Close

SUNGALIAT,DOL Sidang perkara dugaan penggelapan dalam jabatan, dengan terdakwa Mawalia Alias Lia SE Binti Mudjiono AY (38), warga Jalan Bandeng, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Pangkal Balam, Pangkalpinang, Selasa (15/9/2015) pekan lalu kembali digelar, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Terdakwa Mawalia adalah mantan Branch Manejer (BM), Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN) Cabang Sungailiat. JPU Triman Santana SH, menjerat Terdakwa Mawalia dengan Pasal 49 Ayat (1) huruf (b) UURI Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Terdakwa Mawalia sendiri sudah ditahan sejak tanggal 6 Mei 2015 silam.Sepuluh orang saksi dihadirkan dimuka persidangan oleh JPU Triman Santana SH, dari Kejari Sungailiat.

Para saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU diantaranya adalah Hadiyana, selaku Pimpinan Wilayah BTPN Pangkalpinang, Tim Auditor Internal, Costumer Service (CS), Teller, dan sejumlah Debitur.Dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Hakim Ketua Qory Oktarina SH, dengan hakim anggota Qorpioner SH, dan Melda Lolyta Sihite SH.MH, para saksi-saksi tersebut memberikan keterangannya.Saksi dari Auditor Internal BTPN, membenarkan adanya temuan mereka berdasarkan hasil audit, ada 6 orang Debitur yang sudah setor pelunasan pinjaman/kreditnya, tapi laporannya tidak dimasukkan kedalam sistem yang ada di komputer.

“Awalnya saya mendapat telfon dari orang tak dikenal (OTD), dia minta agar BTPN Cabang Sungailiat diaudit, karena ada dugaan bahwa BM melakukan penyalahgunaan kewenangan. Setelah dapat informasi itu, kami langsung menggelar rapat internal, dan segera melakukan Audit. Dari hasil Audit tersebut, kami menemukan adanya kerugian keuangan sekitar Rp 1 milyar.

Di antaranya adalah uang pelunasan pinjaman utang atau kredit dari sejumlah Debitur, yang sudah diterima oleh BM (terdakwa), tapi laporannya tidak dimasukkan kedalam sistem (komputer). Selaku Auditor, kami juga sudah bertemu dan verifikasi 12 Debitur BTPN tersebut. Dan para Debitur mengakui bahwa mereka sudah melunasi pinjaman/kreditnya di BTPN Cabang Sungailiat, dan mereka ada bukti setornya,” urai salah satu saksi yang mengaku sebagai Auditor Internal BTPN, diruang Sidang II PN Sungailiat.

“Dan sampai hari ini perkara ini sudah disidang, tidak ada niat baik dari BM (terdakwa) untuk mengembalikan kerugian keuangan BTPN yang sudah dipakainya untuk keperluan pribadi. Total kerugian seluruhnya yang belum dikembalikan itu sebesar Rp 893 juta,” terang sang Auditor lagi.

Sementara saksi Costumer Service Teller (CST) dan Bagian Validasi BTPN Cabang Sungailiat, dihadapan majelis hakim mengaku sudah mengetahui ada yang tidak normal dalam sistem pelaporan pelunasan pinjaman/kredit para Debitur, yang kendali sistemnya ada pada terdakwa selaku BM. Saksi CST tersebut juga mengaku sudah sering mengingatkan terdakwa supaya segera memasukkan laporan setoran pelunasan pinjaman/kredit Debitur kedalam sistem komputer.

“Kami sudah lama curiga, ada yang tidak normal dalam sistem pelaporan pelunasan pinjaman/kredit para Debitur. Tapi kami tidak berani bertindak, takut dimarahi BM. Tapi kami sudah sering mengingatkan BM, supaya segera memasukkan laporan pelunasan pinjaman/kredit Debitur yang sudah melunasi pinjaman/kredit kedalam sistem. Tapi terdakwa selalu bilang, “iya, nanti saja”, urai saksi CST dan Bagian Validasi BTPN Cabang Sungailiat, seraya menirukan ucapan terdakwa (BM) tersebut.Keterangan para saksi-saksi tersebut dibenarkan oleh Hadiyana, Pimpinan Wilayah BTPN Pangkalpinang. Bahkan, Hadiyana jua lah yang melapor kasus dugaan penggelapan uang setoran para Debitur BTPN tersebut ke Polda Babel, beberapa bulan silam.

“Saya lah yang melaporkan BM ke Polda Babel, karena tidak ada niat baik BM untuk mengembalikan kerugian keuangan BTPN yang digunakannya untuk keperluan pribadi. Semua keterangan saksi-saksi yang ada ini benar semua Yang Mulia,” uangkap Hadiyana.

Informasi yang diterima wartawan media ini dari berbagai sumber yang akurat, bahwa Terdakwa Mawalia Alias Lia ini bekerja sebagai Branch Manager pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Sungailiat, sejak tanggal 13 Juli 2009, berdasarkan Surat Keputusan Direksi BTPN Nomor: 09230/SK/PJ/IX/2011 tanggal 01 Maret 2011, sampai dengan Oktober 2014, yang dalam kesehariannya tugas dan tanggung-jawab (BM) adalah memastikan operasional cabang berjalan lancar dan melakukan efisiensi terhadap aktifitas yang terjadi dilapangan mengelola dan menginterview dan memutuskan pengajuan kredit pinjaman yang diberikan kepada Debitur secara berkualitas dan menjalankan prinsip kehati-hatian.Bahwa sekira bulan Oktober 2013, ada Nasabah a/n Deddy Sairun Efendi, menyetorkan pelunasan kredit BTPN Cabang Sungailiat sebesar Rp 42 juta kepada Rora Ayu Suzen selaku Costomer Servis Teller (CST), namun limit setoran Rora Ayu Suzen hanya sebesar Rp 5.000.000, setoran Deddy Sairun Efendi memerlukan otorisasi dari terdakwa selaku BM, namun Lia tidak memberikan Password Overide kepada saksi Rora Ayu Suzen untuk mencatat pelunasan kedalam sistem.

Kemudian uang pelunasan diserahkan kepada Terisna Nuria Ayu selaku Branch Servise Manager (BSM), selanjutnya uang pelunasan tersebut diserahkan kepada terdakwa, dan Lia tidak setorkan ke Rekening Nasabah Deddy Sairun Efendi, melainkan digunakan terdakwa untuk mengangsur secara normal dan menutupi angsuran kredit nasabah lain yang sudah jatuh tempo.Sejak Oktober 2013 sampai dengan Oktober 2014, ada 12 nasabah yang sudah melakukan pelunasan kredit. Di Bank BTPN Sungailiat, antara lain: Kuswanto, Nurhayana, Eliza Mitsuka, Hamzah Has, Irianto, Martin, Suyanto, Iswadi, Kurniawansyah, Syaiful Nasir, Agus Hengki, dan Ishak Saman, dengan total uang pelunasan sebesar Rp 893 juta.Selanjutnya uang pelunasan kredit dari nasabah tersebut digunakan oleh terdakwa untuk membayar hutang-hutangnya kepada saksi Yuri Indarti sebesar Rp 39,14 juta, saksi Minah Irvita sebesar Rp 15 juta, saksi Ishak Halidi sebesar Rp 20 juta, dan untuk membayar kewajiban terdakwa bayarkan di Bank maupun pembiayaan lainnya.Selanjutnya, sekira tanggal 21 Oktober s/d 07 November 2014.

Tim Auditor Internal BTPN Pusat melakukan Audit terhadap Bank BTPN Cabang Sungailiat, dan ditemukan bahwa ada 10 Nasabah yang telah membayar uang pelunasan kredit namun ternyata uang tersebut tidak disetorkan dan tidak dicatatkan kedalam sistem, dan ada 2 orang nasabah yang sudah menunggak tapi jaminannya sudah dijual oleh terdakwa tanpa sepengetahuan nasabah dan uangnya tidak disetorkan ke Bank BTPN Cabang Sungailiat, dengan rincian sbb:1. Kuswanto, sudah melakukan pelunasan pada tgl 17 Oktober 2014 sebesar Rp 166.500.0002. Nurhayana, sudah membayar pelunasan tanggal 8 Oktober 2014 sebesar Rp 232.300.0003. Eliza Mitsuka, bayar lunas tgl 13 Mei 2014 sebesar Rp 152.000.0004. Hamzah Has, bayar lunas tgl 19 Mei 2014 sebesar Rp 70.000.0005. Irianto, bayar lunas tgl 24 Maret 2014 sebesar Rp 44.200.0006. Martin, bayar lunas tgl 8 April 2014 sebesar Rp 75.000.0007. Suyanto, bayar lunas tgl 03 Juli 2014 sebesar Rp 98 juta8. Iswadi, bayar lunas tgl 20 Maret 2014 sebesar Rp 51.370.0009. Kurniawansyah, bayar lunas tgl 16 Mei 2014 sebesar Rp 21.500.00010. Syaiful Nasir, bayar lunas tgl 20 jta11. Agus Hengki, setelah pencairan kredit tidak pernah mambayar angsuran, jaminannya dijual terdakwa seharga Rp 73 juta12. Ishak Saman, menunggak sejak Mei 2014, jaminannya sudah dijual terdakwa sebesar Rp 73 jutaBahwa setelah dilakukan Audit oleh Auditor Internal BTPN Pusat terhadap Bank BTPN Cabang Sungailiat, maka ditemukan jumlah kerugian atas pelunasan para nasabah dan debitur sejak Oktober 2013 s/d Oktober 2014 yang tidak disetorkan terdakwa adalah sebesar Rp 893.000.000Atas perbuatannya, terdakwa dijerat dengan pasal 49 Ayat (1) huruf (b) UURI Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, dengan ancaman hukuman lebih dari 5 tahun penjara. (ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll UpScroll Up
Share this product!