Berkasnya Lengkap, Tersangka KDRT Ini segera Diadili

  • Share
Korban saat dirawat di RS Islam Jakarta

JAKARTA, DETEKSIONLINE.COM- Dede Yusuf (23), tersangka kekerasan terhadap Novi Nurmahmudah segera disidangkan karena berkasnya dianggap sudah lengkap (P-21) dan  sudah di Kejaksaan.

Kepastian ini diungkap oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu kepada Amunisinews.co.id dan deteksionline.com, Kamis (8/11). “Kasusnya masih jalan. Bahkan berkasnya sudaj di Kejaksaan negeri jakarta Pusat (Kejari Jakpus,” kata Kapolres melalui Kompol Purwadi, Kasubag Humas Polres Jakarta Pusat.

Menurut Purwadi, Dede Yusuf memang tidak ditahan tapi tetap harus melapor tiap Senin dan Kamis. “Kami tinggal melakukan penyerahan tahap kedua, yakni tersangka dan barang buktinya,” ujar Kompol Purwadi.

Humas Badan Peneliti Independen (BPI) Budi Setiawan, SH mengapresiasi Polres Jakarta Pusat meskipun terkesan agak lambat penanganannya. “Kita apresiadi dan berharap pelimpahan tahan kedua segera dilaksanakan agar korban Novi Nurmahmudah, yang sempat mengalami perdarahan otak akibat penganiayaan itu segera mendapatkan keadilan,” kata Budi.

Sejauh ini, Purwadi tidak menjelaskan alasan mengapa tersangka tidak ditahan selama proses penydikan di kepolisian. Kerena itu, diharapkan Kejaksaan segera menahan tersangka dan mengajukan ke meja hijau.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa  Novi, ibu dari satu anak ini melaporkan Dede Yusuf, ke Polres Jakarta Pusat pada Kamis (8/3/2018) dan diterima dengan nomor LP 364/K/III/2018/RestroJakpus karena sering dianiaya.

Terparah terjadi pada 25 Pebruari 2018 di RW 01 Suka Mulia Kelurahan Harapan Mulia, Cempaka Putih Jakarta Pusat. Akibat dihajar oleh Dede Yusuf, Novi mengalami luka cukup parah, pendarahan pada bagian otak dan harus dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

Kronologi kejadian seperti tertera dalam LP disebutkan bahwa hari itu, sekitar pukul 02.00 WIB Novi sedang tertidur didatangi oleh suaminya Dede Yusuf yang meminta uang Rp 100 ribu ditolak Novi sehingga terjadi aksi kekerasan.

Dede  kemudian memukul bagian wajah dan menendang hingga mengenai dada bagian kiri. Akibatnya korban Novi harus dilarikan ke RS Islam Jakarta dan dokter memutuskan untuk dilakukan perawatan.

Aksi kekerasan ini sempat didamaikan oleh pihak RW. Kemudian Dede membuat surat peryataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Perjanjian tersebut ditulis dan dibubuhi materai, tanpa disaksikan korban yang saat itu masih dirawat.

Beberapa hari kemudian, setelah Novi keluar dari rumah sakit, kejadian serupa terulang lagi sehingga Novi melaporkan Dede ke Polres Jakarta Pusat.

Dalam proses laporan tersebut Novi pun menggugat cerai Dede ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Pengadilan mengabulkan gugatan Novi. “Sekarang kami sudah resmi bercerai,” tegas Novi.

Dalam SP2HP disebutkan beberapa pihak telah diperiksa di antaranya korban sendiri, Dahlan bin Usa, Mahmudin, Titin Rohayatin dan saksi ahli dokter Aji Prabowo.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga ini sempat mendapat sorotan dari Badan Peneliti Indenden (BPI). Humas BPI Budi Setiawan SH berkoordinasi dengan penyidik agar kasus yang merupakan penganiyaan berat ini mendapat perhatian serius, karena sebelumnya pihak terlapor sesumbar polisi tidak akan menangkapnya.

Terlebih lagi diduga ada semacam perlindungan dari seorang aparat kepolisian yang ditugaskan di kelurahan tersebut.

“Kasus itu merupakan anirat dan sudah sewajarnya bila penyidik menetapkannya sebagai tersangka,” kata Budi Setiawan. “Kalau ada anggota kepolisian yang ikut melindungi kami akan teruskan ke Propam Polri. Kami punya hubungan harmonis dengan Propam,” ujar Budi. [mus/dra]

 622 total views,  2 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *