Alexander Fransiscus Paparkan Srategi Supaya Harga Lada Bisa Naik

  • Share

Foto // Alexander Fransiscus Anggota DPD RI Dapil Babel

JAKARTA,deteksionline.com-Anggota DPD RI asal Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Alexander Fransiscus atau lebih dikenal Alex akan melakukan upaya agar Pemerintah Pusat dapat menstabilkan harga komoditi pertanian khususnya pada komoditas Lada, yang meruapakan komoditi unggulan Petani Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Upaya ini dilakukan Alex karena merasa prihatin terhadap petani yang terkena imbas akibat harga komoditi lada yang anjlok.

“Bagaimana pemerintah bisa menstabilkan harga, juga bagaimana peran Kementerian Pertanian membimbing soal efisiensi dan produk”, ungkap Alex.

Selain itu anggota DPD RI ini juga mendorong “pemerintah agar gencar melakukan sosialisasi kepada para petani agar maksimal dalam memanfaatkan teknologi dalam pertanian.agar setiap petani dapat menikmati hasil produk yang tinggi,”tegas Alex yang Senator, Dapil Bangka Belitung, Seperti yang diterima oleh redaksi media amunisinews.co.id dan redaksi deteksionline Kamis,(23/1/2020).

Menurut Alex, kita memanfaatkan teknologi untuk mengatasi penyakit dan bagaimana kita bertani itu bisa efisien dan meningkatkan produktifitas yang tinggi.

Sementara, di pasaran Kepulauan Bangka Belitung saat ini harga lada mengalami penurunan yang sangat signifikan berkisar antara 30 – 40 ribu rupiah perkilonya.

“Berbeda dengan harga pada tiga semester sebelumnya yang berkisar antara 60 ribu rupiah perkilonya.Ditengah-tengah anjloknya nilai jual lada di Babel, mengajak petani agar dapat mengolah hasil pertanian tersebut menjadi barang jadi agar meningkatkan nilai jual produk tersebut,”ucapnya Alex di komite II DPD RI yang membidangi Pertanian,Infrastrukur.

“Kita jangan tergantung pada cara yang konvensional, hanya menjual hasil pertanian kita. Tapi bagaimana meningkatkan value (nilai) dari produk, agar nilainya lebih baik”, tambahnya.

Sementara itu Tim yang dibentuk Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendapati sejumlah masalah yang menyebabkan harga lada murah.

Tim yang dipimpin Prof. Dr. Saparudin,Staf Khusus Gubernur Babel menyimpulkan jika persoalan lada dunia hingga proses pengolahan lada oleh petani mempengaruhi harga lada.

“Pertama hasil kerja tim menemukan jika over supply kebutuhan lada dunia. Dari data yang kami peroleh kalau Vietnam ekspor lada lebih besar dari Indonesia. Data dari perindustrian dan Perdagangan RI menyebutkan supply lada dunia mencapai 6 hingga 7% per tahun, tapi permintaan hanya dua hingga tiga persen. Jadi ada over supply lada, Vietnam terbesar lalu India pun sudah jadi pemain. Itu yang pertama penyebab harga jadi murah.” Ujar Saparudin saat memaparkan temuan tim dalam rapat yang dipimpin Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung.

Kepada peserta rapat dihadiri anggota DPRD Babel, para eksportir lada asal Babel, dan Kepala dinas terkait, Saparudin mengatakan faktor kedua penyebab harga lada murah kurang inovasi di daerah maupun Indonesia.

Di luar negeri lada sudah dikemas dalam bentuk bubuk dengan kemasan botol, atau bentuk suchet (saset-red) atau bentuk lainnya.

“Lada kemasan suchet saja dengan asumsi harga Rp. 80.000 per kilogram, kami menemukan harga untuk proses bungkus Rp. 500, lalu dijual dengan Rp. 1.000 isi 4 gram per suchet kalau dikalikan sekilo saja bisa harga sudah Rp.250.000 per kilogram dari asumsi harga Rp.80.000 per kilogram. Dengan inovasi berupa hilirisasi bisa meningkat nilai tambah bagi petani.”Ujar Saparudin.

Ketiga, menurut tim, kualitas lada menurun sementara standar lada yang dibutuhkan para pembeli di luar negeri sangat tinggi.

“Mereka para buyer menaikan standar lada, misalnya bebas segala macam bakteri, harus seteril, standar makin tinggi, kualitas lada kita sedikit menurun,”tukas Saparudin.

Dan yang terakhir menyebabkan harga lada turun menurut tim, strategi pemasaran sesama ini masih tradisional antara eksportir di Babel dengan buyer yang menentukan harga.Seharusnya pemasaran sudah memasuki sisi teknologi agar lebih transparan dan efisien.

“Empat hal ini menurut analisa tim kami, mengapa harga lada terus merosot dan kita perlu antisipasi dengan rencana aksi untuk mengatasinya,” kata Saparudin yang juga menjabat Direktur Utama BUMD Babel ini.

“Sebagai kesimpulan ahir adalah adanya Over Supply Lada di tingkat dunia, harus adanya inovasi strategi penjualan untuk bisa meningkatkan nilai tambah bagi petani, kualitas lada yang menurun, strategi pemasaran yang masih tradisional”, jelasnya..(budi setiawan)

 2,523 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *