ahli Waris pemilik asal lahan di belakang Pujako Pangkalpinang, Suryani dan Soniati masih tetap berjuang merebut haknya yang saat ini dikuasai oleh PT. Timah tbk secara sepihak.

Dengan menggandeng kuasa hukum dari Law Office Advokat Bedis Al Fahmi & Partners (BAP) yang beralamat di Yogyakarta, Soniati melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang terhadap 9 tergugat dan 2 turut tergugat lainnya.

Gugatan ini dilayangkan setelah somasi yang dilakukan kepada PT. Timah tbk pada Oktober 2019 lalu tidak digubris sama sekali oleh PT Timah, sehingga pihak kuasa hukum Soniati harus melakukan langkah hukum pidana maupun perdata dalam memperjuangkan hak-hak dan kepentingan hukum kliennya terhadap tanah pekaranagn milik Sopian Nurdin yang diakui secara sepihak oleh PT Timah tersebut.

Kuasa hukum ahli waris, Bedi Setiawan Al Fahmi kepada media, Senin (27/01/2020) mengatakan, gugatan perkara sudah di daftarkan ke Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang dengan nomor registrasi 3/Pdt.G/2020/PN Pgp tanggal 27 Januari 2020 tentang Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap para tergugat yang berjumlah 9 orang tergugat dan 2 orang turut tergugat.

Diantara 9 tergugat tersebut kata Bedi Setiawan ialah PT. Timah tbk dengan alamat jalan Jendral Sudirman no. 52 Pangkalpinang, para ahli waris Purnomo (Bakso Maspur) yang pada tahun 2004 silam membeli lahan dengan PT. Timah yaitu Eka Jayanti binti Purnomo, Donni Wibowo bin Purnomo, Novi Purfrida Sari binti Purnomo, Indah Wulandari binti Purnomo yang semuanya beralamat di jalan Jendral Sudirman rt 006. Rw 002 Pangkalpinang.

Tergugat lainnya Kornel Ohen Mailiano dengan alamat jalan Depati Barin no. 28 rt 001, rw 003 Pangkalpinang, Darius Hie alias Apok dengan alamat jalan Belimbing III no. 216 rt 007, rw 03 Pangkalpinang, Hadi Sukrisna alias Cecep dengan alamat jalan Timah I no. 136 rt 006, rw 002 Pangkalpinang dan Suparno dengan alamat jalan Depati Barin no. 135 rt. 006, rw 002 Pangkalpinang.

“Dua orang tersebut yaitu cecep dan suparno sampai saat ini masih menempati lahan dan bertempat tinggal di lahan yang menjadi objek gugatan,” jelas Bedi Setiawan.

Sedangkan, dua turut tergugat lainnya yang juga terlibat dalam sengketa lahan ini ialah PT. TRANS RETAIL INDONESIA Alias TRANSMART beralamat di jalan Lebak Bulus Raya no. 08 rt 11 rw. 10 Jakarta, Transmart diketahui bekerjasama dengan PT.Timah untuk membuat lahan parkir, sedangkan turut tergugat lainnya ialah Badan Pertanahan Nasional (BPN) beralamat di Jalan Kacang Pedang no. 26 Pangkalpinang, BPN dijadikan turut tergugat karena telah menerbitkan surat Hak Guna Bangunan (HGB) terhadap Kornel pada tahun 1998 dan Purnomo serta Darius Hie alias Apuk yang diterbitkan pada tahun 2000.

“Setelah daftar secara online dan mendapat verifikasi kami lakukan pembayaran biaya panjar tanda perkara dan sekarang kami tinggal menunggu surat panggilan dari pihak PN,” kata Bedi didampingi kliennya, Soniati.

Bedi menjelaskan, lahan milik Sopian Nurdin ini memiliki bukti kepemilikan yang sah berupa kuitansi jual beli pada tanggal 28 Oktober 1963 seluas 70 x 90 meter persegi dengan harga Rp 8.500 serta batas-batas yang jelas yaitu berbatasan dengan hotel mulia (Gedung Hamidah), bandar besar serta jalan raya Sudirman. “Kuitansi jual beli ini sesuai Undang-undang Agararia dinyatakan sah terang dan tunai,” tegas Bedi. Kemudian lanjutnya, pada tahun 1975 diterbitkan surat dari kepala blok yang sampai saat ini masih dikuasai oleh Sopian Nurdin.

Sedangkan pengakuan PT Timah terhadap lahan tersebut menurut keterangn yang di himpun, bahwa Sopian Nurdin dulunya merupakan pemborong yang punya hubungan kerja dengan PT. Timah, sehingga pada tahun 1980an terjadi kekeringan, maka PT. Timah menumpang membuat sumur untuk kebutuhan Wasre dan masyrakat sekitar mengingat saat itu kekurangan air bersih, maka diberikan izin oleh Sopian Nurdin untuk membuat sumur besar pada saat itu.

Bedi menjelaskan, kasus sengketa lahan yang berada di belakang Pusat Jajanan Kota (Pujako) Pangkalpinang antara ahli waris dari Sopian Nurdin sebagai pemilik asal dengan PT Timah (persero) tbk sudah bergulir sejak tahun 2004 silam.

Namun sengketa ini baru masuk ke ranah Litigasi Yurisdiksi Pengadilan Negeri Pangkalpinang pada tahun 2014.

Saat itu PT Timah tbk mengajukan gugatan Perbuatan Melanggar Hukum (PMH) kepada para penghuni kios yaitu Nurwati M. Zaroi dan yang lainnya sebanyak 19 orang, sedangkan ahli waris Sopian Nurdin masuk sebagai pihak intervensi.

“Dulu disini pernah ada sengketa PT. Timah menggugat 19 orang dan sampai sekarang masih bertahan 2 orang, sedangkan Darius Hie alias Apuk dan Kornel tidak termasuk sebagai pihak, namun dengan ukuran surat yang kita punya 70 x 90 meter persegi setelah kita ukur, ternyata Apuk dan Kornela ini masuk dalam objek sengketa, maka dari itu kami turut menggugat mereka semua yang tinggal disini,” jelas pengacara yang juga Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Advokat Spesialis Pengadaan Barang/Jasa Indonesia (DPP ASPEG INDONESIA).

Sementara, Humas PT. Timah, Anggi Siahaan menanggapi berita ini ketika di konfirmasi mengatakan, PT Timah akan ikut dan hormati proses Hukum yang berlaku untuk persoalan tersebut, PT Timah juga kata Anggita hingga saat ini tidak ada rencana untuk bertemu dan melakukan musyawarah.

“Sementara belum ada agenda tentang itu Pak,” kata Anggi ketika di tanya apakah akan menyelesaikan dengan cara musyawarah.

(yudie)

 3,359 total views,  4 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *