by

Tidak Hanya Narkoba, Pelabuhan ‘Tikus’ Digunakan Selundupkan Pakaian Bekas

images
Foto pakaian bekas (Ist)
JAKARTA,Deteksionline.com  Pelabuhan ‘tikus’ perairan di Tanah Air banyak digunakan para pelaku kejahatan untuk menyelundupkan barang hasil kejahatan.Tidak hanya narkoba yang diselundupkan.namun, juga pakaian bekas asal Jepang dan Korea Selatan serta Malaysia telah membanjiri pasar-pasar di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur.
“Masih banyak pelabuhan ‘tikus’,” ujar  Kabid Penindakan dan Penyidikan Dirjen Bea Cukai Kantor Wilayah Riau dan Sumatera  Abdul Karim kepada wartawan di lokasi pabrik penampungan barang bekas di Jalan Inspeksi Banjir Kanal Timur RT 01, Kelurahan Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Senin(1/8).
Dia menerangkan, terdapat ratusan pelabuhan ‘tikus’ yang rawan penyelundupan narkoba dan barang-barang bekas.Hal ini, jelasnya diperlukan adanya pengawasan yang ketat.
“Pengawasannya perlu ekstra dengan jumlah sumber daya manusia yang ada,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus, Polda Metro Jaya Kombes Pol Fadil Imran mengatakan, pihaknya telah melakukan penggerebekangudang penampungan  barang bekas  di Jalan Inspeksi Banjir Kanal Timur RT 01, Kelurahan Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur,Jumat(29/7).Dalam penggerebekan itu penyidik mengamankan 12 orang pelaku yaitu  HS selaku pemilik barang, PR selaku rekan HS, SKM (29) selaku mandor gudang, NHD (36) selaku asisten mandor, WL (31) selaku buruh angkut, BS (37) selaku pembeli atau pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat dan enam sopir truk yakni RD (44), DSL alias D (46), AAZS (43), JRM alias JN (47), SHM (45) dan SSD alias SND (27). Sedangkan satu tersangka yang juga merupakan rekan HS yakni UD melarikan diri (DPO).
“Kami juga menyita barang bukti berupa 11 nota surat jalan, serta satu buah buku catatan distribusi barang,” kata Fadil dilokasi.
Fadil menambahkan bahwa penyelundupan pakaian bekas tersebut merugikan Negara  ratusan miliar Rupiah. Namun, jelasnya, tidak hanya soal kerugian negara, akan tetapi penyebaran penyakit yang dapat ditimbulkan dari pakaian bekas tersebut.
“Potensi kerugian negara dari pajak yang harusnya dibayarkan dalam setahun mencapai miliaran. Juga, dari segi kesehatan ada potensi penyakit, kuman dan bakteri yang terkandung di pakian bekas yang masuk tanpa pemeriksaan kesehatan dari instansi terkait,” tutur mantan Kapolrestro Jakarta Barat ini.
Dikatakannya,  para pelaku telah menjalankan aksinya selama tiga tahun, dan meraup keuntungan Rp 1 miliar perbulan.
“Barang bekas itu yang kalau dijual perkoli Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, dengan rata-rata 300 bal. Dalam sebulan mereka mampu meraup untung Rp 1 miliar,”pungkasnya.
Akibatnya, para pelaku dijerat dengan asal 111, 112 ayat 2, dan 113 Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan Jo Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51/M tentang Larangan Impor Pakaian Bekas dan atau Nomor 10 tahun 1995 tentang Kapabeanan, diancam hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar.(DOL)
Oleh    : Sapuji
Editor : Yori

39 total views, 1 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed