Pengamat : Politik Teror Merusak Demokrasi

  • Share

 

IMG-20170123-WA0031
Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (API) Maksimus Ramses Lalongkoe.

Jakarta,deteksionline.com Pengamat Politik, Maksimus Ramses Lalongkoe, mengatakan fenomena menggunakan metode politik teror saat ini sudah mulai nampak di tengah masyarakat khususnya masyarakat Jakarta yang sedang mengikuti pesta demokrasi Pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Politik teror kata Ramses merupakan istilah yang digunakan dalam sistem demokrasi langsung dewasa ini dalam merebut kekuasaan. Metode politik teror dianggap mujarap dalam meraih dukungan publik. Modelnya pun beragam tergantung kelas sosial yang mereka hadapi.

“Saat ini ada fenomena baru yang berkembang dalam demokrasi pemilihan langsung sekarang dimana menggunakan metode politik teror untuk merebut kekuasaan. Model politik teror ini beragam tergantung kelas sosial yang mereka hadapi”, ujar Maksimus Ramses Lalongkoe dalam siaran persnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/1/2016).

Ramses mengungkapkan bahwa politik teror yang maksud adalah politik yang menggunakan teror dengan cara menekan pemilih dengan isu agama, suku, ras, dan golongan. Politik teror menggunakan isu SARA lebih efektif untuk kalangan tertentu. Cara ini juga bisa membuat orang lain takut yang pada akhirnya mereka mengikuti bahkan menjadi agen dalam meneruskan politik teror ini.

Ramses yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (API) ini menjelaskan, perebutan kekuasaan dengan menggunakan metode politik teror merupakan kemunduran demokrasi di tengah kemajuan bangsa.

“Politik terror merupakan indikasi mundurnya demokrasi bangsa ini,” jelasnya.

Politik teror menggunakan pendekatan SARA akan mengabaikan kualitas pasangan calon. Kualitas pasangan calon bukan hal yang penting karena bagi mereka kekuasaan yang paling utama diperoleh maka jalan menggunakan metode politik teror menjadi pola efektif.

Ia berharap cara-cara seperti ini harus ditiadakan demi menghasilkan pemimpin berkualitas. Menggunakan politik teror dalam merebut kekuasaan hanya akan mencederai nilai-nilai demokrasi. Masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi harus berani menolak segala upaya  destruktif pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaan.

“Jika ingin menghasilkan pemimpin yang berkualitas maka kita harus meniadakan politik terror dalam berdemokrasi,” harapnya. (Yori)

 

 396 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *