Close

BAKAM, BANGKA, DETEKSIonline.com-Penolakan segelintir masyarakat dengan rencana pembangunan pabrik pemerosesan Kelapa Sawit atau pabrik Crude Palm Oil (CPO) oleh PT Payung Mitra Jaya Mandiri di Desa Maras Senang, Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka, membuat Kades Maras Senang Jawan Efendi meradang.

Menurut Kades Maras Senang Jawan Efendi tindakan masyarakat itu tanpa dasar dan alasan yang tepat, alasan yang di utarakan mereka tidak masuk akal,

” Segelintir masyarakat saya yang menolak kehadiran pabrik CPO itu tanpa dasa, mereka utarakan alasan yang tidak masuk akal, padahal keberadaan pabrik CPO sangat menguntungkan masyarakat Desa Maras Senang”, terang Jawan, Kamis (14/11/2019) di Kantor Kades Maras Senang Simpang Belinyu.

Menurut Jawan masalah jarak bakal pabrik CPO dengan perumahan warga Desa Maras Senang itu sangat jauh, sekitar lebih kurang Dua Kilometer,

” jarak rencana pabrik CPO itu sudah di ukur lebih kurang 2 kilometer, bukan 400 meter seperti yang mereka katakan. Lahan yang akan kita gunakan untuk pabrik itu adalah lahan pribadi warga, bukan lahan desa, bukan kawasan hutan ataupun hutan adat”, terangnya kembali.

Kemudian Jawan juga membeberkan masalah penolakan segelintir warganya yang sudah kumpulkan tanda tangan, sudah laporkan kepada DPRD Kabupaten Bangka,

” ada 210 tanda tangan terkumpul yang menolak kehadiran pabrik CPO, namun setelah saya konfirmasi lagi ke pemilik tanda tangan, ada beberapa tanda tangan yang bukan warga Desa Maras Senang, ada juga tanda tangan orang sakit dan ada beberapa warga yang sudah tanda tangan mau cabut tanda tangannya. KK warga Desa Maras Senang ada 800 KK, lebih banyak warga yang pro daripada yang menolak, dengan alasan untuk lapangan pekerjaan”, ungkap Jawan lagi.

Jawan juga sebutkan kelompok yang menolak ini adalah kelompok H Junai, “alasannya karena lokasi awal adalah lahan milik H Junai yang akan digunakan untuk pendirian pabrik CPO tersebut, namun karena masalah air, pihak pabrik memilih lahan masyarakat lain dan itu yang membuat H Junai marah, awalnya H Junai adalah kelompok pro juga”, tambahnya.

 

 

Sementara, H Junai mengakui kalau awalnya pro dengan rencana pembangunan pabrik CPO itu, namun sekarang ikut masa yang kontra karena takut terkena dampak limbah pabrik,

” awalnya saya akui memang saya senang dengan rencana pembangunan pabrik, namun setelah saya renungkan bakal mencium bau yang menyengat, saya ikut masa yang menolak, alasannya lokasi bakal pembangunan pabrik terlalu dekat dengan pemukiman warga, kurangnya sosialisasi dari pihak pemilik perusahaan kepada warga desa Maras Senang”, kata H Junai, Kamis (14/11).

Penolakan H Junai juga diamini oleh menantunya Danu, menurut Danu, penolakan tersebut telah juga disampaikan kepada DPRD Bangka, melalui Komisi ll dan telah diundang baik warga maupun wakil perusahaan untuk didengar keterangannya baru-baru ini dalam rapat kerja.

” Kami sudah laporkan masalah ini kepada Komisi II DPRD Kabupaten Bangka dan Ketua Komisi ll DPRD Kabupaten Bangka, M. Taupik Koriyanto, SH MH sudah melakukan rapat dengan pihak terkait. Rapat Kerja Dewan tanggal 11 Nopember 2019 yang dihadiri sejumlah OPD, masyarakat baik yang pro maupun kontra, dan wakil perusahaan”, ungkap Danu, Kamis (14/11) melalui telepon selular.

Namun sangat disayangkan menurut Danu, perwakilan perusahaan yang hadir dalam rapat dengan pihak DPRD Kabupaten Bangka itu Sunantri tidak punya legalitas yang jelas,

” perwakilan dari pihak perusahaan tidak punya legalitas yang jelas yang bisa dipertanggung jawabkan”, sesal Danu sambil menutup pembicaraan.

Sementara itu Ketua DPRD Kabupaten Bangka Iskandar SH MH mendukung penuh pembangunan pabrik CPO di Desa Maras Senang Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka, namun dengan catatan harus sesuai prosedur,

” DPRD Kabupaten Bangka sangat mendukung pembangunan pabrik CPO di Desa Maras Senang, namun dengan catatan harus sesuai prosedur”, kata Iskandar melalui telepon..(her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!