Close

dewantiPACITAN-DOL:Tahapan Pilkada Pacitan, Jawa Timur, terus bergulir. Pada Senin (26/10) pekan lalu, kembali dilakukan debat publik, di Gedung PLUT Kecamatan Pacitan. Debat kali ini mengusung tema “Pengembangan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat’.

Pasangan nomor urut 1, Drs. H. Indartato, MM yang berpasangan dengan Drs. H. Yudi Sumbogo (Indigo), dalam debat tersebut, berjanji terus memfokuskan pembangunan melalui peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, salah satunya terus serius menggarap sektor pariwisata.

Sementara pasangan nomor urut 2, Drs. H. Bambang Susanto, S.Pd, SE, MM yang berpasangan dengan Hj. Sri Retno Dhewanti, A. Md (Basudhewa) menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp 1 triliun, dalam tahun ketiga saat mereka mempimpin Pacitan nanti.

Tentu saja, pernyataan Basudhewa ini cukup menghentak. Membuat sengatan semangat sebagian besar masyarakat Pacitan, yang berharap target tersebut dapat tercapai.

Dihubungi Amunisi dan deteksi melalui telepon selularnya, Calon Wakil Bupati Hj Sri Retno Dhewanti mengatakan hal tersebut, terkait target PAD Rp 1 triliun bukan suatu yang sulit diraih, asalkan potensi alam Pacitan yang begitu menjanjikan dapat digarap secara maksimal. “Asal ada kemauan target pendapatan PAD Rp 1 triliun bukan capaian yang mustahil,” kata wanita vokal ini optimistis. “Saya bicara dalam konteks kesejahteraan rakyat jadi target Rp1 triliun itu suatu cita-cita untuk mensejahterakan rakyat. Dan, kita harus berani mencapainya,” tandas pengusaha properti ini.

Dalam wawancara sebelumnya, pasangan dari H Bambang Susanto ini pernah mengungkapkan bahwa salah satu program yang dicanangkan oleh Basudhewa yaitu yang pertama peningkatan sektor pariwisata dengan perbaikan fasilitas yang memadai sehingga para wisatawan lebih tertarik dengan keindahan wisata Pacitan.
Dalam bidang ini, strategi yang dilakukan Basudhewa, salah satunya adalah promosi dengan media online.

Program yang kedua peningkatan sektor perikanan yaitu dengan mengolah hasil laut ikan Tuna di mana wilayah Pacitan adalah penghasil ikan tuna terbesar di Indonesia, dengan dibangunnya pabrik pengolaan ikan tuna dan merekrut karyawan sebesar-besarnya akan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Pacitan.

Ketiga yaitu peningkatan sektor pertanian di mana sebagian besar masyarakat Pacitan mencari nafkah sebagai petani.
“Keterbatasan SDM di Pacitan membuat petani banyak menjual hasil panen dalam bahan mentah tentunya dengan harga yang murah, untuk itu haruslah ada pelatihan-pelatihan di mana nantinya para petani akan didampingi dalam mengolah hasil panen hingga tercapai proses pemasaran yang bisa bernilai jual tinggi. Begitu juga pada sektor perkebunan,” urainya..

Selain itu, melihat kondisi alam Pacitan yang kaya akan pertambangannya tetapi belum pernah tergarap sama sekali, membuat wanita ini ‘gregetan’ ingin segera menggarapnya dan menjadi primadona dalam mendongkrak PAD.

“Itu yang akan menjadi salah satu program dan tanggung jawab Basudhewa jika terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Pacitan 2016-2020. Meningkatkan PAD menjadi 1 Triliyun di tahun ketiga pemerintahan. Dari situ di Kabupaten Pacitan tidak akan ada lagi kemiskinan. Kesejahteraan masyarakat Pacitan akan lebih baik,” ucap Dhewanti.

Acara Tetaken
Sementara dalam rangkaian kerja sosialnya, Hj Sri Retno Dhwanti pada Rabu (28/10) mengikuti upacara adat Tetaken Gunung Limo, yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Tetaken Festival Gunung Limo (TFGL) diselenggarakan dengan mengangkat tema tradisi budaya Kampung Jawara. Konstelasi ritual Teteki (bertapa) tersebut secara lengkap biasa disebut dengan Tetaken.

Di lereng Gunung Limo pada tanggal 15 syuro dan pada tanggal tersebut terdapat tradisi ritual rutin tiap tahun yang disebut Tetaken.

Upacara adat Tetaken dilaksanakan dengan peningkatan kualitas tampilan tanpa mengurangi kesakralan dan keaslian tradisi yang sudah berlangsung turun-menurun.

Di kemudian hari Desa Mantren dikenal sebagai Kampung Teteki. Ritual Tetaken merupakan upacara “Bersih Desa” yang kini dijadikan agenda tahunan wisata budaya di daerah ini.
Saat itu Dhewanti berbaur dengan warga Pacitan khususnya warga Desa Mantren. Dia berjanji tradisi ini akan terus dipertahankan, membangun inftrastruktur di wilayah tersebut sehingga potensi wisatanya juga ikut terdongkrak.
(tim).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!