Prof Kikiek: Negara kok Kalah sama LSM

  • Share

403526IMG-20170116-WA019

JAKARTA, DETEKSIONLINE:COM – Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Hermawan Sulistyo meminta Kapolda Jawa Tengah irjen Pol Condro Kirono jangan ragu memeroses laporan penggunaan data palsu dalam kasus penolakan pabrik semen di Rembangm

Laporan dilakukan dlakukan PT Semen Indonesia atas dugaan tandatangan palsu oleh penolak pabrik. Di antaranya tertera nama power rangger, ultraman dan presiden. Penolakan itu dijadikan bahan oleh Mahkamah Agung (MA) untuk penerima PK penolak pabrik.

Karena memeroses laporan itu sejumlah LSM menuduh Polisi melakukan kriminalisasi. “Jangan takut. Negara masa kalah sama LSM,” tandas Kikiek.

Harus jalan

Karena itu, kata Kikiek, pabrik semen Indonesia harus jalan karena ada sembilan alasan. “Saya melihat ada sembilan alasan pabrik Semen Indonesia (SI) di Rembang harus terus dilanjutkan,” katanya.

Pabrik semen di Rembang harus tetap dilanjutkan karena tujuannya adalah sangat baik, di mana Pemerintah ingin melakukan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok-pelosok Indonesia.

Sedang ke-9 alasan yang disebutkan Kikiek, pertama, bahwa setiap pembangunan pasti akan membawa dampak. Tinggal masalahnya bagaimana mengendalikan dampak tersebut menjadi seimbang antara peningkatan kesejahteraan dan masyarat dengan dampak pembangunan tersebut.

Kedua, fokus pertama dan terutama dari suatu pembangunan fisik adalah kesejahteraan penduduk setempat di sekitar lokasi pembangunan fisik.

Ketiga, pada pabrik semen di Rembang yang dipermasalahkan isu lingkungan. Padahal, isu tersebut (terutama kelangkaan air) masih bersifat hipotesis.

“Semua baru ‘akan’ dan belum terjadi. Ketika pabrik dituding membuat cadangan air mengering, ternyata air malah melimpah setelah manajemen membangun sumur dan tandon air. Ini semua kan masih hipotesis,” tandas Kikiek.

Keempat, lanjut Kikiek, bahwa lokasi pabrik semen di Rembang adalah kawasan paling miskin di Rembang. Daerah lokasi pemukiman masyarakat Samin, berdekatan dengan pondok-pondok pesantren NU. Mereka tak memiliki daya tawar bila berhadapan dengan orang luar.

Hadirnya pabrik semen merupkan peluang kesejahteraan selama 150 tahun ke depan. Jika pabrik ini ditutup, maka warga sekitar akan tetap miskin dan terbelakang. “Saya pastikan jika miskin dan terbelakang pihak-pihak yang kontra tidak akan bertanggung jawab terhadap masa depan mereka,” katanya.

Kelima, kata Kikiek, terlebih lagi isi dari orang-orang yang kontra dari pihak di luar warga sekitar. Bagi orang-orang luar itu, pabrik gagal dibangun, tentunya tidak berdampak. Karena memang mereka tidak tinggal di lokasi.

Kemudian, yang keenam, kata Kikiek, tugas pemuka masyarakat, pemimpin negara, dan intelektual serta aktivis adalah memastikan bahwa rencana pembangunan menjadi lebih baik, dan mengawalnya supaya masyarakat tidak dirugikan. Bukan malah sebaliknya.

Ketujuh, diceritakan Kikiek, gagalnya pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, membawa implikasi pada peta bisnis semen di dalam negeri.

Hingga awal 2015, PT SI menguasai 44 pangsa pasar semen domestik. Sementara pangsa mayoritas (56%) dikuasai oleh pemain-pemain asing. Jika Semen SI berproduksi, persentase ini akan terganggu, karena PT SI setidaknya akan berbagi pangsa pasar lebih baik dengan perusahaan asing, atau malah menguasai pasar. Kedelapan, terkait hukum putusan Mahkamah Agung (MA), jelas hal itu keliru. Keputusan PK-nya sangat tidak benar, karena bukti-bukti yang diajukan palsu. Antara lain ada tanda tangan masyarakat yang kontra namanya Power Ranger, Ultra Men, dan ada yang mengaku pekerjaanya presiden, menteri dan lain-lain. Kemudian ada tempat tinggalnya di Manchester.

“Ini kan gak logis. Kenapa MA memenangkan PK yang kontra itu dengan data seperti itu. Saya sendiri gak tau pertimbangan hakim agungnya seperti apa,” kata Kikiek sambil tertawa.

Kesembilan dan terakhir, imbuh Kikiek, PT SI adalah BUMN yang sehat dan tercatat di bursa saham New York dan London. Pabriknya mencangkup Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, dan Semen Than Long (di Vietnam). Total aset milik rakyat ini Rp 25 triliun dan aset pabrik Semen di Rembang sebesar Rp 5 triliun.

“Penghentian pabrik akan melenyapkan lima triliun aset nasional dan potensial loss belasan triliun dari hancurnya harga saham. Belum lagi terhitung terhambatnya pembangunan infrastruktur karena kebutuhan semen menjadi tergantung kepada pihak asing,” tutup Kikiek.

 

Dalam diskusi tersebut yang menolak pembangun pabrik juga diundang tapi tak hadir

(Kh)

 769 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *