by

Kendati Darah Mengalir, Keiklasan Terjaga

joko bersama isteri dan anak-1
djoko Sudibyo bersama isteri dan anak

MEKKAH, DOL-Tragedi runtuhnya crane di Masjidil Haram, Sabtu (12/9/ 2015) sungguh sangat memiriskan hati. Seperti ada guntur menggelegar disertai jeritan tangis. Tiba-tiba mata ini menjadi gelap, tak tahan melihat ratusan jamaah bermandikan darah. “Astagfirullah Hal Adziem. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Tubuh saya gemetar,”

Begitu, terdengar suara lirih R Djoko Sudibyo, Ketua Umum Indonesia Crisis Center (ICC), yang saat itu berada di sekitar kejadian. Suaranya dari ujung telepon genggam masih terdengar lirih. Atmosfir suara bercampur dengan suara gaduh. “Ini suara tim penolong yang berbaur dengan jamaah yang berusaha menyelamatkan saudara-saudara kita,” ucap Joko Sudibyo yang dihubungi Deteksi beberapa saat setelah peristiwa terjadi.

Saat itu, katanya, usai shalat Magrib, Djoko Sudibyo keluar dari Masjid menuju tempat menginap bersama isteri dan seorang anaknya di hotel Al-Safwah Royale Orchid, sekitar 200 meter dari masjidil Haram. Belum sempat menjejakkan kaki di Hotel, Djoko Sudibyo mendengar suara berdentum keras. Suara jeritan dan suara-suara dengan bahasa yang tak dimengertinya.

Saat itu, sebelum suara dentuman yang ternyata suara dari jatuhnya crane, katanya, memang terjadi badai sangat kuat menerjang Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. “Baru suara tersebut terdengar,” katanya.

‘Saya tahu ini musibah. Sebuah cobaan. Saya lihat masih ada keiklasan di hati yang terpancar dari mata para jamaah,” katanya.

 443 total views,  1 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed