Singkap Budaya Tabu, Hindari Jurang Kelabu

  • Share

Oleh: Septiana Agustin, M.Pd

sEMARANG, DETEKSIONLINE.COM::Budaya ketimuran memang identik dengan tutur kata sopan dan perilaku santun. Namun demikian, fenomena saat ini, justru mencerminkan sebaliknya. Perkataan manis yang keluar dari bibir seseorang kadangkala hanya berupa basa basi agar mengundang sensasi. Tingkah laku santun yang diperbuat seseorang seringkali hanya sebuah pencitraan belaka. Lebih mirisnya lagi, hal-hal semacam itu sudah mulai diserap dan dilakukan oleh para generasi muda di era bergengsi ini. Meski tak mudah dipercaya, namun sebetulnya generasi muda mencontoh apa yang dipertontonkan kepada mereka. Hal-hal yang selama ini dianggap tabu oleh para orang tua, justru dikupas lepas oleh para generasi muda. Akibatnya, banyak hal yang kurang baik merasuki kehidupan generasi muda. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam jurang kelabu.

Mencermati bahwa semakin hari keadaan zaman semakin fluktuatif. Maka sangat diperlukan rambu-rambu yang pakem sebagai rule of life. Di satu sisi memang ada komunitas orang muda yang sedang berkembang ke arah yang lebih baik, namun di sisi lain ada yang semakin tersesat dalam pergaulan yang salah. Entah akan menjadi seperti apa generasi muda di zaman ini, jika perilaku yang tidak benar terus dibenarkan. Kesalahan dan kelalaian mereka sebetulnya tidak hanya bersumber dari keluarga atau lingkungan yang buruk saja, namun juga faktor dari pribadi yang bersangkutan.

Setiap anak terbentuk dari banyak hal, sehingga tidak ada pihak yang paling patut disalahkan ketika anak melakukan perbuatan yang menyimpang.
Ada masa dimana anak senang bergantung kepada orang lain. Ada masa dimana mereka senang dianggap mandiri melakukan segala sesuatu dengan dirinya sendiri. Ada masa dimana anak membutuhkan pertahanan yang kuat selama mendapatkan tekanan. Ada masa dimana anak merasa sendiri, tidak berharga, dan terpuruk oleh cara berpikirnya sendiri. Ada masa dimana anak senang bermain-main saja tanpa menghiraukan tanggungjawab yang harus diselesaikannya. Ada masa dimana anak tampil percaya diri atau sebaliknya yaitu tampil tidak menjadi dirinya sendiri. Setiap tahap perkembangannya, anak memiliki tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dikerjakan oleh anak. Oleh karena itu, anak sangat memerlukan bimbingan yang benar dari orang-orang dewasa untuk membantu melewati setiap tahap perkembangan dengan baik.

Meskipun materi pelajaran yang diberikan kepada anak itu sama, namun penerimaan dan penyerapan anak berbeda antara satu dengan yang lain. Hal itu ditentukan dari: gaya belajar anak, metode didikan orang tua, serta lingkungan yang mengasuh anak. Pengalaman anak di masa lalu juga menjadi faktor yang membentuk pola pikir anak. Kebiasaan orang-orang disekitarnya ketika berbicara, berperilaku, makan, bergaul dengan orang lain, itu semua diserap oleh anak. Maka, muncul istilah bahwa anak adalah peniru ulung. Dengan demikian, tugas dari orang-orang dewasa adalah mendampingi anak dalam menciptakan pengalaman-pengalaman yang menarik, menyenangkan, berguna dan berdampak bagi tumbuh kembang anak.

Berbicara lebih jauh tentang bentuk pendampingan kepada anak, maka dapat diperhatikan beberapa prinsip yang harus dimiliki oleh para pendidik. Salah satunya adalah melakukan pembiasaan terbuka dengan anak. Baik para orang tua maupun guru, harus mulai menelusuri apa saja yang menjadi kebiasaan anak dalam bergaul. Zona pergaulan anak perlu dipantau, sehingga orang dewasa bisa mengimbangi atau setidaknya tidak mudah dibodohi oleh anak. Ketika anak mulai menunjukkan perilaku yang tidak seperti biasanya, maka orang tua perlu waspada. Tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak untuk menegur atau menanyakan kejanggalan yang terlihat. Bukan ingin mencampuri, namun memfungsikan diri sebagai filter. Biasakan untuk dekat dengan anak, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang ekstrovert.

Salah satu contoh hal yang selama ini dianggap tabu dalam budaya ketimuran adalah tentang seks. Mengacu pada kurikulum terdahulu, pendidikan seks diberikan kepada anak-anak usia sekolah menengah pertama (SMP). Jika diberlakukan hingga saat ini, tidaklah bijak. Hal itu dikarenakan aroma seksualitas sudah tercium di kalangan anak muda. Beberapa asupan lagu, musik, video klip, atau film dengan bebas mempertontonkan adegan yang terkesan tidak sopan dan belum waktunya dikonsumsi oleh anak. Fase peralihan atau akil balig dialami anak-anak pada umumnya di usia belasan tahun. Namun, saat ini banyak anak di bawah sepuluh tahun sudah mengalami fase akil balig. Sejalan dengan akses teknologi yang begitu instan, maka pertumbuhan biologis anakpun begitu cepat. Istilah sekarang ini adalah matang sebelum waktunya. Bahkan, kasus terkini yaitu anak-anak usia sekolah dasar sudah mengerti dan melakukan hubungan seks di luar nikah. Beberapa dengan teman bermainnya, teman baru yang dikenal, dan juga orang-orang dewasa yang usianya terlampau jauh.

Menyikapi perilaku-perilaku yang menyimpang tersebut, maka para pendidik harus bersedia membuka mata lebih lebar, membuka hati lebih luas, dan membuka diri dengan tidak terbatas. Para pendidik baik guru maupun orang tua, harus mau menyingkapkan budaya yang selama ini dianggap tabu kepada anak muda yang sudah selayaknya mereka tahu. Kadangkala, secara sadar mereka melakukan kesalahan, namun tidak berpikir panjang akan akibat yang akan diterima nantinya.

Mereka cenderung berpikir dengan cara pandangnya sendiri, seolah mampu mengatasi masalahnya tanpa bantuan orang lain. Sebagian dari mereka lebih mempercayai teman atau komunitas daripada anggota keluarganya. Menjadi sebuah pertimbangan besar bahwa pendidikan seks harus diberikan kepada anak sejak dini. Tentunya disampaikan dengan cara yang benar sesuai tahap usia anak. Perlu ditanamkan pula agar mereka dapat menjaga dirinya dengan baik di tengah pergaulan yang bebas. Jika anak sampai mencari tahu dengan caranya sendiri dan tidak mengkonfirmasikan kepada orang dewasa, maka pemahamannya akan menjadi salah. Pemahaman yang salah akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kelabu, yaitu sebuah keadaan yang menyesatkan anak untuk melakukan tindakan-tindakan di luar akal sehat mereka. Jadi, sadari dan waspadai sejak dini. Singkap budaya tabu, agar terhindar dari jurang kelabu.

 878 total views,  6 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *