Industri Manufaktur Miliki Nilai Terbesar Dalam Struktur Produk Domestik

IMG-20180211-WA0112

JAKARTA, DETEKSIONLINE.COMKepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara dalam rilisnya, Minggu (11/2/2018) mengatakan sektor industri manufaktur memiliki nilai terbesar dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekaligus menjadi sumber pertumbuhan utama PDB nasional dengan capaian 20,16 persen.

Sementara itu, di tingkat global, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-9 dunia dari aspek penghasil nilai tambah (nilai tambah manufaktur) atau penghargaan posisi tertinggi negara ASEAN lainnya.

Ngakan sendiri berbicara itu saat mewakili Menteri Perindustrian pada acara Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan untuk Pengusaha Organisasi Pengusaha (EO) Indonesia Angkatan II yang diselenggarakan oleh Lemhannas RI di Jakarta, pada Jumat (9/2) lalu.

Di hadapan 96 peserta pendidikan tersebut, tema yang diangkat oleh Kepala BPPI adalah Strategi Pembangunan Industri dalam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang Inklusif.

“Perkembangan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari peningkatan investasi dan ekspor indonesia. Dari sisi ekspor, produk industri merupakan kontributor utama dengan peran mencapai 75,6 persen dari total ekspor indonesia, “tuturnya.

Menurut Ngakan, komoditas yang ekspor produk Indonesia pada tahun 2017 berasal dari lima kelompok industri, yaitu produk industri makanan, industri bahan kimia, barang dari karet dan plastik, dan industri pakaian jadi.

“Oleh karena itu, berbagai strategi dan strategi telah dan terus dilakukan untuk semakin memacu ekspor produk tersebut,” ujarnya.

Terkait dengan pembangunan ekonomi inklusif, Kepala BPPI menggelar konsep pembangunan itu harus mampu menurunkan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja yang tinggi dan turun ketimpangan ekonomi.

Oleh karena itu, Pemerintah menetapkan beberapa kebijakan.
Langkah strategis itu antara lain pembangunan infrastruktur, penguatan kawasan industri, pembangunan kembali kawasan pariwisata di seluruh wilayah indonesia melalui kebijakan pemerataan ekonomi.

“Upaya yang telah didukung dengan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid I-XV, yang hasilnya cukup nyata dengan membaiknya penilaian lembaga asing terhadap indonesia dari sisi daya tarik investasi, perbaikan tingkat daya saing indeks daya saing global, dan membaiknya kemudahan usaha (kemudahan berbisnis), “paparnya.

Dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi inklusif, Kementerian Perindustrian telah menetapkan empat strategi, yaitu kebijakan pembangunan SDM industri, pembangunan industri ke luar pulau Jawa, kebijakan e-smart IKM, dan kebijakan menerapkan revolusi industri 4.0.

Ngakan menjelaskan, kebijakan pembangunan SDM ini dalam rangka mencapai tujuan penyerapan kerja. Untuk itu, dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, program link and match SMK dan industri, serta program pelatihan industri dengan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan).

Selanjutnya, strategi pembangunan industri ke luar pulau Jawa ditujukan untuk mendorong kinerja ketimpangan ekonomi. Kebijakan ini dilakukan dengan rencana pembangunan 16 zona industri (kawasan industri) sampai dengan tahun 2019 yang berada di luar pulau Jawa.

Mengenai kebijakan e – smart IKM, ditunggu dalam rangka peningkatan kesempatan IKM nasional dalam memasarkan produk secara lebih masif melalui platform digital.

“Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Industri 4.0 yang saat ini sedang dikembangkan,” kata Ngakan.

Saat ini, Kemenperin sedang menyusun roadmap pengembangan Industri 4.0 yang difokuskan pada lima sektor, yaitu indutri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia.
Kepala BPPI pun berharap peran pengusaha dalam mendukung pembangunan ekonomi indonesia, khsusnya sektor industri manufaktur.

Pengusaha, katanya, memiliki peran yang vital sebagai pelaku utama penggerak ekonomi nasional. Dengan dunia usaha semakin meningkat, maka potensi penumbuhan menumbuhkan usaha-usaha baru di sektor produktif akan mampu menciptakan peluang kerja yang lebih banyak lagi, “paparnya. (KH)

 

Leave a Reply