Tragedi Sarinah Tamparan Buat Pemerintah Indonesia

  • Share

ledakan thamrinJAKARTA, DOL: Organisasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pimpinan Abubakar Baghdadi, pasca pembantaian ratusan manusia di Paris pada 13 November 2015, pernah mengancam akan melakukan “konser” yang sama di Indonesia. Lalu, apakah peristiwa berdarah di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14 Januari 2016), terkait ancaman tersebut? Kantor berita Aamaaq News Agency, milik kelompok teror, mengklaim tragedi itu dilakukan oleh militan ISIS. Jika ini benar, banyak beranggapan kalau pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipermalukan oleh kinerja intelejen yang belum maksimal.

Tragedi berdarah di Jakarta Kamis (14/1) banyak warga menduga lengahnya intelejen menghadapi agenda aksi teror di Indonesia. Peristiwa tersebut dianggap pemerintah telah kecolongan. Mestinya, sejak ISIS mengancam Indonesia pada Desember 2015, pemerintah harus ekstra hati-hati. Intelejen harusnya bekerja keras.

Beberapa warga yang sempat diwawancarai Amunisi mengatakan, lengahnya kinerja intelejen berakibat beberapa bom meledak di area Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Tidak jauh dari Istana Negara. Menewaskan tujuh orang, satu di antaranya warga negara Kanada, serta melukai puluhan orang lainnya.

Peristiwa itu bukan hanya ledakan bom saja, tapi juga aksi brutal beberapa teroris melakukan penembakan terhadap anggota polisi dan warga sipil. Kebrutalan itu mirip aksi di Paris (13 November 2015), dimana kelompok ISIS yang dikomandoi Abdelhamid Abaaoud melakukan penembakan membabi buta dan melempar bahan peledak ke tengah ribuan penonton konser band asal Amerika Serikat, Eagles of Death Metal, di Gedung Bataclan. Seratus penonton tewas.

“Peristiwa ini nggak bakal terjadi jika intelejen tidak lengah. Mestinya pemerintah belajar dari peristiwa teror bom Bali dan Hotel JW Marriot Jakarta yang banyak menewaskan orang-orang tak berdosa,” kata Casman, warga Jakarta Barat.

Hal senada juga dikatakan warga lainnya, menyesali tragedi berdarah kembali terjadi di Jakarta. “Aparat keamanan seharusnya tak boleh puas atas keberhasilan Densus 88 mengungkap kelompok teroris, tapi juga melimpatgandakan keamanan,” ujar Toro, warga Jakarta Pusat.

Terkait tudingan intelejen telah kecolongan, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara tegas mengatakan, peristiwa itu bukan kecolongan. Aksi teroris tidak bisa diduga, sekalipun pihak keamanan sudah melakukan pengamanan secara terpadu.

Menurut Wapres JK, aksi teror bom tersebut bukan kesalahan dari lembaga yang dipimpin Sutiyoso. Di negara manapun akan sulit menditeksi sejak awal jika teroris akan melancarkan aksinya.
“Tidak mudah deteksi awal, di mana pun di dunia ini. Selalu tidak terduga,” kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Kamis (14/1).

Lebih jauh dikatakan, sejak awal antara BIN dan Polri sudah memberikan status siaga satu kepada Ibu Kota Jakarta, hal itu terlihat pada saat perayaan Natal dan Tahun Baru.

Rupanya dugaan meleset, pelaku teror melancarkan aksinya di awal tahun 2016, bukan saat perayaan Natal maupun Tahun Baru.
“BIN dan polisi sudah (antisipasi), karena itu Natal dan Tahun Baru, diperketat kan keamanan. Mungkin sangat ketat di Natal dan Tahun Baru, digeser waktunya jadi tak terduga,” katanya.

Jaringan ISIS
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Tito Karnavian mengatakan, ada dugaan keterkaitan teror bom dan aksi penembakan tersebut pelakunya adalah jaringan ISIS di Indonesia.
Menurut dia, salah satu tokoh ISIS, Bachrum Naim, ada di belakang peristiwa ini. “Jaringan pelaku sebenarnya terkait ISIS di Raqqah dengan tokoh Bachrum Naim yang sekarang masih ada di sana,” ujar Tito di Istana Kepresidenan, Kamis (14/1).

Bachrum, lanjutnya, adalah mantan narapidana teroris yang sempat divonis 2,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Solo. Dia bagian dari kelompok teroris di Jawa Tengah. Pada 2014, tokoh radikal itu meninggalkan Indonesia untuk bergabung dengan cabang ISIS di Raqqah.

Selanjutnya, kata Tito, Bachrum menyebarkan pengaruh kepada warga negara Indonesia agar bergabung dengan ISIS. Bukan itu saja, teroris satu ini mulai membuka cabang di negara-negara lain di luar Irak dan Suriah.

“Pengaruhnya sudah terdeteksi ada di Jawa dan Sulawesi, dengan kelompok Santoso,” paparnya.

Dijelaskan Tito, semua pelaku teror di Sarinah dinyatakan tewas, baik karena bom bunuh diri maupun ditembak polisi. Pihaknya saat ini tengah memburu pelaku lain yang membantu aksi tersebut.

“Kami tidak bisa menjabarkan, tapi kami memburu orang-orang lain yang diduga membantu kelompok ini,” ungkapnya.
Pada bagian lain Kapolda Metro Jaya menjelaskan, sekarang ini ISIS sudah mengubah strateginya. Dari semula hanya beroperasi di Suriah dan Irak, tapi ada perintah dari pimpinannya, Abubakar Baghdadi, agar melakukan operasi di luar wilayah dua negara itu. Jaringannya pun kemudian membentuk cabang ISIS di seluruh dunia.

“Cabang terbentuk di Prancis, Eropa, Afrika Utara, Turki, dan Asia Tenggara. Sel-sel ISIS di Asia Tenggara ada di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan lainnya,” urai Tito.

Khusus di Asia Tenggara, katanya, ada satu orang tokoh yang ingin mendirikan Katibah Nusantara. Dia ingin menjadi pemimpin untuk kelompok ISIS di Asteng.

“Kemudian terjadi upaya rivalitas leadership, sehingga untuk menjadi pemimpin, di Filipina sudah di-declare cabangnya, di Filipina Selatan. Jadi, antarpara tokoh ini terjadi persaingan menjadi leadership. Oleh karena itu, tokoh ini merancang serangan ini. Sementara kelompoknya sudah kita ketahui, dan kita lakukan pengejaran,” jelas Tito. (hsn/dra)

 1,353 total views,  1 views today

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *