Teroris Minim Senjata Serang Polisi Bersenjata Lengkap, IPW : Waspadalah!

  • Share
3246180020
Aparat Brimob Polda Sumut sedang menyisir lokasi penyerangan anggota Polisi yang diserang dua pelaku teroris. (Ist)

JAKARTA, DETEKSIONLINE.COM – Jajaran Polri perlu lebih bersiaga lagi, Kasus serangan teroris di Polda Sumut menjadi sebuah keprihatinan atas profesionalisme Polri dan sekaligus menunjukkan bahwa para teroris makin super nekat. Dengan senjata seadanya, mereka nekat menyerang polisi bersenjata lengkap yang sedang bertugas di markas kepolisian.

 

 

“Teroris minum senjata nekat serang Polisi bersenjata lengkap di Markas, bukan kah ini ngeri sekali. Super berani mereka (teroris),” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam siaran pers tertulisnya, senin (26/6/2017).

 

 

Ind Police Wath (IPW) menilai, pasca serangan bom di Kampung Melayu Jakarta Timur, para teroris ternyata makin super nekat. Keberhasilnya membunuh tiga polisi dan melukai dua polisi lainnya di Kampung Melayu sepertinya menjadi inspirasi bagi para teroris untuk meningkatkan serang ke jajaran Polri. Terbukti, di Hari Raya Idul Fitri, di saat masyarakat bergembira dalam silaturahmi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut. Hanya dengan senjata seadanya, yakni sebilah pisau. Ironisnya, mereka berhasil membunuh seorang perwira polisi.

 

 

“Menurut saya serangan teror di terminal Kampung Melayu beberapa hari lalu seolah menjadi inspirasi bagi mereka. Ada anggota Polisi yang menjadi korban mengindikasikan bahwa aparat merupakan target empuk,” ungkap Neta.

 

 

Kasus (penyerangan) ini tentunya menjadi catatan buruk bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017. Dari kasus ini, publik jelas merasa prihatin karena anggota polisi ternyata tidak bisa melindungi dirinya sendiri, saat diserang pelaku kejahatan di markasnya sendiri. Lalu bagaimana polisi bisa melindungi orang lain atau masyarakat dari serangan pelaku kejahatan. Sebaliknya, kasus Polda Sumut menjadi catatan “bersejarah” bagi jaringan teroris. Hanya dengan senjata seadanya mereka bisa membunuh seorang perwira polisi. Sehingga dikhawatirkan, kasus serangan teror di Polda Sumut akan menjadi inspirasi bagi para teroris untuk terus menerus meningkatkan serangan dan sekaligus menjadi motivasi bagi kader kadernya bahwa hanya dengan sebilah pisau ternyata bisa membunuh perwira polisi.

 

 

“Jika dilihat dari kasus ini, kredibilitas Polri dipertanyakan. Melindungi diri sendiri saja gak mampu apalagi melindungi orang lain?,” tegas Neta.

 

 

Dari kasus ini para teroris bisa pula menyimpulkan, untuk melumpuhkan polisi tidak perlu lagi menggunakan bom. Cukup sebilah pisau. Sebab jajaran polisi tidak terlatih, tidak responsif, dan terlalu mudah untuk dilumpuhkan.

 

 

Belajar dari kasus Polda Sumut, Polri perlu mengimbau jajarannya untuk bersikap senantiasa waspada dan meningkat kepekaan serta selalu terlatih menghadapi berbagai situasi, sehingga anggota polisi tidak menjadi bulan-bulanan teroris atau pelaku kejahatan lainnya. Bagaimana pun, jika ada polisi terbunuh oleh pelaku kejahatan tentu akan menjadi keprihatinan tersendiri bagi publik dan sekaligus menjadi kecemasan terhadap profesionalisme sistem keamanan. Apalagi saat ini di saat isu ISSI merebak secara internasional dan terjadi serangan di Marawi, aksi-aksi terorisme terus berkecamuk di Indonesia, tentunya akan menjadi kecemasan tersendiri bagi masyarakat.

 

 

“Ini menjadi tantangan serius bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017 dan publik selalu berharap Polri senantiasa bersikap profesional, baik dalam melindungi masyarakat maupun melindungi dirinya sendiri,” tutur Neta. (Yori) 

 444 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *