Close

TANGERANG SELATAN,deteksionline.com- Untuk menangkal hoax dan rasisme serta memberikan pencerahan kepada masyarakat, BPI KPNPA RI menggelarkan rembuk lintas agama bertempat di gedung Serbaguna BPI KPNPA RI di Serpong Tangerang Selatan, Rabu (4/9/2019).

Rembuk Lintas Agama ini di hadiri sekitar 250 undangan antara lain dari Tokoh Lintas Agama, tokoh Masyarakat, Jajaran Ormas di Tangsel antara lain, Forum Betawi, Paku Banten,Laskar Banten, Warga Jaya Tangsel, Alim Ulama , Forum Umat Kristiani Tangsel, Ketua Pemuka Hindu Tangsel, Pemuka Umat Budha Tangsel, pastor, pendeta Nasrani.

Ketum BPI KPNPA RI menyampaikan mengenai
stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini mudah sekali terganggu oleh beredarnya hoax atau berita bohong. Hal ini disebabkan saat ini masyarakat sebagai penerima berita bisa sekaligus berperan sebagai penerus atau bahkan produsen berita, padahal literasi (pemahaman) soal informasi sangat minim.

“Masyarakat mudah percaya dan mem viralkan berita-berita yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan, seperti gejolak keamanan di Papua yang pemicunya adalah sebaran hoax dari seseorang yang menyebarkan berita telah terjadi perusakan/ penghinaan terhadap bendera merah putih di Asrama Mahasiswa di Surabaya yang kemudian memicu ungkapan rasisme dari pihak-pihak yang percaya berita tersebut”, demikian disampaikan oleh Tubagus Rahmad Sukendar SH.

Tubagus lanjutkan, “Pihak yang ingin memisahkan diri dari NKRI (separatisme) dan pihak yang ingin menggantikan negara demokrasi menjadi negara agama menjadikan hoax sebagai strategi yang efektif. Karena mereka berprinsip sedang berperang sehingga boleh melakukan tipu daya dan tipu muslihat termasuk penyebaran berita bohong atau lebih dikenal hoax”, ujarnya.

Masih menurut Tubagus Rahmad , mengikuti hoax, ada yang namanya ujaran kebencian (hate speech). Ujaran-ujaran melalui forum-forum dan media sosial yang isinya hujatan, hinaan dan provokasi bersumber dari hoax tadi. Masyarakat menjadi marah, takut dan gelisah sehingga mudah digerakkan untuk kepentingan pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Setelah orang menjadi benci akibat terpapar hoax dan hate speech, dia akan menjadi intoleran menjadi rasis, menjadi radikalis, merasa benar sendiri, melihat orang yang tidak sepaham adalah lawan yang harus diserang atau dimusnahkan. Tidak lagi ada rasa damai dalam hatinya, kebencian terus menjadi penyakit yang membutakan mata kemanusiaan, akibatnya, mereka yang rasis dan intoleran akan menjadi radikalis. Melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak umum, menyerang orang lain, menyerang pemerintah dan melupakan kemanusiaan. Radikalis tedak segan menyerang aparat, membunuh orang lain, membakar aset negara, merusak fasilitas umum yang kemudian menghancurkan rasa aman dan tenteram, membunuh kemanusiaan”, jelasnya.

Sementara, Brigjen Pol Budi Setiyawan Karo Multi Media Div.Humas dalam paparannya dihadapan undangan menjelaskan cara menangkal hoax yang memicu Rasisme dan Radikalisme kepada semua undangan.

Menurut Budi, untuk melawan hoax dan rasisme, masyarakat harus memiliki pengetahuan melalui edukasi pengelolaan informasi sehingga mampu memilih, mem filter dan memilah berita. Langkah-langkah yang dilakukan adalah ada 5 langkah yang harus dilakukan adalah dalam menangkal hoax.

“Pertama,  rakyat Indonesia harus kembali mengingat ajaran para pendiri bangsa yang telah melahirkan NKRI, Pancasila, UUD 45 yang sudah sangat jelas petunjuk untuk mengamalkannya,

Kedua, rakyat Indonesia harus mempu memiliki kemampuan menguji setiap informasi yang diterima, uji kebenarannya, tolak jika ternyata hoax, jangan disebarkan jangan dipercaya,

Ketiga, rakyat Indonesia harus mampu menahan diri tidak mudah mengeluarkan umpatan rasis, cacian fitnah dan ujaran kebencian lainnya, namun memilih untuk mengedepankan rasa hormat dan empati kepada sesama manusia,

Keempat, rakyat Indonesia menolak segala bentuk Intoleranisme, memilih untuk mempraktekkan sikap toleran dengan dasar ajaran Pancasila dan Bhineka Tinggal Ika,

Kelima, rakyat Indonesia menolak dan waspada terhadap segala aksi radikalisme, melaporkan setiap gejala atau tanda-tanda yang mengarah kepasa aksi tersebut dan memperkuat jalinan kemasyarakatan”, ungkap Budi.

Dengan lima langkah tersebut, maka Pemerintah akan sangat terbantu, stabilitas keamanan akan terjaga, pembangunan menuju kesejahteraan berpeluang lebih besar untuk berhasil.

(Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!