Close

SUNGAILIAT,BABEL,DETEKSIONLINE.COM:- Kegiatan pengrusakan lingkungan di kawasan hutan semakin tak terkendali. Meskipun sering dilakukan razia (penertiban) baik oleh aparat kepolisian, Sat Pol PP  maupun tim Gakkumdu (penegakkan hukum terpadu) dari KLHK, kegiatan pengrusakan lingkungan ini masih saja terus menggila.

 

Seperti  halnya kegiatan tambang timah illegal berskala besar (TN) di kawasan hutan Bubus Riau Silip tepatnya di dusun Bedukang Desa Deniang Kecamatan Riau Silip hingga saat ini masih terus berlangsung.

Berdasarkan pantauan, Sabtu (15/12/2018) sore sedikitnya ada sekitar 6 hingga 7  titik lokasi yang rusak parah hingga berbentuk lobang camoy dengan kedalaman hingga puluhan meter  dengan luas hamparan  lebih dari puluhan hektar. Dari 6 hingga 7 titik lokasi tersebut  terlihat aktifitas penambangan timah illegal sedang berlangsung. Selain menggunakan mesin mesin TI berbahan bakar minyak diesel juga menggunakan alat berat jenis eksavator, ada  merk ‘KOMATSU’  dan juga  merk ‘KOBELCO’.

Dari informasi yang didapat di lapangan. Sejumlah  titik lokasi penambangan timah illegal itu masing masing pemiliknya adalah bos- bos besar. Mereka adalah JN, AMK, AMN, ASNG dan ATN.

“Lokasi tambang sebelah jalan bedukang itu milik Joni. Sedangkan lokasi tambang setelah SDN 8 Bedukang itu disebut sebut  pemiliknya ada 4 orang. Yakni AMK, AMN dan ASNG serta ATN,” ungkap sumber.

Sementara itu salah satu kolektor timah yang bernama Apen alias Pepen warga Dusun Bedukang Desa Deniang tak menampik jika timah yang ia beli berasal dari tambang  timah illegal di kawasan hutan yang tak jauh dari rumahnya.

“Benar pak. Saya beli timah dari hasil penambangan timah illegal di kawasan hutan ini. Timah yang saya beli ini saya jual lagi ke bos AtN yang punya Smelter Tiga Bersaudara. Tapi untuk saat ini,  timah bos AtN dijual  ke PT Timah,” ungkap Pepen saat berbincang bincang dengan awak media  di teras rumahnya, Sabtu (15/12).

Di sela sela perbincangan, nampak beberapa pekerja  sedang melakukan aktifitas bongkar  pasir timah dari mobil pick up. Terlihat kurang lebih 7 kampel pasir timah yang berukuran 50 kg diangkut ke gudang timah yang terletak di samping rumah Pepen.

Ditanya soal keamanannya dalam menjalankan bisnis jual beli timah yang berasal dari tambang illegal di kawasan hutan. Pepen secara blak- blakan mengungkapkan jika bisnis jual beli timah yang digelutinya  berjalan lancar tanpa kendala lantaran KOORDINASINYA cukup baik.

“Ya namanya juga bisnis illegal. Maka koordinasinya harus kencang,  saling berbagi,” ungkap Pepen seraya mengakui  jika bisnis yang digelutinya sudah cukup lama dan berjalan lancar serta aman karena mendapat sistem beckingan yang cukup kuat.

Sementara itu terkait kegiatan tambang timah illegal yang diduga di lakukan di kawasan hutan, pihak Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bubus Panca, Bustomo berjanji akan melakukan pengecekan ke lokasi. Bila terbukti aktifitas tambang illegal itu merambah kawasan hutan maka akan segera dilakukan penertiban.

“Kami akan cek dulu. Karena di Bedukang itu ada Hutan Lindung (HL) Pantai dan juga Hutan Produksi (HP). Jika terbukti aktifitas tambang illegal itu merambah kawasan hutan baik HL maupun HP maka akan segera ditertibkan,” janji  pihak KPH Bubus, Bustomo, melalui sambungan telepon, Sabtu (15/12).

Hingga berita ini diturunkan, sejumlah awak media termasuk wartawan media ini  masih dalam upaya meminta tanggapan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kehutanan  baik yang di Kabupaten maupun Provinsi terkait upaya mengejar pelaku pengrusakan lingkungan di dusun Bedukang desa Deniang kecamatan Riau Silip kabupaten Bangka  sehingga pelaku dapat memprtanggung jawabkan perbuatannya. (Vinna/Herman)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!