Close
IMG-20180323-WA0012

BARRU, SULSEL, DETEKSIONLINE

COM : Dua hari melakukan kampanye di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Calon Gubernur (Cagub) nomor urut-1,   HAM Nurdin Halid (NH) mendapat simpati berbagai kalangan masyarakat.

Dalam rangkaian kampanye di Saoraja Palanro,  Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru Sulsel, Kamis (22/3), NH yang berpasangan dengan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini menggulirkan program Sapa Sejuta Duafa (Sajada) disambut masyarakat, terutama kalangan bawah  yang menyambut gembira dengan penuh haru.

Sambutan tersebut sangat terasa pada saat  NH di tengah kesibukannya berkampanye  selalu meluangkan waktu untuk jumpa  masyarakat  yang kurang beruntung  seperti  fakir miskin,  para jompo, janda-janda tua, tukang becak, ojek dan lain-lain.

Mereka tampak terharu dan sebagian meneteskan air matanya saat NH tiba-tiba datang menemuinya dan mengajaknya berdialog.  Termasuk,  dengan setia mendengar curahan hatinya.

“Terimakasih Pak Nurdin sudah bersedia menemui orang-orang susah seperti kami yang sudah tua dan tak berdaya. Baru kali ini ada calon pemimpin yang rela meluangkan waktunya jumpa kami,” ungkap Sompa Bau Sadapoto,  sesepuh warga Saoraja Palanro  Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru Sulsel (22/3).

Sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih serta dukungan kepada NH,  wanita tua berusia 87 tahun itu pun sambil meneteskan air matanya mengalungkan sarung berhias bunga kepada NH.  “Nak, cuma ini yang bisa kami berikan kepada mu. Semoga ini menjadi doa yang bisa mengabulkan niat baik dan mulya kamu nak Nurdin,” ungkap Sompa.

Hadir pada kesempatan itu sekitar 100 an duafa dari sejumlah kampung di kecamatan Malusetasi. NH yang hadir dan menerima sambutan berupa pengalungan sarung itu pun tampak berkaca-kaca.

Para duafa ini sambil terisak berdoakan NH terpilih menjadi gubernur Sulsel. “Kami mendoakan pak Nurdin terpilih. Kami senang ada gubernur yang peduli kepada kami,” ucap Thaha (67), yang merasa terharu karena mendapat elusan tangan NH.

Lambang Perjuangan

Sebelumnya pada Selasa (21/3) NH juga blusukan ke Pasar Pekkae, Kecamatan Tanete Rilau. Barru NH. Di sini pun, NH yang juga menjabat sebagai dewan koperasi  disambut luar biasa oleh pengunjung dan pedagang pasar.

Seorang ibu pedagang pisang yang dihampiri oleh NH merasa keget ketika disapa oleh NH. Ibu itu pun tak menyangka ketika NH menanyakan berapa harga pisang. “Oh..ini tidak bayar saya berikan kepada Bapak,” kata Sunah, pedagang itu. “Saya merasa pak Nurdin menghargai kami orang kecil. Pisang itu tak ada nilainya dibanding perhatian pak Nurdin,” katanya. Begitu juga ketika isteri NH mengeluarkan uang untuk mambayar pisang, ditolaknya dengan halus.

Bukan hanya pedagang pisang H Jamaludin, pedagang ayam pun memberikan seekor ayam jantan berwarna merah. “Ayam ini saya berikan kepada pak Nurdin,” kata Jamaludin. Warga Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja ini membeberkan, hadiah ayam jago disimbolkan sebagai wujud perjuangan. Diharapkan, NH mampu meneruskan perjuangan sang ayam jantan dari timur, Sultan Hasanuddin.

Sultan Hasanudin, seorang  pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan yang dikenal gigih berjuang melawan kekuatan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), perusahaan konsorsium Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan di Nusantara kala itu. “Saya berharap pak Nurdin pun bisa memperjuangkan nasib orang kecil,” kata H Jamaludin.

NH pun mengucapkan terima kasih dan berjanji bila dia terpilih jadi gubernur akan membangun pasar Pekkae’ Kalau pasar ini dibangun nanti pedagang ayam tidak kepanasan lagi ya,” janji NH.

Pedagang ayam lainnya, Rahman juga memanfaatkan momen kedatangan NH untuk menyalurkan aspirasi. Ia mengeluhkan, sulitnya memperoleh bantuan modal demi mempertahankan usaha mikro, kecil, dan menengah. Karena itu, program bantuan modal tanpa bunga dan agunan diharap segera terealisasi apabila NH-Aziz telah terpilih.

“Saya doakan Pak NH terpilih jadi gubernur. Supaya pasar diperhatikan dan kami sebagai pedagang bisa dibantu dalam bentuk modal usaha,” pesan warga Bottoe ini.

Shalat Duha

Usai mengunjungi pasar,  NH menghampiri sekelompok tukang becak yang biasa berkumpul di dekat pasar tersebut. NH menyapa rama para pembecak tersebut. “Bapak kuat membawa saya,” tanya NH. “Oh, pasti kuat pak,” balas tukang becak tersebut. NH bukannya naik ke atas becak itu, tapi lebih memilih sebagai pengayuh, Tukang becak itu naik di atas becaknya.

Tanpa ragu, NH mengayuh becak menuju mesjid Nurul Ittihad diringi ratusan pengojek dan tukang becak yang terus menyebut namanya. “.NH… NH…NH…NH Gubernur,” teriak massa. Massa yang membludak membuat jalan raya menjadi macet karena aksi NH mengayuh becak itu juga mengundang perhatian pengguna jalan.

Di masjid Nurul Ittihad, NH menjalankan shalat dhuha bersama masyarakat setempat. Setelah itu, dia menelusuri jalan dan masuk ke toko Rahayu. Di toko itu NH membeli tiga buah jaket seharga Rp600 ribu. “Ini pakailah untuk mu. Ini cocok,” ucap NH kepada masyarakat penerima jaket itu..

Kehadiran NH pun rupanya memjadi berkah bagi pedagang asongan kerupuk. Tanpa menawar berapa harganya NH memborong kerupuk itu dan kemudian dibagikan kepada murid-murid sekolah yang mengerubunginya.

Tak jauh dari tempat itu, NH masuk ke warung makan, tempat puluhan tukang becak berkumpul. Para pembecak itupun berteriak riuh begitu NH masuk warung tersebut, melihat menu kemudian menyendok sepiring nasi berikut lauk-pauknya. Sepiring nasi itu kemudian diberikan kepada seorang pembecak berusia lanjut, yang kebetulan bernama Nurdin. “Ini buat Bapak., Habiskan ya,” ujar NH.

Pembecak itu pun terharu sambil berulang-ulang mengucapkan terimakasih. “Saya terharu ada orang besar seperti pak Nurdin mau melayani kami. Saya harap begitu terpilih dia juga mau melayani rakyat seperti kami ini,” kata pembecak Nurdin.

Sehari sebelumnya, NH juga disambut gembira di Moncongloe Bulu, kabupaten Maros. Di tempat ini, NH menjumpai sekitar 100 duafa yang berusia lanjut.  Para duafa itu, merasa bergembira  menjumpai NH dan memeluknya dengan rasa haru.

Bahkan, saking gembiranya, ketua adat setempat langsung membuka pecinya dan memberikan peci tersebut untuk dipakai NH. “Ini sebagai bentuk rasa senang kami dan dukungan kami kepada pak NH. Semoga terpilih menjadi pemimpin kami di Sulsel.  Mohon peci ini dipakai,” ungkapnya.

 “Saya senang luar biasa bisa jumpa ibu-ibu dan bapak-bapak  yang usianya sudah pada lanjut ini. Semoga pertemuan in menjadi berkah sekaligus doa buat saya agar kelak jika terpilih nanti saya tak pernah melupakan masyarakat bawah yang hidupnya serba kekurangan ini,” tegas Nurdin.

Yang perlu dicacat dari dua hari perjalanan NH di Barru adalah bahwa tak ada jarak antara NH dengan masyarakat kalangan bawah itu. Tangannya selalu melambai penuh hormat kepada para tetua, dan gemulai penuh kasih ketika mengelus kepala anak-anak yang mengelilingi. NH memang pas buat mereka.****

Nurdin Halid: Bentuk Kepekaan

Ditemui Amunisi usai sholat dhuha di mesjid Nurul Ittihad, Tanete Rilau. Barru, Cagub nomor urut 1 HAM Nurdin Halid atau NH bicara panjang lebar tentang Program Sajada yang diusungnya.

Nurdin menjelaskan, program Sajada ini sebenarnya merupakan bagian dari wujud kepeduliannya terhadap masyarakaat bawah seperti para duafa. Program ini sudah dideklarasikan sebagai bukti nyata bahwa kalau berbicara soal pembangunan, tak boleh melupakan nasib masyarakat bawah seperti itu.

“Omong kosong bicara pembangunan jika kita tidak perduli terhadap para duafa, fakir miskin, jompo, para tua renta, tukang becak, tukang ojek dan seterusnya. Justru hakikat pembangunan itu kita harus bisa mengangkat derajat mereka menjadi lebih baik dan sejahtera. Dan mereka yang bernasib seperti itu di Sulsel masih sangat banyak,” tandasnya.

Dia bertanya berapa banyak kaum duafa di sini? “Jumlahnya sangat banyak dan mereka itu belum mendapat perhatian serius. Kini saatnya kita perhatikan mereka,” kata NH.

Programnya tersebut,lanjut NH, bukan untuk pencitraan, melainkan bentuk kepekaan terhadap permasalahan yang menjadi kebutuhan masyarakat. “Misalnya, program gratis bukan untuk memanjakan masyarakat, tapi bentuk kepekaan. Pemerintah itu harus hadir dan memberikan solusi atas pemasalahan dan kebutuhan masyarakat. Tidak bisa pemerintah berdiam diri,” kata NH.

Sementara, seperti dirilis tim media NH-Aziz, Senin (19/3), NH memaparkan khusus untuk program bantuan tunai yang memang ditujukan untuk masyarakat kurang mampu tidak akan selamanya diterapkan. Begitu pula dengan program bantuan usaha. Jika masyarakat yang diberikan bantuan telah dianggap mampu menggeliatkan usaha sendiri, pemerintah tidak perlu lagi memberikan bantuan.

“Kalau masyarakat sudah memiliki usaha dan telah menggeliat baru kemudian bantuan itu dihapus. Karena masyarakat dianggap sudah mampu,” ucap dia.

Dalam berbagai kesempatan, NH juga menekankan sederet program unggulan yang dicanangkannya tidak bertumpu pada APBD. Ia menyebut sosok pemimpin tidak boleh berfikiran sempit dan hanya mengandalkan APBD. Bersama Aziz, ia akan mengoptimalkan jejaringnya di tingkat nasional untuk menarik APBN dan memikat investor.

“Kalau jadi gubernur tidak ada yang susah, asal kita dinamis dan selalu ada ide. Tapi tentu saja dianggap susah kalau berpikir normatif. Berapapun APBD yang ada, gunakan yang itu saja. Tidak ada usaha melobi. Kalau saya Insha Allah ada kemampuan dan kelebihan di bidang itu,” ujarnya.

NH-Aziz diketahui mempunyai sederet program gratis dan bantuan tunai yang sangat dinantikan masyarakat. Mulai layanan kesehatan gratis berbasis KTP, pendidikan dan perlengkapan sekolah gratis, kredit kesejahteraan tanpa bunga dan agunan, serta bantuan tunai untuk ibu hamil, lansia dan difabel.(hendra)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!