by

KPK Diminta Secepatnya Lidik Pembangunan Wisma Atlet Pacitan

wisma pacitan (1)PACITAN, DOL:Masyarakat Pacitan mencurigai pembangunan Wisma Atlet di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur tidak sesuai dengan ketentuan. Karena itu, masyarakat meminta aparat berwenang seperti KPK, Mabes Polri dan Kejaksaan Agung RI turun untuk menyelidiki masalah tersebut.

Masyarakat mencurigai karena pembangunan dinilai mubazir, dimana gedung tersebut serta gedung lainnya di sekitar wisma atlet seperti gedung olah raga, panjat tebing dan lainnya tidak terpakai karena akses jalan yang tidak di aspal.

Nah, sejumlah masyarakat Pacitan yang ditemui Amunisi dan deteksi, Minggu (30/11) mengaku berharap ada penyelidikan secepatnya agar ada kejelasan berapa nilai bangunan dan apakah sudah memenuhi standar.

Sementara Tim Investigasi Indonesia Crisis Center (ICC), lembaga independen yang didirikan oleh tokoh-tokoh angkatan 45 DKI Jakarta dan bergerak dalam penegakan hukum, terutama membantu pemerintah dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, mendukung bila masyarakat Pacitan berniat memberikan informasi dugaan penyelewengan tersebut kepada KPK dan Tipikor Polri maupun Kejaksaan.

Ketua Umum Indonesia Crisis Center, RH Djoko Sudibyo, SH yang dihubungi Amunisi, Rabu (2/12) membenarkan divisi Investigasi ICC sudah turun ke Pacitan. “Dalam waktu dekat kami akan memberikan surat laporan kepada KPK dan Tipikor Polri serta Tipikor Kejaksaan agar menyelidiki dugaan korupsi dalam pembangunan wisma atlet tersebut,” kata RH Djoko Sudibyo.

Wisma atlet dan gedung tersebut terletak di Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan. Pada awal bangunan, kata seorang anggota LSM setempat, pondasinya tidak dibangun secara standar. “Kami sudah ingatkan bahwa bangunan didirikan di atas tanah gambut, tapi mereka tak peduli,” kata anggota LSM tersebut.

Seorang PNS mengaku sudah mengajukan usulan agar wisma tersebut disewakan dengan harga di bawah rata-rata hotel agar tidak terbengkalai begitu saja. Tapi, usulan ini pun mentah seolah gedung dibiarkan jadi sarang genderuwo.

Sementara itu Kadispora Kabupaten Pacitan, Prayitno, yang dikonfirmasi Amunisi membantah bila wisma atlet dikatakan terbengkalai. “Gedung itu digunakan para atlet angkat besi,” katanya dihubungi Rabu (3/12).

Kendati demikian dia mengelak menyebut berapa besar anggaran yang digunakan untuk membangun gedung tersebut, yang dananya dari APBD dan APBN. Menurutnya, sudah sesuai dengan juknis.
Memang agak sulit menelusuri kasus tersebut karena semua terkesan tertutup. Kontributor Amunisi yang menghubungi sumber terpercaya di Pacitan, di bagian Bappeda menyebut pembangunan wisma atlet tidak masuk dalam daftar pembangunan yang direncanakan.

Menurut sumber, selama kurun waktu beberapa tahun terakhir, pembangunan berjalan di tempat. Semua pekerjaan dilakukan masing – masing dinas, tanpa ada fungsi kontrol.
Bupati Pacitan Indartato, yang kini maju lagi dalam Pilkada serentak 9 Desember 2015, yang tidak mengangkat telepon ketika dikonfirmasi. Dia hanya membalas lewat SMS,” Sinten Nggeh?’ Tapi ketika dibalas SMS oleh Amunisi sekaligus melampirkan pertanyaan soal dugaan penyelewengan dana pembangunan wisma atlet, gedung olah raga dan lainnya, sampai berita ini di turunkan, dia tidak menjawab.

Masyarakat Pacitan mengaku sangat menunggu adanya penyelidikan dari aparat berwenang. “Jangan sampai dugaan penyelewengan tidak tersentuh,” kata anggota masyarakat yang mengaku dulu menjadi tim sukses Bupati Indartato.

Relawan Indartato pada periode lalu merasa kecewa karena belum ada perubahan mendasar. Peningkatan sumber daya manusia tidak jalan, infrastruktur nggak ada, pariwisata ya begitu-begitu saja.

“Inilah yang kami sayangkan. Rentenir merajalela, koperasi berjalan di tempat, apakah ini sebuah kemajuan. Kita butuh orang baru, perubahan baru, yang menyentuh masyarakat. Penegakan hukum juga harus jalan. Kita dukung masyarakat yang menginginkan adanya pemeriksaan terhadap beberapa proyek yang terindikasi korupsi,” tegas mantan relawan Indartato, yang kini nyebrang ke Basudhewa.

Ketua DPRD Pacitan Roni Wahyono yang dihubungi terpisah tentang pembangunan gedung Wisma Atlet, gelanggang olah raga pemuda, gedung basket, dan panjat tebing, yang berada satu lokasi dengan wisma atlet, silakan tanya pada Pemda.
Begitu juga ketika ditanya tentang adanya keinginan masyarakat agar KPK atau Tipikor dari Mabes Polri atau Kejaksaan untuk menyelidiki dugaan penyimpangan pembangunan wisma atlet, Roni Wahyono menyatakan silakan saja.

Temuan BPK

Periode 2007 hingga Juni 2015, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyampaikan 443 temuan yang mengandung unsur pidana kepada instansi berwenang, yang berpotensi merugikan keuangan negara sebesar Rp 44,64 triliun.

Di antara temuan tersebut adalah kasus wisma atlet yang melibatkan Menpora Andi Mallarangeng. Mantan menteri petinggi partai Demokrat, yang juga mantan juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ini terbukti melakukan korupsi proyek pembangunan wisma atlet atau Pusat Pendidikan, Pelatihan Sekolah Olahraga Nasional, Hambalang, divonis empat tahun.

Kemudian, wisma atlet jilid kedua terjadi di Sumatera Selatan. Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi mendakwa bekas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Selatan, Rizal Abdullah, melakukan korupsi merugikan negara senilai RP 54,7 miliar.

Kini, masyarakat meminta KPK, Tipikor Mabes Polri dan atau Tipikor Kejaksaan Agung RI untuk meneliti dugaan penyimpangan dana pembangunan wisma atlet di Pacitan. Akankah terjadi kasus wisma atlet jilid 3 di Pacitan,? (tim)

 423 total views,  4 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed