Close

proyek solarPANGKALPINANG, deteksionline:  Dalam dakwan jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung kalau  perkara korupsi solar cell sistem milik Universitas Bangka Belitung (UBB) hanya titipan dari pihak kontraktor Franchisca Anggela. Franchisca Anggela sendiri juga sudah jadi terdakwa bersama mantan wakil Rektor UBB Dedih Sapja. 2 terdakwa ini sendiri sudah mendekam di penjara Tuatunu Pangkalpinang.

Diungkapkan JPU Novianto  dalam dakwaan di hadapan majelis hakim yang diketuai Setyanto sejak awal keberadaan proyek senilai Rp 13 Milyar tersebut nota benenya adalah pesanan.  Dimana pada bulan Maret 2012 terdakwa Franchisca Anggela (berkas terpisah) pernah datang ke Universitas Bangka Belitung dan menemui langsung Rektor saat itu Bustami Rahman.

Saat itu Franchisca Anggela meminta diusulkan kegiatan pengadaan solar cell dalam DIPA APBN perubahan UBB tahun 2012. Franchisca Anggela berjanji akan mengawal anggaran tersebut sampai di Dewan Perwakilan Rakyat RI di Senayan.

Berkat bujukan Franchisca Anggela itulah  sang Rektor yang juga sudah ditetapkan Kejaksaan Tinggi sebagai tersangka akhirnya sekitar tanggal 15 Maret 2012 selaku kuasa pengguna anggaran mengajukan surat nomor: 343/UN50/TU/2012 perihal usulan skala prioritas di APBNP untuk meningkatkan sarana dan prasarana UBB kepada Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI yang memuat 7 usulan salah satu diantaranya proyek Solar Cell sistem itu.

Namun di awal  pelaksanaan proyek tersebut justeru Dedih Sapjah bukan melalui pihak yang kompeten untuk  menyiapkan  HPS-harga perkiraan sendiri- serta spesifikasi teknisnya. Dia  malah meminta langsung pada Franchisca Anggela. Franchisca Anggela sendiri karena bukan ahlinya akhirnya pemenuhan pesanan tersebut cukup menggunakan dasar-dasar teori di internet saja. Walau begitu akhirnya pesanan  “abal-abal” tuntas juga guna jadi acuan pengadaan proyek.

Wal hasil ternyata dari penilaian jaksa penuntut yang telah melalui audit kerugian negara ditemukan adanya selisih harga dan spesifikasi yang sangat besar yang menyebabkan kerugian negara Rp Rp 8.162.122.296,00. Kerugian tersebut menurut jaksa  sebagai akibat dari penyusunan HPS yang dilakukan tidak sesuai dengan keahlian Dedih Sapjah bersama  Franchisca Anggela itu.
Adapun realisasi pembayaran bersih yang ditransfer dari rekening kas negara ke rekening  bank Grand Mentari Mulia Rp 11.574.329.330. Realisasi biaya yang sebenarnya Rp 3.412.207.034. Adapun selisihnya adalah Rp 8.162.122.296,00.

“Bahwa perbuatan terdakwa Dedih Sapjah bersama-sama saksi Franchisca Anggela merupakan perbuatan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi setidak-tidaknya menguntung saksi Franchisca Anggela sebagai orang yang melaksanakan pengadaan energi solar cell sistem Universitas Bangka Belitung (UBB) tahun anggaran 2012 sebesar Rp 8.162.122.296,00 dan merupakan perbuatan melakukan atau turut serta melakukan penyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan terdakwa Dedih Sapjah baik selaku wakil rektor 1 UBB maupun sebagai tim teknis penyiapan dokumen lelang dalam kegiatan pengadaan jasa solar cell sistem.  Yaitu dengan melakukan penyusunan spesifikasi teknis dan  harga perkiraan sendiri baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama dengan terdakwa Franchisca Anggela telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 8.162.122.296,00.

Perbuatan terdakwa dijerat dengan pidana pasal 3 Jo pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP..(herman)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!