Walhi : Eks Tambang Kok Mau Ditanami Sawit

  • Share

PANGKALPINANG, DETEKSIONLINE.COM-Wacana Pemerintah Republik Federal Jerman, yang akan menanam kelapa sawit di lahan bekas penambangan bijih timah di Kepulauan Bangka Belitung, masih menuai pro dan kontra.

Dalam pengamatan redaksi, polemik terkait wacana penanaman lahan bekas eks kolong timah dengan tanaman sawit masih diperlukan dialog yang komprehensif antara pemerintah pusat, pemerintah Jerman dan pemerintahan provinsi Bangka Belitung sebagai tuan rumah.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Ferry Insani di Pangkalpinang, Jumat 22/02 kemarin mengatakan bahwa proyek reklamasi adalah hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jerman untuk merevitalisasi daerah krisis serta untuk membantu meningkatkan kegiatan ekonomi.

Dia juga mengungkapkan, negara Jerman diketahui sebagai salah satu pengimpor bahan baku timah dari negara Indonesia. Sehingga Jerman mewacanakan akan menanam lahan kritis tadi dengan tanaman sawit.

“Program reklamasi adalah proyek percontohan karena tanggung jawab negara sebagai importir timah yang diproduksi di wilayah ini,” tambahnya seperti dikutip Antara.

Terpisah, dalam wawancara kepada media pada tanggal 22 Februari 2018, Kepala Divisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedutaan Besar Republik Federal Jerman Svann Langguth menyatakan pihaknya tidak hanya menanam saja, juga melakukan pembibitan kelapa sawit unggul, ia juga mengatakan bahwa tanaman kelapa sawit luar biasa, ekonomis dan dapat menjaga kelestarian lingkungan flora serta fauna.

“Reklamasi lahan bekas penambangan di Bangka Belitung sebagai salah satu tanggung jawab pemerintah Jerman yang merupakan salah satu negara ekspor timah Indonesia. Kami juga memiliki tanggung jawab untuk menanam berbagai tanaman bermanfaat untuk perekonomian masyarakat di daerah ini,” katanya.

Ia menambahkan kegiatan reklamasi ini murni niat baik Pemerintah Jerman, untuk memperbaiki lingkungan bekas penambangan bijih timah di Bangka Belitung.

“Kami tidak ada niat lain untuk melakukan reklamasi di lahan bekas tambang ini, apalagi selama ini kebutuhan timah Jerman didatangkan dari Indonesia,” pungkas dia.

Wacana ini belum bisa dikatakan berjalan mulus. Terbukti sore ini hal tersebut menuai tanggapan dari Pjs Direktur WALHI Kepulauan Bangka Belitung, dimana dalam rilis pers yang diterima redaksi, Zulpriadi mengungkapkan inisiasi Pemerintah Jerman melakukan reklamasi pasca tambang dengan penanaman sawit untuk pemulihan lingkungan dan menjaga flora dan founa adalah kerangka berfikir yang sesat.

“Kerusakan lingkungan oleh tambang timah di Babel sudah sangat kritis, data WALHI Babel terdapat ribuan lubang tambang dibiarkan menganga tanpa direklamasi, ratusan ribu hutan dan lahan hancur, serta puluhan nyawa melayang setiap tahun akibat lubang tambang di Babel, yang lebih berbahaya lagi adalah konsentrasi radioaktif tinggi dari lubang tambang yang tanpa disadari oleh masyarakat,” jelas Zul, lewat pesan elektronik whatsapp, Sabtu sore 23/02.

Zulpriadi menambahkan, menanam sawit untuk mereklamasi tambang akan menimbulkan masalah baru terhadap keberlanjutan lingkungan hidup di Babel.

“Sebagai negara pengimpor Timah dari Indonesia, Jerman seharusnya bertanggung jawab besar terhadap pemulihan kerusakan lingkungan yang terjadi di Babel,” tutup Zul..(robi brewok)

 2,547 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *