by

‘Kutu Loncat’ Parpol, Tersandera Atau Haus Kekuasaan?

FOTO: money smart.

JAKARTA, DETEKSIONLINE.COM- Aksi politisi lompat pagar sangat melukai perasaan Partai Demokrat. PDI-P dinilai sebagai biang keroknya. Ada Apa?
Menjelang Pilpres 2019 Demokrat adalah salah satu partai yang sangat dilukai. Pertama, kader inti Demokrat yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB). Penghapal Al Quran ini memilih meninggalkan partainya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bergabung ke kubu Jokowi-Ma’ruf Amin.

Belum sembuh luka Demokrat, kini Deddy Mizwar membuat ulah. Dia melompat ke kubu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan menjadi juru bicara Tim Kam panye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

Keputusan dua petinggi Demokrat yang memiliki basis sua ra signifikan di daerah masing-masing ini membuat kubu Demokrat meradang.

Terang saja ini membuat Wakil Sekjen Demokrat Andi Arief menye butkan ini sebagai pembajakan. Andi Arief menyebut Sekjen PDIP yang juga Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto sebagai “biang ke rok” dari aksi pembajakan kader Demokrat oleh kubu Jokowi. “Saya tidak mengerti kenapa Ibu Megawati (Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri) merestui Hasto yang rajin membajak kader Demokrat untuk gabung ke tim Jokowi. Apakah PDIP su – dah sangat miskin kader berkualitas?” kicau Andi Arief le wat akun Twitter-nya kemarin.

Andi Arief bahkan menyebut Hasto sebagai perusak dan meminta Megawati menertibkan Hasto agar hubungan PDIP Demokrat tidak semakin memanas. “Anda tidak hebat, Anda perusak,” cuitnya seperti dikutip Sindonews.

Hasto mengaku enggan menanggapi pernyataan Wasekjen Demokrat tersebut. Namun, dia mengingatkan ba – nyaknya kader lain bergabung ke tim Jokowi lantaran sikap dan kepemimpinan mantan gubernur DKI itu. Jokowi dinilai dapat merangkul semua pihak. “Ya, sebenarnya karena kepemimpinan Pak Jokowi yang menyatukan, yang merangkul, dan yang mereka meneriakkan lantang ke Pak Jokowi ini pun dirangkul. Ini kan me nun juk – kan bagaimana sebagai bangsa dalam sila Persatuan Indonesia, kita ini bersaudara,” ujar Hasto.

Senada dengan Hasto, Juru Bi cara TKN yang juga Ketua DPP Partai Golkar Tb Ace Hasan Syadzily mengatakan, ber gabungnya dua tokoh Demokrat tidak bisa diartikan sebagai upaya mengacak-acak kesolidan parpol lain yang tidak bergabung di kubu Jokowi-Ma’ruf Amin.
Menurutnya, salah satu strategi untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin yaitu meningkatkan elektoral di daerah-daerah, yang pada Pil – pres 2014 menjadi basis Pra – bowo Subianto seperti di Jawa Barat dan NTB.

“Tentu tidak mengacakacak, tapi semakin banyak du – kungan kepada Pak Jokowi semakin bagus,” ujar Ace ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, kemarin.
Langkah serupa, kata Ace, juga dilakukan kubu Prabowo- Sandiaga yang mendatangi sejumlah tokoh senior Golkar dan dari partai lain yang selama ini menjadi pendukung partai koa lisi Jokowi. Hal itu me ru pakan suatu kewajaran dalam politik.

“Saya kira banyak juga yang ingin didatangi, tapi saya kira wajar saja. Seperti Pak Sandiaga Uno karena sudah lama ber sa – habat dengan Golkar, dia men – datangi Pak Aburizal Bakrie, ke Pak Akbar Tanjung, datang ke tokoh-tokoh Golkar lainnya. Dalam politik, pasti ada maksud nya,” katanya.

Tidak hanya TBG dan Demiz yang membelot ke kubu Jo kowi- Ma’ruf Amin; sebaliknya, se jumlah tokoh yang selama ini identik dengan parpol pendukung Koalisi Indonesia Kerja juga melompat pagar men dukung pasangan Prabowo-Sandiaga. Misalnyaanggota Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad, yang memilih mendukung Prabowo-Sandi, meski Fadel yang me ru pa kan mantan gubernur Gorontalo akhirnya menyatakan mun dur dari kepengurusan partai ber -lambang pohon beringin ter – sebut.

Begitu pula politikus Partai Nasdem yang dahulu mantan tim sukses Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di Pilpres 2014 silam, Ferry Mursyidan Baldan yang mendadak memutuskan pindah dukungan ke pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno; meski sejak di-reshuffle oleh Presiden Jokowi dari jabatan menteri agraria dan tata ruang pada 2016 silam, Ferry sudah tidak aktif lagi di partai yang dikomandoi oleh Surya Paloh tersebut.

Sebelumnya, Ketua DPD Partai Demokrat Jabar Irfan Sur yanagara menyatakan par – tainya memiliki sejumlah atur – an bagi kadernya yang terbukti tidak taat terhadap partai. Atur an itu memuat sanksi, mulai peringatan hingga pem – berhentian sebagai kader Partai Demokrat. “Kita punya AD/ART, sanksinya (bagi ka – der yang mem belot) mulai te guran hing – ga pem ber hentian,” tegas Irfan. Deddy Mizwar menye rahkan sepenuhnya kepu tusan yang akan diambil partainya.

Haus Kekuasaan

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai politikus yang loncat pagar atau berpindah partai politik hanya berorientasi pada kekuasaan. Meskipun lazim terjadi dalam perpolitikan di Indonesia, kata Adi, bukan berarti perilaku seperti itu bisa dianggap angin lalu karena hal itu menunjukkan lemahnya kaderisasi di tubuh partai politik.
“Kader yang loncat itu merupakan contoh buruk karena hanya berorientasi pada kekuasaan. Partai yang menerima politikus itu juga memperlihatkan bahwa mereka tidak bisa menghadirkan kader sendiri,” katanya, Selasa (17/4).

Menurut dia fenomena politikus kutu loncat menjadi kabar buruk bagi rekrutmen elit partai politik sekaligus elit nasional. “Itu artinya, parpol gagal menginjeksi ideologi sehingga parpol hanya dianggap sebagai alat mendapat kekuasaan semata. Bukan dimaknai sebagai instrumen mengabdi pada rakyat dan kebaikan,” katanya.
Alasan berpindah partai memang bisa beragam. Namun, menurut Adi, kebanyakan, diakui atau tidak diakui, lebih demi kepentingan pribadi. “Biasanya mereka mencari alasan pembenaran atas manuver yang dilakukan. Tinggal masyarakat yang menilai,” katanya.

Menurut dia politikus pindah partai lebih disebabkan tidak lagi mendapat posisi strategis di partai lama atau mendapat tawaran posisi yang lebih baik di partai baru. Selain itu, bisa juga untuk mencuri perhatian masyarakat karena namanya telah tenggelam.

Di Indonesia, politikus pindah partai masih menjadi perhatian media massa untuk diberitakan. “Nama mereka yang sebelumnya tenggelam pun seakan mendapatkan momennya kembali saat mereka pindah partai. Tampaknya, manuver pindah partai mereka lakukan sebagai cara mudah untuk mendapatkan perhatian publik,” katanya kepada Antaranews.

Menurut Adi, kepindahan politikus memang berpengaruh bagi partai yang ditinggalkan karena pemilih loyal pasti akan ikut juga. “Tapi tidak signifikan,” kata dosen ilmu politik pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga peneliti pada The Political Literacy Institute itu.

Pakar komunikasi politik Universitas Jaya Baya Jakarta Lely Arrianie me – ngatakan, perpindahan satu figur ke parpol lain me ru pakan hal yang lumrah dan sudah terjadi sejak dulu. “Ki ta melihat kehadiran parpolparpol baru juga dari sebe – narnya berasal dari parpolparpol lama,” katanya seperti dikuitp republikanews.
Khusus kasus yang terjadi di Demokrat, Lely me nye butkan sejak awal Demo krat terlihat kebingungan da lam me nentukan pilihan politik dalam menghadapi Pilpres 2019.

“Ketika keputusan sudah diambil, ada kebingungan dari tokoh-tokoh partai. Ada figurfigur yang tidak berkenan. Mungkin karena mereka tahu boroknya partai tertentu, dan itu biasa maka biasanya tokoh yang tidak berkenan akan keluar. Itu juga yang terjadi di Demokrat sebelumnya, seperti Gede Pasek (politikus De mokrat yang beralih ke Hanura) dan lainnya. Termasuk di Gol – kar, Ruhut semula di Golkar,” katanya. (tim)

50 total views, 2 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed